
Dret
Dreet
HP Ima bergetar tanda ada pesan masuk.
[ Nanti sore kita kerumah ibu ] Agus
[ Ngapain? Nyuruh kamu aja mungkin ]
[ Semua kita semua aku kamu dan anak-anak ]
[Tumben ]
[ Iya, siap aja, sepulang kerja, aku jemput! ]
[ Iya. ]
Ima berpikir, *tumben ada apa ya, biasanya juga yang di panggil anaknya doang. *
Sekitar jam 5 lebih, Agus datang, " loh koq belum pada siap? " Ucap nya heran.
"Sebenarnya ada apa sih yah, tumben. biasa nya juga kamu doang yang harus datang, " Ima masih aja heran dengan keinginan mertuanya.
" Kalo belum ke sana mana bakal tahu mau apa, ayok siap siap aja keburu maghrib! " Ucap nya lagi.
"Oh iya, " Ima cengengesan, "Sekarang ya? " tanyanya.
"Nggak, tahun depan!" Agus terlihat jengkel, " Ya sekarang lah, cepatlah jangan banyak tanya dulu! "
"Biasa we atuh jawabnya, mani nge gas kitu. " Ucap Ima sambil pergi ke kamar buat berganti baju sementara Agus mengepalkan tangannya gaya getok kepala.
Selama di perjalanan Agus dan Ima tak banyak bicara, hanya Reina yang bercerita, bahwa tadi di sekolah kedatangan guru baru yang cantik dan baik, katanya.
Tak terasa mobil yang di kemudikan Agus masuk ke halaman Rumah bu Asih di halaman rumah juga terlihat ada mobil Alana, yang menandakan mereka sudah nyampe duluan.
"Ada Rengga juga ya ma? " Ucap Reyna malas.
" Iya, kenapa memang? " tanya Ima heran, sambil melihat Reina yang terlihat malas.
Akhirnya mereka turun.
"Assalamu'alaikum! " Agus mengucapkan salam
" Waalaikumsalam, " Alana menjawab salam sambil membukakan pintu. Ia menyalami kakak nya Agus lalu cipika cipika dengan Ima.
"Apa khabar teh, sehat? " Ucap Alana.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu gimana sehat, Rengga mana? " jawab Ima sambil menanyakan keponakannya. yang tak lama muncul langsung berteriak girang.
" Teh Ena.. ... aga punya itan ngap ngap! " serunya girang.
"Apanya yang ngap ngap? " sahut Reina heran.
" Itu, itannya ngap ngap, " sambil memperagakan ikan yang lagi bernapas, sontak membuat kami tertawa, sedang Rengga tersenyum malu sambil narik tangan tetehnya untuk melihat ikan.
Kami menyalami semua yang ada di ruang keluarga. sedang Alana dan Lintang membuatkan kami minuman.
" Kamu, apa khabar Im? " bu Asih menanyakan kabar Ima yang memang setelah memutuskan untuk tinggal di kampung nya baru kali ini mengunjungi rumah mertuanya, "betah ya di sana sampai nggak ingat nengokin ibu mertua mu ini. " lanjutnya dengan wajah sedih, ntah beneran sedih lama gak bertemu dengan menantu entah hanya akting.
#Sok su'udzon
"Alhamdulillah baik bu, " Ucap ima sambil tersenyum, " namanya tinggal di kampung halaman bu, pastilah betah! "
"Betah sih betah, tapi jangan sampai lupa sama orangtua, kami ini sudah tua jadi kalian yang harus menengok kesini, aku denger kamu nerusin usaha lagi ya? " Ucap bu Asih.
"Iya bu, do'a in aja biar berkembang lagi seperti dulu. " Ima nampak gak enak hati.
"Sudahlah, sebaiknya kalian wudhu dulu, sebentar lagi maghrib, kita sholat berjama'ah! " bapak memotong obrolan kami.
Dan akhirnya kami sholat maghrib dengan berjamaah, selesai sholat aku membantu menyiapkan makan malam. dan menyuruh Raka untuk mengambil kue yang aku bawa tapi lupa tadi masih di mobil. sementara para lelaki mengobrol.
Tak lama makanan siap, kami makan secara lesehan selesai makan kami melanjutkan obrolan.
"Maksudnya bapak tak kalah penting gimana? " tanya Agus, sedangkan aku dan yang lainnya mengangguk. tanda setuju dengan pertanyaan A Agus.
"Begini, " bapak melihat pada kami semua kemudian meneruskan ucapan nya.
" Lintang mau di lamar. "
"Kapan? " kami kompak bertanya lalu tertawa, karena. pertanyaan kami yang kompak.
