IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 53


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Waktu menunjukkan hampir jam 10 malam, ketika Ima selesai membereskan semua dan mengunci pintu dan jendela, tak lupa ia juga meminjamkan piyama tidur yang panjang buat Inayah, setelah semua beres ia pun menyuruh Inayah untuk segera beristirahat di kamar tamu.


"Tapi, teh! bukannya tadi teteh mau mendengar cerita aku tentang---?" Ucap Inayah seakan mengingat kan tujuannya dia menginap.


"Sudah, lupakan saja, gak penting juga kan aku harus tahu, sekarang istirahat lah, biar besok gak kesiangan," Ima tersenyum kemudian ia masuk kamar, sedangkan Inayah hanya menganggukkan kepala dan masuk ke kamar tamu.


Sesampainya di kamar, Ina membaringkan tubuhnya di ranjang, 'gak penting juga kan aku harus tahu, alasan kamu ninggalin aku, A. a, kalo semua itu sudah jadi keputusan mu.'


seperti itulah pikiran Ima, kenapa ia membatalkan untuk mendengar cerita ada apa di balik kepergian Agus waktu itu.


Subuh Ima sudah terbangun, setelah mengambil wudhu ia pun menjalankan ibadah 2 rakaatnya, dan karena semalam ia tidur agak larut maka sekarang ia memutuskan untuk kembali tidur.


Namun baru saja ia membaringkan tubuhnya, hape nya sudah berdering tanda ada panggilan masuk. Nama juned tetera di daptar panggilan.


"Ya hallo, ada apa, Jun?" Ima menempel kan HP ke telinga.


"Maaf Ima, aku gangguin kamu, ggak?"


"Emangnya ada apa?"


"Hari ini aku mendadak di tugaskan ke luar kota selama tiga hari, eeuumm... jadi aku mau minta tolong!" suara juna terdengar ragu.


"Katakan saja, jangan ragu kalo aku bisa aku pasti tolongin lah!" sahut ini.


"Gini Ima, kalo aku nitip Kevin, kamu gak keberatan ngak, maksudku gak ganggu."


"Oh.. ya udah kamu anterin aja ke sini, gak papa,"


"Oke, aku kesana sekarang, makasih ya im, udah mau di repotin."


"Ist, kayak sama siapa aja, ya udah yu, waalaikumsalam."


Setelah meletakkan kembali HP nyaIma bangun lalu membereskan tempat tidurnya, tak lama terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


Tok

__ADS_1


Tok


Inayah yang baruk keluar dari kamar langsung menuju pintu dan membuka nya.


Cek lek


"Pak Juna, ada apa pagi sekali ke sini?" tanya Inayah heran apalagi dengan tas bawaannya dan Kevin yang ada di samping papa nya.


"Iya, nay, Ima ada?" Ucap Juna sambil melongokan wajahnya ke dalam.


"Masuk saja, Jun!" Ima menghampiri Juna yang masih berdiri di depan pintu.


"Iya, Im, aku langsung berangkat aja, takut ketinggalan pesawat, ini aja aku nganterin Kevin, maaf ya udah ngerepotin, Juna membawa tas yang dari tadi di jinjing nya ke dalam, " Ini baju baju ganti kevin."


"Ya udah taruh aja dulu di situ, nanti aku taruh di kamar, ayo Vin, masuk, loh koq udah pake seragam aja masih pagi gini," ucap ina sambil menatap kevin.


"Iya, Kevin mau sekalian berangkat bareng sama aku," Juna tersenyum sambil mengalihkan tatapannya ke Kevin.


"Jangan ngaco! Jam segini gerbang belum buka, Li suruh anakmu gantiin satpam, Kevin biar nanti aja bareng Raka sama Reyna, kalo kamu berangkat ya berangkat aja!" Ima memegang tangan Kevin lalu menyuruhnya masuk.


"Makin ngerepotin aja, Ima, btw makasih ya, kalo gitu aku berangkat dulu," Juna mengulurkan tangannya untuk di salamin Kevin, lalu ke Ima sambil tersenyum jahil, "Salim sama calon suami," ucap nya sambil terkekeh, sedang Ima menepis kan tangan Juna, muka nya merona apalagi di sana ada Kevin dan Inayah yang sedang tersenyum.


"Ish, apa apaan sih." Ima mengerucut kan bibirnya.


Setelah sarapan Raka Reyna dan Kevin berangkat sekolah diantar mang Rusli, tak lama kemudian Linda dan yang lainnya pada datang, mereka pun mulai sibuk dengan tugas masing-masing.


"Kenapa anak tiri lo, pagi sekali udah di sini, apa nginep?" Linda yang penasaran langsung melayang kan pertanyaannya saat mereka sudah bersantai.


"Juna pergi ke luar kota, jadi dia nitipin ke sini, kasian kalo di rumahnya gak ada yang menemani, lagian juna perginya sampai tiga hari, ya udah selama papa nya pergi ia nginep disini," Ucap Ima kemudian minum air teh yang masih tersisa di meja.


