IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 50


__ADS_3

🌺***Ketika kamu terjebak dalam gulungan ombak, kamu hanya perlu tenang. Karena melawan nya hanya akan membuatmu tenggelam.


🌺🌺🌺🌺***


Happy Reading


Ima memasuki kamar ketika syukuran pengajian yang diadakan di rumah telah selesai, begitu pun para tamu dan keluarga sudah pada pulang, malam pertama setelah ia lama terbaring koma, ia lalui dengan perasaan hampa. hingga malam semakin larut, ia tak bisa memejamkan mata.


Ia bangkit dari tidurnya, perlahan berjalan keluar, di ruang tengah berhenti sejenak namun ia tidak mendapat kan apa apa selain , rasa sunyi.


Ia menerus kan langkah nya menuju dapur kemudian duduk di kursi dalam keremangan cahaya yang menerobos masuk dari celah kaca.


Lama ia termenung, kemudian mengambil cangkir dan menuangkan sedikit air untuk sekedar membasahi tenggorokan nya yang mendadak kering.


'Sebenarnya kamu kemana? tanpa kabar, tanpa berita, kalau memang kamu mau pergi setidaknya pamit jdulu, jangan sampai aku menduga duga,'


Ima kembali masuk ke kamar, membaringkan tubuh dan mencoba memejamkan mata namun kantuk gak datang jua. iseng ia membuka laci nakas sebelah tempat tidurnya, ia kaget ketika tangannya merampa sesuatu.


Kunci penasaran ima menghidupkan lampu kamar, kemudian kembali duduk dan matanya membelalak begitu sadar bahwa yang ia pegang tadi adalah kunci mobil suami nya, juga surat suratan lengkap, buku tabungan beserta sebuah..... surat.


Ya ada sebuah surat yang di letakan paling bawah, Ima membuka lipatan kertas tersebut, membacanya sampai air mata tak terasa terus mengalir membasahi pipi.


*Ima, istriku.


ketika kamu membaca surat ini, maka artinya a'a sudah pergi jauh dari hidupmu dan anak anak. maaf, mungkin kata itu sudah tak berarti lagi bagimu, tapi a'a tetap akan mengucapkan kata itu. sampai kamu memberikan maafmu untukku*.


Ima menghela napasnya yang mendadak sesak. kemudian kembali menerus kan membaca surat dari agus.


*Ima


Berkali kali aku meyakinkan diri


bahwa meninggalkan mu adalah pilihan terbaik untukku dan untukmu.


Aku titipkan anak kita padamu, didik dan sayangi mereka.


jangan khawatir aku telah menyiapkan bekal untuk masa depan nya. buku tabungan dan surat surat berharga semua aku serahkan padamu, pergunakan sebaik-baiknya, aku percaya kamu pasti bisa*.


Ima membuka lembaran berikutnya


*Ima,


Mulai saat ini, kamu jangan pernah mengharapkan aku kembali, karena itu tak mungkin aku lakukan, aku sudah tidak mencintaimu lagi. karena apa?


mencintaimu dan hidup dengan mu selama ini, adalah kesalahan terbesar ku. .


Ima,

__ADS_1


sekarang waktunya kita jalan masing-masing, sudah waktunya kita hidup dengan nyaman tanpa pertengkaran.


Saatnya kita* hidup bahagia tanpa ada rasa cemburu buta yang pada akhirnya kita saling tersiksa.


Air mata Ima semakin deras, ia menyusutnya perlahan.


*Ima,


Saatnya aku pamit dan*...


IQLIMA KHAIRUNNISA BINTI MUNZI FATUROZZI AKU GUSTIAN PRADANA MENALAK SATU KAMU.


DAN MULAI SAAT INI KAMU BUKAN LAGI ISTRIKU.


*Selamat tinggal Ima.


jaga selalu kesehatan mu.


[ Agus* ]


Ima menangis sesenggukan.


'Jadi ini jawabannya, kenapa kamu tidak langsung menemuiku, kenapa harus pake surat, jahat kamu A, dasar pengecut, aku benci sama kamu!' Ima terus meraung mencaci Agus, sambil memukul dadanya yang semakin sesak.


Hingga pagi menjelang, Ima tak memejamkan mata sedikit pun, hati nya semakin sakit, mendapat perlakuan yang teramat menyakitkan dari Agus suaminya atau lebih tepatnya mantan suami.


sungguh ia merasa tak begitu berharganya dirinya di mata Agus. Ima benci se benci benci nya.


 


Esoknya, Ima memberikan surat tersebut kepada teh Neni dan Linda, yang datang ke rumah, Teh Neni dan Linda ikut menangis, ia yang sebenarnya tahu kejadian yang sebenarnya hanya bisa menguatkan, dan menyuruh Ima untuk melupakan Agus.


"Kamu harus kuat, demi anak anakmu, sudah saatnya kamu bangkit dan membuka lembaran baru, lupakan Agus, sebab sekarang dia bukan siapa-siapa kamu lagi, sekarang hubungan kalian hanya sebatas mantan," Teh Neni mengusap punggung adik bungsunya.


