Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 14 Mini Tak Percaya


__ADS_3

Zion memandang wajah sang istri yang masih terlelap kemudian menyentuhkan bibirnya diatas daging kenyal yang sudah lama ingin ia nikmati itu. Lama ia melumattnya dengan penuh perasaan sampai Mini terbangun.


Gadis cantik itu merasa sangat kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat dihadapannya. Antara sadar dan tidak ia menyentuh wajah tampan suaminya yang begitu tak berjarak dengan wajahnya.


"Kak, apa aku sedang bermimpi?" tanyanya dengan suara yang sangat rendah bagai bisikan.


Zion Sakti tidak menjawab. Ia tidak mampu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi saat ini. Yang ia tahu ia sudah sangat menginginkan Mini untuk mengobati rasa dahaganya.


"Kak,.." ucapan Mini tidak bisa lagi ia lanjutkan karena sang suami sudah membungkam mulutnya dengan penuh perasaan. Mereka berdua akhirnya tidak perlu mengatakan apapun.


Bibir mereka saling bertaut begitu pun dengan lidah mereka di dalam sana. Mereka berdua saling memberi dan menerima dengan penuh kerinduan. Zion akhirnya melepaskan dirinya untuk menambah pasokan oksigen untuk paru-paru bagi mereka berdua. Pengantin baru itu saling menatap dengan penuh hasrat yang sudah semakin tersulut.


"Kak, apakah ini benar dirimu?" tanya gadis itu lagi karena dirinya belum juga percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan dengan pria yang amnesia ini. Seketika ia langsung memberontak dan berusaha melepaskan dirinya dari rengkuhan sang suami.


"Ada apa sayang?" tanya Zion dengan tatapan tanya. Ia begitu kaget karena istrinya malah ingin menghindarinya setelah apa yang baru saja mereka lakukan. Gadis itu bangun dan kemudian turun dari ranjang. Ia merapikan pakaiannya yang ternyata sudah sangat terbuka.


"Sayang, ada apa?" tanya Zion dengan wajah bingung. Ia pun ikut bangun dan turun dari tempat tidur. Ia meraih tangan istrinya itu tapi segera ditampik oleh Mini.


"Apa ini benar suamiku yang amnesia? Yang tidak mengenalku sama sekali?" tanya Mini dengan tatapan tajam pada pria tampan dihadapannya.


"Pernikahan kita tidak sah kak Yon!" lanjut gadis itu dengan dada turun naik menahan perasaan kesal dari dalam hatinya.


"Dan kamu tidak halal menyentuhku!" Pria itu mendekat kemudian meraih Mini kedalam pelukannya. Mini Geraldine memberontak tapi tangan besar suaminya sepertinya tidak ingin melepaskannya.


"Aku suamimu dan aku berhak melakukan apa saja denganmu sayang," ujar Zion seraya mencium wajah sang istri dengan penuh perasaan.


"Tidak kak. Kamu bukan Kak Iyon yang aku kenal. Dan kamu ingin menyentuhku karena apa? Kamu tidak mengenalku dan mengganggap aku orang lain!" Mini terus berusaha melepaskan dirinya tapi ia tetap tidak bisa lepas.


"Pria amnesia tidak sah pernikahannya kak. Karena ia mengucapkan ijab kabul dalam keadaan tidak sadar. Dan kita telah melakukannya hiks. Sekarang lepaskan aku," ujar gadis itu lagi dengan tangis sesenggukan.


Rupanya semalam ia telah membaca sebuah artikel di dalam mesin pencarian kalau pria amnesia jika melakukan pernikahan maka pernikahan itu tidaklah sah dimata agama.


"Mini sayang, aku beneran Zion Sakti suamimu yang mencintaimu," ujar pria itu seraya membingkai wajah Mini dengan kedua telapak tangannya.


"Aku tidak percaya kak. Kamu hanya ingin menyentuhku untuk menggugurkan kewajibanmu sebagi suami. Padahal apa? Kita melakukan dosa besar. Kita berzina kak. Kita tidak boleh melakukan hal ini." Mini menatap mata hitam suaminya itu kemudian berhasil melepaskan dirinya. Ia berniat pergi dari kamar itu karena merasa takut berdua dengan seorang pria yang tidak sah menjadi menjadi suaminya.


"Mini Geraldine binti Abdul Qodir!" teriak Zion menggelar. Langkah gadis itu langsung terhenti di depan pintu. Ternyata ia takut juga mendengar suara pria asing yang dicintainya itu. Ia pun memutar tubuhnya dan menghadap pria yang sedang menatapnya dengan tatapan berkilat itu.


"Kamu meragukan aku Min? Kalau begitu mari aku ingatkan kenapa kita bisa sampai dinikahkan!"