"Makanya, kalo emang kasian tuh jangan tanggung tanggung,"


"Maksudnya?"


"Lo adopsi aja sekalian sama bapaknya, biar si kevin punya emak lagi trus bapak nya punya bini," Ucap Linda sambil terkekeh yang di tonjok sama Ima. "lo seneng banget KDRT, heran," lanjut nya.


"Ngomong tuh pake filter,"


"Di mana-mana ngomong mah pake mulut, Iqlima. gue serius, Im," Linda menggeser duduknya jadi berhadapan dengan Ima, "Kenapa kamu gak mencoba membuka hati buat Juna, lihat aku, bahkan sudah 3 X aku menikah, demi kebaikan semuanya, Kevin ada yang merhatiin seorang pengganti ibu nya, Raka dan Reyna juga jadi punya sosok bapak, dan terutama lo, ada suami yang bisa menjaga kalian, intinya saling melengkapi lah,"

__ADS_1


"Entahlah, lin, aku gak mikir sampai situ," Ima termenung.


"Mulai saat ini, lo harus pikirin, aku sudah capek belain kamu," ucapan Linda membuat Ima kaget.


"Belain apa, Lin?"


"Kamu sudah saatnya tahu, orang-orang tuh suka ngomongin kamu yang janda, apalagi kalo ada pria yang nongkrong di sini, tahu gak apa mereka bilang? lo tuh calon pelakor, janda yang meresahkan, kamu inget gak kenapa aku sampai gelut sama si julia, dia tuh nuduh kamu yang gusir si Agus, aku gak Terima jadi aku jenggut aja tuh rambutnya dan ku tabok mulut nya, biar dia kapok,"


"Ya Alloh, Lin, sampe segitunya, koq julia sampai punya pikiran gitu ya,"


"Gitu lah, emang mulut dia busuk, dia makin kalap liat usaha lo makin maju, dan sebaiknya mulai sekarang lo pikirin deh untuk nikah lagi, biar gak ada mulut yang nyinyir, kurasa Juna lebih cocok buat kamu, dia sudah gak punya orang tua jadi lo aman, gak bakal ada persaingan dengan mama mertua, kalo sama ipar lo tahu sendiri Anna orangnya baik dan sholehah, lagian dia gak ada di kampung ini, jadi lo aman, oke bestie... Juna kandidat terbaik," Linda bangkit, "Saatnya perang sama panci dan mikser," Linda menepuk bahu Ima, "pikirkan lagi tentang ucapan ku, baik baik sama Kevin, biar lo gak kayak di sinetron ikan terbang, sosok tante jahat calon mama tiriku," Linda lari ngibrit ketika Ima mencopot sendalnya.


Sepeninggal Linda, Ima duduk termenung di gazebo, memikirkan semua yang Linda ucap kan, 'Apa aku harus nerima juna? tapi... '


pikiran Ima terus berkelana dari sikap juna terus ke Agus.


"Haist, ngapain juga aku mikirin Agus, dia juga belum tentu mikirin aku," ia terus bicara sendiri sampe di kejutkan dengan kedatangan bu RT.


"Eh, bu RT, maaf aku gak lihat, ada apa ya bu?" Ima tergagap saking kagetnta ketika bu RT nepuk bahunya.


"Bu Ima anteng banget, ngelamunin apa?" bu RT tersenyum.


"Ah, eng.. engga kok bu, tadi tuh aku cuma mikir gimana caranya biar toko ku ini bisa buka cabang," sahut Ima asal.


"Waah, kebetulan bu Ima, itu deket pasar ada kios yang mau di sewakan, kalo bu Ima minat bisa saya antar,"


"Makasih bu, tapi nggak sekarang sekarang bu, modalnya belum terkumpul," Ima mengusap ngusap pungguk nya tersenyum kecut.


"Oohh, ya udah kalo gitu, nanti kalo sudah ada modal banyak tinggal hubungi aku saja, bu Ima, kebetulan itu kios punya sodara,"


"Iya bu, gampang lah kalo ada duit mah."


"Bu Ima, bukannya tiap bulan pak Agus transper uang ya, buat Raka dan Reyna,"


"Iya bu, ibu tahu darimana?"


"Aku kan sering ketemu sama bu Asih, katanya uang Agus tuh tiap bulan di kirim buat anaknya, jadi Agus cuma ngasih sedikit aja buat bu Asih, katanya 10jt sebulannya di kirim ke sini, apa bener?"


Ima kaget mendengar penuturan bu RT, tentang bu Asih yang mengatakan bahwa Agus mengirimkan uangnya sebesar itu, padahal Agus cuma ngirim 3j sebulannya.

__ADS_1


---


INI SIAPA YANG BENAR SIH, AH BINGUNG


__ADS_2