Ia merasa sangat prihatin dengan adiknya yang satu ini, "kamu yang sabar ya!" Ucapnya.


"Iya, mungkin ini jalan yang terbaik buat kamu," Linda pun berucap menguatkan Ima.


 


waktu terus berlalu, detik terus berganti, minggu bulan silih berganti.


Gak terasa sudah setahun lebih sejak kejadian itu. dimana Ima koma selama 3 bulan lamanya, lalu di cerai saat ia sadar dan baru saja pulih.


Sungguh sebuah kejadian yang teramat memilukan untuk Iqlima.


Asa yang selama ini ia genggam akhirnya hilang di telan oleh pahitnya kehidupan. tapi seiring berjalan nya waktu, perlahan ia bangkit dari keterpurukan. mencoba kembali meraih asa yang sempat lepas dan hilang.

__ADS_1


Ima meyakinkan diri untuk tetap melangkah meski kadang ada saja rintangan yang membuat langkah nya terhalang tapi semua tak membuat ia menghentikan langkah nya.


--


Raka sekarang sudah masuk SMA begitu pun Reyna, ia sudah duduk di kelas 8 SMP.


Dan selama itu pula, baik Agus maupun keluarganya yang lain tak pernah bertemu apalagi dengan sengaja menjenguk Ima dan anak-anak nya. Mereka seakan sengaja melupakannya.


Beberapa orang pria banyak datang untuk melamar Iqlima, tapi gak ada satu orang pun yang ia Terima termasuk Arjuna, sahabat nya.


"Maaf Jun, aku tak bisa menerima lamaran mu," ucap Ima waktu Juna datang menemuinya dan menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Tapi kenapa Ima, apa kamu tak menyukai ku, kamu tenang aja seiring berjalan nya waktu, aku akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta kepada ku," Ucap juna.


"Maaf jun, tapi aku tetap tak bisa," Ima menundukkan wajahnya, ada perih yang menggerogoti hati nya.


Sejak kepergian Agus dia seakan mati rasa, tak ada rasa cinta untuk seorang pria, bahkan sekedar suka pun sudah tak ada, mungkinkah ia trauma. Entahlah...


"Ima, Agus sudah tak ada, apa kamu tidak bisa mencoba nya dahulu, kita jalani saja, kalau dalam jangka 3 bulan rasa mu tak berubah, aku mundur," Juna menatap teduh Ima dengan berharap penuh, sementara Ima berpikir. tapi ia menggeleng.


"Ima, bagaimana? kamu tidak boleh begini terus, kamu harus menerus kan hidup mu masa depan anak anak mu, mereka butuh sosok seorang ayah!


Oke ....aku memang tidak bisa menggantikan sosok Agus bagi mu dan juga untuk anak anak mu,


tapi.....setidaknya, beri aku kesempatan untuk menjaga dan menyayangi kalian, kalau kamu mau memberi kesempatan itu, aku tidak akan menyia nyiakannya." panjang lebar juna memberi pengertian sama Ima.


"Kamu juga harus pikirkan status mu itu, ingat status mu itu sangat rentan dengan gosip, maaf bukannya aku tidak mempercayai mu, aku percaya padamu bahkan sangat percaya, tapi gimana dengan omongan orang di luar sana? apa kamu sanggup menghadapi nya?"


Ima mendongakan wajahnya menatap juna dengan air mata yang sudah berlinang.


"Untuk soal yang satu itu, kamu jangan khawatir, jun. aku mungkin tidak punya cukup tangan untuk membungkam mulut mereka, tapi aku punya dua tangan yang cukup untuk menutupi dua telinga aku."


Juna menggelengkan kepalanya sambil terus menatap Ima.


"Ternyata kamu tetap keras kepala, tapi tolong pikirkan dulu, Ima, kamu memang kuat tahan banting, dengan omongan orang, tapi gimana dengan anak-anak mu? tolong berpikir lah gimana baiknya dulu, jangan jawab sekarang! Oke? aku pulang dulu. " Juna menepuk punggung tangan Ima, kemudian berdiri dan melangkah pergi.


Ima menatap kepergian Juna sambil bergumam.


'Kamu orang baik jun, aku tak pantas menjadikan kamu pelarian saat aku kesepian. sebab walaupun bagaimana aku tak ada rasa lain terhadap mu, selain sayang seorang sahabat, maafkan aku juna.' Ima mendongakan wajahnya menatap langit langit sambil menahan air mata yang mulai jatuh kembali.


 


# Kadang kita perlu tuli untuk semua hal yang tidak perlu kita dengar, menjadi buta untuk semua hal yang tidak perlu kita lihat dan mati rasa untuk sesuatu hal yang tidak seharusnya.


 


HAI BESTIE, GIMANA MENURUT KALIAN. APA IMA TERIMA LAMARAN JUNA ATAU GIMANA ATAU DATANG KAN LAGI AGUS BIAR RUJUK, JAWAB DI KOLOM KOMEN YA!!

__ADS_1


__ADS_2