" Paginya kan wisuda, dan keluarganya Bagas ikut menghadiri, kan sama-sama di wisuda, katanya setelah acara selesai mereka mau langsung ke sini, melamar Lintang. " bapak menjelaskan.
" Ya syukur atuh, emang kamu sudah siap dek? " Ucap Agus sambil menatap adik bungsunya, sedang Lintang hanya mengangguk.
"Sebenarnya bukan masalah siap tidaknya Lintang, gus, " Sela bu Asih, " tapi persiapan nya, kita butuh biaya. " lanjutnya.
"Nah itu, jadi kita harus gimana?" Ucapan bapak membuat kami terdiam sejenak.
"Memang nya tamu yang bakal datang berapa orang? " tanta Ima.
"Gak banyak, paling cuma 15 orang. " sahut Lintang sambil tangannya menghitung siapa siapa saja. "
"Iya belum keluarga kita, pasti gak enak kalo gak di undang, " Ucap bu Asih.
__ADS_1
" Banyakin micin kalo gak enak, mih, " celetuk Raka membuat semuanya tersenyum, sedang bu Asih melotot ke Raka yg di pelototin cuma nyengir. sementara Renata putri sulung Alana nonjok bahu Raka sampai terjungkal, membuat kami semua mentertawakannya.
" Sudah! kalian mainnya di luar sana, ganggu orangtua yang lagi serius aja! " Bu Asih mengusir Raka sama Renata yang masih cekikikan. akhirnya mereka pergi ke luar dan duduk di teras.
" Kalo di hitung semua kurang lebih ada 50 orang, " Ucap Alana, "apa mau di jamu makan? " sambungnya.
"Ya pasti, masa di anggurin, " Ucap Agus, sementara suami Alana Gilang hanya manggut-manggut.
"Masak dong! gimana kalo pesen Catering aja! " Usul nya.
" Itu lebih baik, kan kita nya juga pada nyaksiin wisuda Lintang. " Ucap bu Asih.
" Nah, kalo itu gampang! mah, kamu kan suka menerima pesanan yang begituan, gimana kalo kamu aja yang buat. " Agus menjentikan ibu jarinya kemudian memandang Iqlima. " Gimana? " tanya nya.
"Gimana apa nya? "
" Haiist, kamu tuh lola, kalo pesen makanan nya dari kamu, sanggup ngak? " tanyanya lagi.
" Oh, siapa yang ngerjain, aku? " tunjuk ima ke dadanya. " kan aku juga ingin ikut ke tempat wisuda. " Ucap ima.
"Kan ada Linda, ma! kamu tinggal nyuruh mereka! " Agus berkata lagi.
"Iya, bos mah tinggal tunjuk, beres deh, biar anak buah yang bekerja. " sahut Alana sambil tertawa sementara Ima hanya nyengir.
" Iya deh, tapi uang nya? kan bahan masakan nya harus di beli. " Ima memandang suaminya.
"Bapak punya 3 juta, kurangnya kalian yang nombokin ! "
Ima dan Agus saling pandang. lalu Ima menggeleng. *enak aja masa semuanya harus dia yang nanggung, kan biaya wisudanya udah dia yang bayarin, masa sekarang harus dia lagi yang keluar duit, enak di mereka gak enak di gua* pikirnya.
" Memangnya kalo bikin 50 porsi nasi sama snack, menghabiskan berapa duit? " Gilang baru buka suara, " 5 juta, cukup nggak? tanya nya.
"Bisa, di cukup cukupin aja lah, kita bikin menu sederhana, " Ima menjawab tanya Gilang.
"Asal jangan malu maluin aja teh,mereka kan bukan orang biasa, " Ucap lintang. Ima mengangguk setuju.
Akhirnya semuanya sepakat, Catering dari Ima dan yang membayar Gilang dan Alana.
" Sekarang pakaian, gimana? " Alana bertanya sama Ima. sedang Ima cuma mengangkat bahu.
" Gimana kalo besok kita nge mall, sambil cari baju yuk! " ajaknya.
" Hayuk! barengan ya biar bisa tukar pendapat, " Ima nampak semringah. * sekali-kali gak apalah untuk nyenangin diri* pikirnya. mereka janjian untuk pergi ke mall besok jam 9 pagi.
Setelah dirasa semua beres Ima dan Agus pulang, sedang Raka dan Reina menginap, sebab Alana dan keluarga juga menginap.
---
__ADS_1
Untuk menjaga kewarasan sekali-kali kita perlu yang namanya shoping. dengan catatan uang sendiri ya bukan hasil pinjam đ¤