
๐บ๐บ๐บ
Happy Reading
Di depan ICU Agus terduduk lesu. gejolak rasa bercampur dalam dada, sesak terasa menghimpit rasa sesal sedih berbaur jadi satu.
Semenjak dokter mengatakan bahwa semua peralatan medis yang terpasang dalam tubuh ima akan di lepaskan dalam tubuh ima, ia seakan mati rasa, separuh jiwanya hilang.
Saat itu, Agus dan kedua anaknya juga keluarga yang lain tengah berkumpul, Agus sengaja mengumpulkan mereka karena ada sesuatu yang harus ia sampai kan. tak ketinggalan ia pun mengundang sahabat ima.
"Khem, aku sengaja mengumpulkan semuanya karena aku ingin menyampaikan permintaan maaf buat kalian semua, aku tahu selama ini aku bukan suami yang baik, aku menyesal sungguh sangat menyesal," Agus menyeka air mata yang sudah membasahi pipi nya... kemudian menarik napas panjang dan mengeluarkan kan nya, seakan membuang semua sesak yang selama ini menghimpit dadanya.
"Nyadar juga lo, sayang terlambat....." Juna menimpali ucapan Agus tapi kemudian ia menghentikan ucapan nya setelah Adjie menepuk paha nya.
"Aku akui, ini memang terlambat, tapi percayalah, ini semua keluar dari hati yang paling dalam," tatapan Agus berhenti di teh Neni, "Teh, aku minta maaf pada teteh juga kakak ima semua, aku telah menyia-nyiakan ima, bahkan aku telah menyakiti hati dan pisiknya, aku ikhlas jika teteh dan A'a akan membalaskan semua kepadaku, lillahi ta'ala aku rido menerima kesakitan yang sama bahkan lebih dari yang di rasakan oleh Ima." Tangis Agus pecah saat itu juga ia bersimpuh di hadapan teh Neni kakak tertua ima.
"Gus, teteh sudah memaafkan kamu, juga akang dan yang lainnya, cuma teteh pesan, kejadian ini jangan sampai terulang, baik itu dengan ima yang pasti harus pasti! ia akan sembuh, atau pun dengan yang lainnya." teh Neni mengusap bahu Agus seakan memberi kekuatan lebih tepatnya saling menguatkan.
Agus mengganggu kan kepala.
"Makasih teh, makasih,"
Agus, kembali menegakkan duduknya kemudian ia menatap sahabat sahabat Ima.
"Dan untuk kalian, aku juga minta maaf, aku selalu berbuat kasar baik omongan atau perbuatan ku, jujur semua aku lakukan karena rasa cemburu," Agus kembali menghela napas. kemudian menatap Juna.
"Terutama untuk kamu, jun,"
Juna balas menatap Agus.
__ADS_1
"Kenapa dengan aku?" ia menunjuk dada nya sendiri.
"Aku tahu, dari dulu kamu punya rasa yang lain terhadap Ima," Agus mengangkat tangannya memohon untuk tidak memotong ucapan nya karena ia melihat Juna akan memprotes apa yang dia ucapkan.
"Tolong jangan ada yang memotong ucapan ku, Jun, diakui atau tidak, aku sebagai lelaki sudah tahu arti dari tatapan mu, tapi karena aku yang egois ini, aku mengabaikan semuanya, aku minta maaf, jun."
"Besok adalah hari terakhir, di mana Ima akan di cabut peralatan medis nya, aku minta tolong pada kalian, jika nyawa Ima sampai tak tertolong, aku janji, akan mengurus segala sesuatunya termasuk kedua anakku, tapi.... " Agus kembali terisak, ia mengabaikan rasa malu akan ke lelakian nya, ia hanya ingin melepaskan semua beban berat yang mengganjalnya.
"Jika... Ima berumur panjang, Alloh memberikan kesempatan kehidupan kedua untuk Ima, demi kebahagiaan nya a-aku ikhlas untuk meninggalkan nya, karena selama ia hidup dengan ku, aku tidak bisa membahagiakan nya., untuk itu, aku akan meninggalkan Ima, bukan aku tak sayang bukan juga aku sudah tidak mencintai nya, bahkan rasa sayang dan cintaku yang besar ini aku rela melepaskan dia, untuk kebahagiaan dia, untuk kenyamanan dia, dan aku akan membuktikan nya besok!"
