
🌺🌺🌺
Happy Reading
Setelah acara diem dieman mereda, Agus dan Iqlima kembali menjalani kehidupan rumah tangga seperti orang lain kebanyakan, mereka melakukan aktivitas rutin, Jika pagi Agus pergi kerja dan pulang sore hari, begitu juga dengan ima.
Ima semakin giat dengan usaha nya yang kembali mulai stabil, banyaknya pesanan dan permintaan pasar membuat ia dan ketiga rekannya sibuk, dan yang lebih menyenangkan dan membuat Ima bersemangat karena mereka sudah bisa di andalkan, meskipun banyak orderan dia gak keteteran karena mereka bisa melakukan semuanya. cuma untuk hal yang lebih spesifik seperti keuangan ima masih memegang kendali, bukan tak percaya tapi mereka menyerahkan sepenuhnya kepada ima.
Cuma satu yang hingga saat ini gak bisa Agus rubah. Uang. sampai detik ini ima gak tahu berapa penghasilan suami tiap bulannya, tapi semua itu tak membuat ima pusing, ia malah cenderung cuek, mungkin sudah kebal juga, ia menerima berapa pun yang Agus berikan.
Cuma bedanya kalo dulu ia biasa nombokin kekurangan, tapi untuk sekarang ia lebih baik ngurangin jatah untuk satu hal, kecuali uang saku anak nya, jika Agus memberi nya uang, yang pertama ima lakukan adalah memberikan anaknya bekal untuk seminggu, sisanya ia belikan untuk keperluan dapur. Ima tak pernah minta uang tambahan, kalo jatah uang habis maka ia tak mengerjakan semua, ia menganggap nya libur.
Contoh sabun cuci habis, ia stop mencuci gas habis stop masak, pernah waktu itu ia kehabisan sabun cuci, hampir seminggu ima gak nyuci, ketika suaminya nanyain baju yang mau di pakai, ia nunjukin di keranjang cucian.
"Ma, kenapa ini belum di cuci, besok kan mau ku pakai," Tanya Agus kesal.
"Sabun cuci nya habis," jawab Ia singkat.
"Kenapa gak beli," Agus mulai kesal.
"Beli kan pake uang, gak pake janji," Ucap ima cuek.
"Maksudnya?" Agus melongo.
"Iya, waktu aku bilang sabun cuci habis, kan kamu bilang pake uang mu dulu, nanti di ganti, terus buktinya mana, nyampe bertahun-tahun gak di ganti juga, ya udah mulai sekarang kalo mau pakaian bersih nyuci sendiri, lagian ya siapa suruh mesin cuci malah di kasih ke orang, janjiin mau di ganti, buktinya mana," Ima mencibir.
"Kamu jadi perempuan perhitungan banget, kan si kasih ke ibu," Agus mulai dongkol.
"Ibu mu kan, bukan ibu ku," Ima jadi ke pancing emosi, "inget 'A uang yang di pake beli mesin cuci tuh, murni uangku gak ada ya uangmu seperak pun, trus kamu seenaknya ngasih ke ibu mu, giliran ke orang tuaku ketika mereka masih hidup, inget gak, udah ngasih apa aja kamu sama mereka?"
Agus terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi karena ia mengakui kalo ia memang gak pernah ngasih apa pun pada mertuanya.
"Sebelum nyalahin istri, mikir dulu apa kamu tuh udah jadi suami yang bener apa belum, ini pakean aja mau bersih, licin, giliran minta uang cuma buat beli sabun aja perhitungan," gerutu Ima. "kalo mau istri kayak Nia Ramadhani, kamu nya harus kayak Ardi Bakri.
"Sudahlah gak usah di perpanjang lagi, kamu tuh kebanyakan nonton tok tok, omongan mu jadi ngelantur," Agus yang tadi terdiam kembali ngomentarin istrinya.
__ADS_1
"Suka suka aku lah, mau maen tok tok kek, nonton utup kek atau apalah, hape hape aku sendiri, kuota juga gak pernah minta, nih ya aku tuh cari hiburan buat ngebahagiain diri sendiri, nungguin kamu yang bahagiain sampe lebaran monyet juga kagak bakalan, yang ada malah bikin makan ati, mending kalo ati ayam enak nah in--"
"Stop! kamu habis makan apa sih jadi membeo terus, dari cucian jadi merembet ke mana mana, sakit nih kuping dengernya," Agus mengangkat tangannya lalu mengeluarkan uang dari dompetnya. dan meletakkannya di atas meja, " nih buatmu, terserah mau di beliin apa juga." lalu berdiri dan pergi.
