
Agus masih termenung, bingung dengan alasan apa dia meminta kembali uang yang sudah ia berikan kepada Ima. kalo saja ia masih punya pegangan, mungkin ia gak akan minta lagi duitnya, tapi duit Agus di dompet hanya tersisa sedikit, itu pun untuk bekal Sehari-hari.
" Kamu belum pulang gus? " tiba-tiba bu Asih masuk ke ruang tamu dan heran melihat Agus masih ada di sana sambil tiduran di sopa.
Agus hanya melirik ibunya, tapi gak menjawab sepatah kata pun.
Bu Asih menggedikan bahunya lalu ngeloyor pergi.
Agus masih memijit keningnya, lalu bangun, tujuan nya mau ke rumah nya sendiri yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan karena ikut tinggal di rumah istrinya.
Ceklek
Pintu terbuka. *hupz* menarik napas dan menghembuskan seakan melepaskan beban yang selama ini membebani hidupnya. Agus menghempaskan tubuh nya di kursi, tak peduli dengan apa pun dia ingin merehatkan pikiran dengan memejamkan matanya, yang tak lama terdengar dengkuran nya.
Bu Asih yang melihat pintu rumah Agus terbuka hanya menggeleng kan kepala, kemudian dia menghampiri bermaksud untuk membangun kan anak sulung nya karena ia tahu, kebiasaan Agus, anaknya pasti ketiduran.
"Gus, kamu gak pulang ? bangun ini sudah sore! " bu Asih mengguncang guncangkan kaki Agus.
Agus yang merasa tidurnya terusik megucek matanya. perlahan.
"Jam berapa bu? " tanya nya sambil duduk.
" Sudah mau maghrib, kamu gak pulang? " tanya nya kemudian, lalu ia mencari saklar lampu, dan menghidupkan nya.
" Aku bingung bu, masalah uang itu, gimana kalo ibu menjual dulu perhiasan, nanti kalo Agus sudah gajian Agus ganti, " Ucap Agus.
"Enak aja, pokoknya ibu gak mau tahunya, uang itu harus sudah ada, " bu Asih memelototkan matanya, " kalo kamu gak mau minta sama istrimu biar besok ibu yang kesana bicara sama istrimu! "
"Eh, jangan bu! biar aku saja. " Agus cepat mencegah ibunya, kalo ibunya nekad kesana dan meminta uang tersebut ke Ima yang ada urusannya tambah runyam.
"Baiklah, jangan lupa lebihkan buat ibu beli baju, malu atuh kalo make baju yang lama. " ujarnya lalu nyelonong pergi tanpa permisi.
Agus hanya menggeleng kan kepala sambil berdecak.Agus pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menjalankan ibadah 3 rakaatnya. setelah itu siap siap untuk pulang.
Sementara Ima dan kedua anaknya saat itu sedang di dapur menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"gak papa kan makannya seadanya. " Ucap Ima, yang malam ini hanya memasak tumis kangkung dan tempe goreng, juga telor ceplok.
"Iya Ga papa ma, ini juga cukup, " Ucap Raka lalu mereka makan tanpa menunggu ayah nya, karena pulang ny gak menentu, bahkan kadang gak pulang ke sini.
Setelah selesai makan,mereka membereskan bekas makannya tak lupa mencuci piring. lalu kembali ke ruang TV. Raka dan Rey mengerjakan tugas sekolahnya di bantu mama nya. ketika sedang asik, sebuah motor masuk ke halaman rumah.
" Ma, itu ayah pulang. " Ucap Raka, dan benar saja tak lama Agus mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam! " jawabnya serempak lalu bergantian menyalami ayahnya.
"Sudah makan yah? " tanya Ima, ia memanggilnya ayah kalo sedang di depan anak anaknya, tapi kalo sedang berdua ia memanggik suaminya A'a.
"Belum! " jawab Agus, "Nantilah masih capek, minta kopi aja! " lanjutnya kemudian memperhatikan Reina yang masih mengerjakan PR nya sementara Raka sudah selesai dan sedang maen game di hpnya.
Reina, menanyakan soal pelajaran yang belum di pahami Agus dengan sabar membantu menjelaskan sampai Reina benar benar ngerti. Ima yang melihat itu tersenyum.
Setelah semua beres, Reina pergi ke kamarnya untuk tidur, biar besok bangun nggak kesiangan.
"Aku mau bicara, ma! " Agus menyuruh Ima untuk duduk di sebelah nya.
