IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 59


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Siang itu, setelah makan siang bersama, Ima duduk di gazebo di temani Linda dan Inayah.


"Teh Ima, ada yang ingin aku bicarakan sama teteh, minta waktunya sebentar, bisa?" Inayah menatap teh Ima penuh harap.


"Soal apa, ada masalah dengan pekerjaan?" Ima menghentikan langkah nya yang bermaksud akan ke dalam rumah.ia kembali duduk di sebelah Inayah.


"Bukan, ini masalah pribadi,"


"Kalo gitu aku ke toko dulu," Linda yang mau pergi di cegah oleh Inayah, ia juga boleh mendengarkan, pikir Inayah, karena Linda juga termasuk sahabat teh Ima.


"Ini soal A" Juna," Inayah mulai serius, "kemarin ia melamarku, menurut teteh berdua gimana,"


"Hah! serius?" Linda tampak kaget sementara Ima hanya tersenyum.


"Enggak gimana gimana, Nay. kalo memang kamu suka, ya Alhamdulillah, Terima saja." Ucap Ima kalem.


"Tapi, Im--" Linda menatap Ima sedangkan yang di tatap mengangguk mantap sambil tersenyum.


"Semua sudah beres, Linda, jadi gak usah khawatir,"


"Oh, ya sudah kalo begitu." Linda mengangguk paham, "terus jawaban kamu bagaimana, Nay?" mengalihkan tatapannya pada Inayah.


"Aku belum menjawabnya, teh. aku masih bingung." Inayah menundukan wajah nya.


"Nay, menurut teteh, kalo kamu suka Terima aja, Juna orangnya baik, kok, iyakan, Lin?" ucapan Ima yang di angguki oleh Linda.


"Tapi, teh, bukannya selama ini-"


"Kamu jangan khawatir, teteh sama juna gak ada hubungan apa pun selain hubungan seorang sahabat sama kayak hubungan ku dengan Linda, jadi.. gak usah mikir kejauhan, malah teteh senang kalo kamu yang akan jadi pendamping juna, karena teteh juga sudah tahu pribadi kamu, teteh yakin kamu pasti bisa menerima kevin, dan selalu berharap kalian sama sama bahagia, Oke?" ima menepuk bahu Inayah, sambil tersenyum.


"Makasih teh, kalo begitu aku gak ragu lagi," Inayah tersenyum senang sambil memeluk teh Ima.


"Curang ih, aku gak diajak pelukan," Linda merajuk. Ima dan Inayah membuka tangannya agar Linda masuk kedalam pelukan mereka.


"Wuih, dah kayak teletubbies aja berpelukan."


Ucap Euis yang baru muncul menatap ketiga nya sambil mencebikan bibirnya. sementara ketiga nya hanya tertawa.


"Eh, dipsi sini masuk, teletubbies kan berempat, kebetulan lo datang sini lengkapi kami yang baru bertiga," Linda membuka tangannya satu biar Euis bisa masuk, tanpa di suruh dua kali Euis masuk sambil nyengir.


"Tapi aku kan gak tahu judulnya," Ucap Euis.

__ADS_1


"Gak usah tahu, yang penting pelukan aja," Ucap Ima sambil tertawa.


"Haist, ni bocah yang sudah punya bocah, sungguh memalukan," tiba-tiba seseorang berdecak di belakang mereka, tapi mereka tetap acuh berpelukan sambil tertawa.


"Yeaah malah di kacangin," Adji kemudian memeluk ke empat nya, yang sontak menjerit dan memukuli Adjie, membuat Adji tertawa terbahak bahak sambil minta ampun.


"Lagian iseng aja sih," Ucap Linda


"Kalian yang iseng, gak malu sama umur, udah kayak abegeh labil aja," Adji kemudian duduk sambil mengusap ngusap tubuhnya yang kena pukulan keempat gadis yang udah gak gadis lagi, (eh 🤭).


"Ngiri aja lo, ngapain ke sini, ganggu aja, tahu."


"Gue ke sini noh ngantar pesanan, tuh!" tunjuk Adji sambil menunjuk mobil pickup yang terparkir di depan toko.


"Lo pesen apa, memangnya?" Linda membalikkan tubuhnya menghadap Ima.


" Oh itu mesin pembuat kopi sama oven soalnya takut kurang nanti, sebentar lagi kan puasa suka banyak yang pesen kue, masukin aja Dji, sekalian, lo bawa pegawai kan?" Ucap Ima yang langsung di iyakan sama Adji.


 


Setelah Inayah bicara dengan Ima dan Linda akhirnya ia menghubungi Juna dan menerima lamaran juna yang di sambut gembira oleh Juna.


Ia langsung datang ke rumah Inayah untuk melamar secara resmi dan meminta restu kepada kedua orang tua Inayah, dan sudah di putuskan sebulan lagi ia akan menikah dengan Inayah.


Juna selalu minta pendapat dari Ima dan Linda, ia juga minta bantuan untuk semua hal termasuk menyiapkan semua kebutuhan untuk seserahan.