Ima mengambil duit yang di letakan suaminya lalu menghitungnya, "kalo di giniin baru ngasih, heran jadi laki pelit banget," gerutunya kemudian melangkah ke kamar tak lama keluar lagi, berniat mau ke warung, beli sabun cuci dan keperluan lainnya.
Â
Agus yang lagi kesel bukan main sama ima yang menurutnya jadi cerewet bukan main terus melangkah kan kaki nya hingga tiba warung tempat nongkrong para pria sambil ngopi dan maen kartu.
"Mau kemana pak Agus, sini ngopi bentar lagi kita nobar," Ucap seorang pria se usia nya melambaikan tangan memanggilnya. Agus pun mendekat.
"Iya Pak Dhani, sekarang mana yang maen?" Agus duduk dekat pak Dhani. yang menjawab dua team yang akan bertanding.
"Mau ngopi?"
"Makasih pak, aku habis ngopi di rumah," tolak Agus.
"Nggak mancing 'A?" tanya seseorang yang ada di tempat itu.
"Gimana nanti kalo kita mancing ke laut?" tawarnya.
"Wah ide bagus tuh, yuk ah kita jadwalkan bisa nya kapan, " seru yang lain.
"Gimana kalo akhir minggu depan, kebetulan kalo minggu depan kerjaan agak berkurang," Agus dan para tetangganya itu emang satu server, hingga mereka sepakat minggu depan pergi mancing ke laut.
Memang ya kalo sudah hoby susah buat ninggalin nya. ya seperti Agus ini selain hoby mancing ikan, dia juga hobby mancing keributan, keributan dengan istri tentunya.
setiap mau mancing ada aja yang bikin kesel, mulai dari izin yang di persulit dan sampai datang mau bawa hasil pancingan atau engga pun di permasalahkan.
pernah pada suatu hari, Agus tuh pergi mancing di sungai, tapi gak nyangkut ikan se biji pun alhasil pulang gak bawa apa apa, datang lapar nanyain lauk buat makan, eh istrinya menjawab dengan entengnya.
"Itu wajan udah ku cuci bersih, minyak juga ada, tinggal di goreng ikannya," dan kalo sudah gitu Agus tak bisa berkata apa apa.
#curhatan kang mancing 😆😆
__ADS_1
Â
Sementara ima yang sedang berbelanja.
"Eh Ima, tumben belanja ke mari," Julia yang kebetulan lagi belanja menyapa Ima.
"Kamu Jul, kirain siapa, iya nih kebetulan aku kehabisan sabun cuci," Ucap Ima sambil membalas senyuman julia.
"Kurang orderan ya, koq belanja ketengan," julia melirik sinis. sambil membawa beberapa barang belanjaannya.
"Apa maksudnya?" tanya Ima sambil menautkan kedua alisnya.
"Biasa nya kan ke pasar, belanja banyak, ini belanja di warung, ketengan pula," Cibir julia
"Lah apa hubungannya orderan sama belanjaan, jul? aku tuh mau belanja di pasar atau di warung suka suka aku, gak ngerugiin kamu," Ima mulai terpancing emosi.
"Koq nyolot, aku kan cuma nanya," ketus Julia.
"Iya cuma nanya, tapi muka nya itu bikin orang emosi," Ima ikutan emosi, "jadi berapa bu?" Ima meletakkan belanjaannya di dekat bu ida.
"Ini dulu bu ida, kan aku duluan," julia nyerobot Ima, sedang Ima cuma bisa menghela napas panjang lalu mengeluarkan nya sambil menggeleng kan kepalanya.
Bu Ida menghitung belanjaan julia kemudian menyebutkan total belanjaannya.
"Ngutang dulu bu Ida, nanti kalo suami dah gajian ku bayar," ucap julia tanpa malu malu.
"Yang kemarin juga belum kamu bayar Julia, ini malah ngutang lagi, gimana mau belanja kalo dagangan nya kamu utang terus," ketus bu Ida sedangkan Ima tertawa sinis.
"Ngapain tertawa," sentak Julia membuat tawa Ima makin keras.
"Pantesan belanja di warung bu Ida, nganyuk toh, kalo di pasarkan gak bisa kasbon apalagi di alfatihah, ya kan bu Ida?" Ima mengalihkan tatapannya ke bu Ida, "punya ku berapa semuanya bu," Ucap nya, setelah bu Ida menyebutkan jumlah belanjaannya Ima membayar kemudian pamit.
--
--
__ADS_1
BELANJA LAH DI WARUNG TETANGGA SELAIN KITA MEMBANTU PEREKONOMIAN NYA KITA JUGA BISA MENJALIN SILATURAHMI DENGAN WARGA DAN YANG LEBIH PENTING DI WARUNG TETANGGA KITA BISA NGUTANG DULU UPSðŸ¤