" Eu....Uang yang kemarin apa masih ada? " walau dengan ragu akhirnya kata itu terucap juga.
"Memang nya kenapa? jangan bilang mau di minta lagi. " Ucap nya ketus.
" Bukan begitu, aku mau pinjam dulu, nanti kalo sudah ada ku ganti! " Ucap Agus.
"Ah basi! memang nya untuk apa? " tanya nya lagi.
Akhirnya Agus menceritakan tentang lintang yang akan di wisuda dan membutuhkan biaya dan semacam nya.
" Aku mohon ma, aku bingung harus gimana lagi, " Agus memohon sama Ima supaya memberikan uangnya lagi dengan alasan pinjam.
"Aku tuh cuma heran aja sih, A! sama ibumu, tiap bulan kamu sudah ngasih jatah bulanan, bahkan jauh lebih besar dari yang kau berikan untuk anak anakmu, si Lintang juga uang semester nya kamu yang bayar belum uang sakunya, masih kamu yang nanggung, lalu uang ibumu di kemanain? masa giliran ini juga kamu semua yang nanggung? " Ima ngerasa dongkol. " kalo begini terus, kamu kapan kaya nya?"
"Ini yang terakhir, sete---"
__ADS_1
" Halah... basi tau! dulu juga waktu Alana begitu, kamu bilang terakhir, nyata nya mana? lahiran aja kamu yang bayarin, suaminya anteng aja,keenakan gak mikirin.
Kamu tuh pilih kasih tauk gak A, demi keluargamu bahkan kamu telah mengabaikan aku, " Ima memotong ucapan Agus, lalu ia bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar.
Agus diam, dalam hatinya ia membenarkan semua ucapan istrinya, bahkan demi tanggung jawab nya terhadap keluarga nya ia telah mengabaikan istri dan kedua anaknya.
Ima yang berada di kamar, belum juga hilang rasa kesal dan jengkel nya terhadap mertuanya, yang selalu membebankan semua pada Agus, tak peduli istrinya ridho atau nggak, ia jadi ingat pas masih satu rumah dengan mertuanya tiap hari Ima belanja untuk semua keperluan keluarga Agus,termasuk sabun dan keperluan Alana dan Lintang.
Sedang giliran panen atau menjual dari hasil kebon boro boro memberi, ngasih lihat atau megang juga kagak.
Agus sama aja, waktu kerja di luar pulau, ngirim duit bukannya untuk keperluan anak istri malah, habis buat ibu dan adiknya.
Ya Ima masih inget dan bahkan tak akan lupa sepanjang hidupnya.
Malam itu Raka panas bahkan sampai kejang dan harus di bawa ke dokter, tapi Ima hanya megang uang 200rb saja, minjem sama ibu nya Agus gak ngasih alasannya gak punya duit, padahal kemarinnya baru menjual kayu dengan harga yang tinggi.
Malam itu karena khawatir melihat keadaan Raka,Ima nekad minta di antar ke RS lalu meminta tolong tetangganya untuk memberi tahu kan orang tuanya yang ada di kota sebelah.
10 menit saja terlambat, gak tau apa yang bakal terjadi pada Raka, dan sejak kejadian itu, Ima mencoba mencari cara untuk mendapatkan penghasilan sendiri. bahkan ia tak malu menjajakan dagangan dengan berkeliling. sejak saat itu IQLIMA KHAIRUNISA si gadis tomboy dan manja berubah total menjadi pribadi yang mandiri.
Ima ketiduran sampai gak inget jam berapa suaminya masuk kamar.
Esoknya setelah semua sarapan, Agus menanyakan kembali uang nya.
"Aku janji bakal ganti ma,! Ucap nya memelas.
Ima yang memang dasarnya gak tegaan, se-marah dan se-kesel apa pun akhirnya mengambil uang di laci lemari lalu memberikannya pada Agus.
" Lain kali kalo mau ngasih, pastiin dulu tuh uangnya gak bakal di minta lagi, ini kesannya jadi PHP tahu! "
"Iya mama sayang! makasih ya! " ucapnya sambil tersenyum lalu memeluk Ima dan menciumi seluruh wajah Ima.
"Udah ah gak usah merayu! " Ima mendorong tubuh suaminya lalu ke luar kamar di ikuti Agus yang akan pergi kerja.
Setelah Agus berangkat tak lama Linda dan kedua temannya datang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setiap orang pernah terluka berhenti fokus pada sakitnya. fokuslah pada apa yang dapat di pelajari untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.