"Kamu... dasar pengecut!" Juna bangkit dan menonjok muka Agus yang sama sekali tak menghindar ia hanya menunduk sambil menyeka sudut bibir nya yang berdarah dengan ibu jarinya.
"Pada semua, aku titip Raka dan Reyna, tolong jaga mereka, untuk biaya hidupnya aku sudah membuatkan buku tabungan untuk mereka dan insya Alloh tiap bulan aku akan mengisi saldonya, aku tidak akan membawa apa pun, biarlah semua ini untuk Ima dan anak nya, sekali lagi aku minta maaf, dan tolong sampai kan maaf ku juga untuk Ima, aku permisi." Agus berdiri kemudian pergi meninggalkan semua orang yang masih termangu menatap kepergian nya.
---'
----
Mereka tak berhenti berdo'a memohon keajaiban semoga Ima bisa melewati semua, dan sembuh seperti sedia kala, mereka juga akan menerima dengan ikhlas jika Tuhan berkehendak lain.
Jam 10 lebih 15.
Team dokter memasuki ruang ICU.
Semuanya menghela napas berat, menanti dan berharap yang terbaik.
Selang tiga puluh menit, seorang suster keluar dan memanggil keluarga untuk melihat kondisi Ima.
Agus dan kedua anaknya masuk terlebih dulu.
__ADS_1
Agus menatap wajah Ima yang pucat seperti tak berdarah, kemudian ia menggenggam tangan Ima yang terasa dingin, ia kecup kening dan kedua pipi Ima, kemudian berkata.
"Ima.....Iqlima khairunnisa, A'a minta maaf atas semua yang telah A'a lakukan padamu, untuk yang kesekian kalinya, mulai saat ini, A'a mengikhlaskan semua yang telah Alloh tetap kan, jika mungkin kau akan di panggil oleh-Nya, a'a ikhlas A'a Ridho, juga kalau Alloh memberi kesempatan kamu untuk hidup lebih lama pun, A'a ikhlas melepaskan kamu, asalkan kamu bahagia, berbahagialah," Agus kembali mengecup keni g dan pipi Ima, sambil menghapus wajah ia mundur dan memberikan waktu untuk Raka dan adiknya.
Raka maju sambil memegang tangan adik nya.
Ia berhenti di dekat ranjang mamanya kemudian tangan adiknya dai sentuhkan untuk memang tangan mama nya dan hal serupa pun dai lakukan.
"Ma, Kaka dan Adek datang menemui mama, kaka mohon maaf, mama bangunlah, apa mama gak sayang lagi sama kami, jangan biarkan kami kehilangan mu ma," Raka mulai terisak.
"Ma, mama bangun, adek takut," Reyna sesenggukan di hadapan mama nya.
"Ma, lihatlah kami ma, apa mama tega meninggalkan kami, kaka, belum sanggup untuk membimbing adek, ma,"
Agus kembali maju dan merengkuh tubuh adik kakak itu.
"Ma,...bangunlah! kalau kamu masih marah sama aku marah lah, tapi jangan kau limpahkan pada mereka, anak anak mu, mereka tidak tahu apa apa, mereka masih butuh bimbingan mu, mereka butuh kasih sayang sayang mu, kalau kamu tetap hidup, aku janji demi kebahagiaan mu, aku yang akan pergi meninggalkan kalian asal kamu berjanji untuk kembali, bangun lah!"
Suster menghampiri mereka dan mengatakan bahwa saatnya telah tiba, Agus mundur sambil memeluk kedua anaknya, sementara dokter dan perawat lainnya mulai melakukan tugasnya.
----
GIMANA....MASIH MAU LANJUT NGGAK?
LIKE KOMEN SAMA GIFT NYA DULU DONG, KOPI JUGA BIAR OTHOR ADA TENAGA BUAT NGETIKNYA ๐๐
makasih buat kalian yang masih setia.
sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan
__ADS_1
mohon di maafkan atas semua kesalahan.