"Aku minta bantuan kalian ya buat beli semua perlengkapan untuk Inayah, kalian para wanita tentunya lebih tahu," Ucap nya suatu hari.


"Kalo menurutku lebih baik kamu kasihkan uangnya langsung ke Inayah jun, biar dia yang belanja semua kebutuhannya, biar nanti aku tanya dia langsung dan nyuruh buat di bikin catatan." Ucap Ima yang di setujui Linda.


"Baiklah itu terserah kalian, untuk masalah ini sampai ngemasnya juga, kan suka di hias gitu, aku Terima beres aja."


"Baik bosque, hamba Terima titahnya akan hamba laksanakan, oh ya suruh saja Anna buat nemenin Inayah berbelanja ya biar untuk menghias aku juga Linda yang urus,"


"Oke, makasih ya," Juna nampak terharu.


"Untuk?" goda Linda


"Semuanya," juna tersenyum paham akan ucapan Linda.


--


Seminggu menjelang hari H, Ima dan Linda sudah sibuk di rumah juna, untuk toko ia mempercayakan urusannya sama Rossa dan dua rekannya yang selama ini sudah ia minta untuk membantu Rosa. sebab Euis juga sibuk di rumah Inayah.


"Sebelum aku menemukan orang yang benar-benar ku percaya buat gantiin Inayah, lo jangan suruh Inayah untuk berhenti dulu ya, Jun!" ucap Ima waktu itu ia lagi mengecek barang yang akan dia hias karena 3 hari lagi acara akan di laksanakan, di dapur pun semua keluarga dan tetangga sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menjamu para tamu yang akan hadir.

__ADS_1


"Aku gak akan mencegah, apa yang akan ia kerjakan selagi dia mau, termasuk bekerja di tempatmu, jangan khawatir kecuali dia sendiri yang berniat untuk berhenti," Juna meyakinkan Ima sebab ia tahu, posisi Inayah sangat penting dalam bisnis Ima.


"Bagus lah kalo lo tuh paham, ucap Ima sambil tersenyum.


" Gimana teh, sudah komplit apa belum?" Tanya Anna yang datang ke arah paviliun dimana Ima dan Juna berada saat itu.


"Sudah, An kita tinggal ngambil untuk tempatnya aja, Adji sudah ada gak? aku suruh dia buat ngambil ke tempatnya teh Rika?" Ucap Ima.


"A' Adji paling nanti sore Ke sini," Ucap Anna


"Nyuruh siapa aja atuh An, yang bisa nyetir, biar bawa mobil, soalnya takut kotor bekas orang lain yang sewa, kan mesti di bersihin dulu," Ima melongokan kepalanya keluar mencari orang untuk ia suruh, tapi gada lelaki satu orang pun sementara kaum perempuan lagi sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing.


"Biar aku saja kalo gitu," ucap Juna menawarkan diri.


"Jangan ih, calon manten mah diem aja, jangan banyak kerja nanti gak kuat, karena kecapean," ucap Ima yang di sambut kekehan Anna, sementara juna hanya tersenyum kecil.


Tiba-tiba sebuah mobil masuk, dan turun lah 2 orang dari mobil tersebut.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam," ketiga nya serempak menjawab salam.


"Eh, ibu apa kabar, bu?" Ima nampak gugup setelah tahu siapa yang datang.


"Alhamdulillah, ibu Baik, kamu juga gimana kabarnya, maaf selama ini ibu gak pernah nengokin kamu, syukurlah kalo kamu baik-baik saja, Ima, maafkan ibu." Bu Asih memeluk Ima sambil menangis. "Anak-anak di mana?"


"Masih di sekolah, bu, silahkan duduk, tapi maaf di sini masih berantakan, sebaiknya ibu duduk di dalam aja."


"Ibu mau ke dapur aja, mau bantu bantu, siapa tahu ada yang harus ibu kerjakan, ini mau di apakan, bukannya mau di hias ya?" tanyanya kemudian.


"Iya bu, tapi ini tempatnya belum ada yang ngambil di teh Rika, gak ada orang untuk ngambil kesana." Ima tersenyum.


"Agus, kamu saja sana yang ngambil!" Bu Asih melirik Agus yang dari tadi diam terpaku dekat pintu masuk.


"Gak usah bu, biar nanti nunggu Adji aja," Ima merasa tidak enak sambil melirik Agus yang sejak datang gak melepaskan tatapannya dari wajah Ima, terpesonah mungkin 🤭.


"Gus!" bu Asih menyenggol Agus dengan bahunya. sehingga Agus di buat kaget.


"I... iyya bu, ada apa?" jawabnya.


"Kamu mau kan ngambil tempat untuk menghias ini semua?" Ucap bu Asih sambil menunjuk tumpukan barang.


"Ayo, di mana?"


"Sama kamu aja Im, biar jelas, sono!" bu Asih membalikkan kembali tubuhnya menghadap Ima.

__ADS_1


__ADS_2