
"Maksudmu?" Ima bingung dengan apa yang di katakan Linda barusan.
"Ah sudahlah, nanti juga kamu tahu sendiri." Ucap Linda lalu melanjutkan pekerjaannya yang saat ini mereka sedang membuat aneka macam sistik.
Dan sistik daun singkong menjadi olahan istimewa karena gak ada yang membuat selain buatan Ima. SIDASI snack banyak yang mencari, hingga makanan kering tersebut menjadi andalan Ima yang setiap 2x seminggu mereka membuat makanan tersebut untuk di pasarkan. bahkan tak jarang yang langsung datang ke tempat Ima untuk membeli sistik tersebut.
"Nay, coba kamu lihat apa udah siap untuk di kemas, soalnya orang yang pesen sebentar lagi kesini! " Ima menyuruh Inayah untuk mengeceknya, yang di iyakan langsung oleh Inayah. "jangan lupa kemas yang seperempat nya masukin di dus berbeda! " suruhnya lagi.
Mereka terus bekerja sampai semua adonan selesai di masak dan di kemas.
Tak lama ada sebuah mobil berhenti di depan rumah, dan turun 2 orang kemudian mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam, " jawab Ima, "dengan siapa ya?" tanya Ima kemudian.
"Rosa, yang nelpon tadi, " jawabnya sambil menyodorkan tangan mengajak salaman, Ima dan yang lain menyambut nya.
"Ooh, kalo begitu silahkan masuk, tapi maaf masih berantakan maklum baru selesai, belum sempat beres beres. " jawab Ima sambil membuka lebar pintunya, supaya tamu bisa masuk.
"Ngga papa bu, saya hanya mengambil pesanan saja koq, soalnya saya tadi ke pasar mau beli sistik buatan ibu tapi kehabisan katanya belum di kirim lagi. " ucap Rosa sambil tersenyum manis, " soalnya saya butuhnya banyak bu, buat di jual lagi, makanya minta kemasan yg se perempat. " lanjutnya.
" Oh ya ini udah saya siapin, " Ima menunjuk beberapa dus yang berjejer di dekat pintu.
"Jadi totalnya berapa, bu? " tanya Rosa.
Ima menghitung kemudian menyebutkan harga totalnya, setelah pembayaran selesai kemudian mengangkut nya untuk di masukin ke dalam mobil.
"Dua minggu sekali aku ngambil ke sini langsung ya, bu,permisi assalamu'alaikum." Ucap Rosa sambil menjabat tangan Ima dan yang lainnya.
"Iya makasih, waalaikumsalam." jawab mereka serempak lalu masuk kembali setelah tamu tersebut pergi.
"Alhamdulilah, kita punya langganan baru, semoga usaha kita semakin berkah, " Ima menengadahkan kedua tangannya sambil berucap syukur yang di aminkan oleh semuanya.
Setelah semua pekerjaan selesai, Linda dan Inayah bersiap untuk mengantarkan sistik ke pedagang yang biasa ia titipkan makanan di pasar, sementara Euis kebagian ke warung warung.
__ADS_1
Begitulah kegiatan mereka yang di lakukan setiap hari nya. walaupun setiap hari yang di buat berbeda, tapi sudah ada dalam daptar harian. hari ini bikin ini besok itu dan seterusnya selama 4 hari senin sampai kamis kecuali jika ada pesanan khusus mereka harus siap walau hari minggu sekalipun.
Perlahan usaha Ima kembali berkembang.
...----------------...
Jam 5 sore sudah jadi kebiasaan Ima duduk di teras samping menikmati senja sambil minum teh hangat, tak lama Rey menghampiri dan duduk di sebelah nya.
"Ma, ayah belum pulang ya?" tanya nya.
"Katanya mau mampir ke rumah nenek, " jawab Ima sambil melirik anaknya sekilas, memangnya ada apa? " tanya nya, lalu meminum teh.
"Heemmm... itu, " Reyna menatap mama nya ragu, sambil menggaruk kepalanya.
Ima menggeser duduknya jadi berhadapan lalu menatap Reyna. "Mau cerita sekarang apa nanti, " Ucapnya sambil tersenyum.
Reyna tiba-tiba menangis, " Adek, mens, " lirih Reyna.