Flash back on ( Adegan ini ada di salah satu bab Pengasuh Centil. Sengaja author tampilkan agar pembaca yang belum sempat membaca kisah mereka sebelumnya tidak bingung akan latar belakang hubungan Mini dan juga Zion.

__ADS_1


"Kak, ini tempat kost untuk Putri. Mami pasti akan marah kalau lihat kakak masuk ke kamar aku. Sudah turunkan aku Kak." Mini terus memberontak takut. Peraturan di tempat kost itu sudah sangat jelas. Tak boleh ada laki-laki yang memasuki area kamar.


"Gak apa-apa. Ini kan Rumah aku Min. Lagipula kamu juga gak bisa jalan 'kan? Sekarang tunjukkan yang mana kamarmu!"


"Nomor 5 kak."


"Kuncinya?"


"Ada di sini kak," Mini memperlihatkan tas tangannya kalau kunci itu ada didalam sana.


"Sekarang kamu buka sendiri ya," ujar pria itu saat mereka sudah sampai di depan kamar Mini. Rumah kost itu tampak sangat sepi. Mungkin semua penghuni kamar sedang berada di dalam kamar masing-masing atau bagaimana.


Ceklek.


Pintu pun terbuka. Dan Zion pun melangkahkan kakinya ke dalam kamar itu dan meletakan gadis itu dengan pelan ke atas ranjangnya.


"Makasih banyak Kak," ucap Mini dengan pipi menghangat. Perasaan bahagia seakan meluap keluar ke wajahnya.


"Iya sama-sama. Lain kali hati-hati kalau pakai heelsnya. Kasihan kan kakimu jadi bengkak kayak gini." Zion duduk di atas ranjang gadis itu kemudian membuka sepatu yang digunakan oleh Mini.


"Kak, gak perlu. Maaf. Kakak keluar saja. Aku takut kak." Mini menarik kakinya agar tidak disentuh oleh pria itu. Tapi tangan Zion langsung menariknya ke atas pangkuannya.


"Kak jangan."


Kletak


"Aaaaakh, sakit kak." Mini berteriak tertahan saat merasakan tangan pria itu memutar persendiannya.


"Aaawwwww, sakit Kak."


"Gak apa-apa bentar lagi nyaman kok." Zion mengelus lembut kaki putih dan mulus itu dengan pikiran yang tiba-tiba mulai bercabang.


Mini yang meringis dan sedang menutup matanya itu entah kenapa begitu sangat cantik dan menarik dimatanya.


Ternyata gadis ini cantik juga. Ucapnya dalam hati. Tanpa sadar ia tersenyum samar. Ia menyesali dirinya yang terlalu terobsesi pada Jovanka padahal ada gadis cantik yang sudah menyatakan perasaannya padanya.


"Gimana? Masih sakit gak?" tanyanya pada Mini yang masih setia menutup matanya.


"Masih Kak. Tapi udah agak baikan." Mini menjawab dengan senyum malu-malu diwajahnya.


"Coba gerakkan. Kalau masih sakit bilang ya." Mini mengangguk dan mulai mengangkat kakinya dan menggerakkannya pelan.

__ADS_1


"Awwwwww, masih sakit kak." Mini kembali meringis. Sedangkan Zion dengan cepat meraih kembali kaki yang sangat menarik dimatanya itu dan mengurutnya pelan.


"Aaaargh ishhh." Mini kembali mendesis. Dan berhasil membuat seseorang didepan kamarnya itu mengepalkan tangannya marah. Ia yakin sedang terjadi sesuatu yang buruk di dalam kamar kost anak semangnya.


Brakk!


Perempuan cantik berusia 45 tahun itu langsung mendorong pintu kamar Mini dengan emosi diwajahnya.


"Mini!"


"Mami!"


"Mama!"


Ketiga orang itu saling berpandangan dengan ekspresi yang sama-sama kaget.


"Zion?!"


"Mama?!"


"Mami?!'


Kembali ketiga orang itu saling mengucapkan nama masing-masing. Sampai akhirnya Mami Rossy yang langsung menarik kuping putranya dengan keras.


"Apa yang kamu lakukan di sini Yon?' tanyanya dengan tatapan tajam pada posisi kaki telanjang Mini di atas pangkuan putranya.


"Aku cuma membantu Mini Mam," jawab Zion dengan wajah meringis.


"Membantu apa hah?"


"Kamu mempermalukan Mama dengan melanggar peraturan di tempat kost ini!"


"Dan kamu Mini. Kamu sudah tahu aturannya kan?!"


"Mereka harus dinikahkan Mi!" Beberapa suara dari arah pintu kamar kost itu membuat suasana menjadi semakin heboh.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2