"Trus kalo adek mens memang nya kenapa?" Ima kembali bertanya sambil tersenyum lembut, "itu artinya adek udah baligh. " lanjut nya, "gini ya..." memegang kedua tangan Reyna.
"Intinya, adek harus lebih menjaga diri, adek tahu kan apa yang sering mama bilang, hem---! " lanjut Ima, Reyna mengangguk mengerti kemudian memeluk mama nya.
"Makasih ma, adek jadi tenang, " mengecup kedua pipi mama nya.
"Uluh-uluh anak mama udah gede ternyata, " Ima balas meng uyel-uyel pipi anaknya, membuat Reyna cemberut tapi kemudian tertawa bersama.
"Udah ah yuk masuk! bentar lagi maghrib, " ajaknya, kemudian mereka masuk rumah, Reyna duduk di depan TV sementara Ima menyimpan gelas bekas dia minum ke dapur.
Jam 8 malam Agus baru pulang kemudian menghempaskan tubuhnya di sopa ruang keluarga.
Ima menyodorkan teh hangat, lalu duduk di sebelah nya. "keliatan nya capek banget, " ucapnya sambil memijat lengan suaminya pelan.
Agus menarik napas kemudian menghembuskan nya sambil mendongakkan wajah menatap langit langit. kemudian melirik Ima.
"Maafkan aku ma, " ucapnya lalu kembali menatap langit langit, "anak anak mana? " tanya nya kemudian.
__ADS_1
"Di kamarnya lagi belajar, ada apa? " Ima memandang suaminya.
"Aku minta maaf, aku banyak salah sama kamu, " Agus menurunkan tubuhnya kemudian kepalanya ia turunkan ke pangkuan Ima, Agus menangis sambil terus minta maaf, Ima yang tak mengerti apa apa hanya bengong menatap suaminya, tak urung tangannya mengusap lembut kepala Agus. ia tidak bertanya lagi, hanya menunggu Agus untuk bercerita.
"Sudah makan? " tanya nya setelah lama mereka diam, hanya tangan Ima yang terus mengusap kepala Agus dengan sedikit pijatan di bahu dan tengkuk, supaya lebih rileks. Agus menggeleng.
"Ya sudah aku siapkan makan dulu, " Ima bangkit dari kursinya.
"Aku gak napsu makan, " ucap Agus.
"Harus makan dulu pokoknya, inget nangis juga butuh energi, " Ima menghentikan langkahnya sejenak menatap Agus lalu pergi ke dapur. setelah siap ia memanggil Agus.
"Aku bersih bersih dulu, " Agus beranjak ke kamar di ikuti Ima, yang mau mengambil baju ganti di lemari untuk Agus, soalnya kalo di biarin ngambil sendiri yang ada itu pakaian di lemari jadi Acak-acakan.
Agus dengan malas menyuapkan makanan ke mulutnya sementara Ima duduk di depannya menemani, tanpa bicara sepatahpun memberi kesempatan untuk suaminya menghabiskan makannya terlebih dulu.
Selesai makan mereka kembali ke ruang keluarga.
"Tadi jadi ke rumah ibu? " tanya Ima, Agus mengangguk lesu, "trus? "
"Alana pulang, " jawab Agus singkat.
"Ooh, Alana juga di panggil toh, " ucap Ima, "sebenarnya ada apa, apa masalah lintang? " Ima menatap Agus heran.
"Maksudku, Alana pulang bawa Anak-anak, Gilang ketahuan selingkuh, " Agus mengambil sebatang rokok terus menyalakan rokoknya menghisap lalu menghembuskan asapnya kasar seakan melepaskan beban berat.
"Apa? jadi beneran filling aku, dasar lelaki sama aja, liat rumput tetangga hijau, langsung mata melotot napsu, sama seperti kamu!" omel Ima sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu kira suami mu kambing, doyan makan rumput, " Agus menyentak kesal.
"Lebih malah, kamu tuh lalat doyannya sama sampah, " balas Ima, kemudian pergi.
BRAK
Pintu kamar di bantingnya sampai Agus terlonjak kaget.
__ADS_1
'Lah kenapa jadi dia yang marah, ' umpat nya.