IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 51


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


**AKu tidak mencari cahaya yang terlalu terang, aku hanya mencari cahaya yang tidak akan pernah padam, karena cahaya yang terlalu terang akan membutakan mataku.


🌺🌺🌺🌺🌺**


Setelah lamarannya di tolak oleh Iqlima, Juna tak lagi menemui atau menelpon sekedar berkabar, bukan cinta yang berkurang atau bahkan berubah menjadi benci, Juna hanya memberi ruang untuk sekedar berpikir.


Sedang Ima, tak ada juna menemui atau menelpon nya gak ngaruh sama sekali, ia semakin memantapkan hati untuk tak ingin berumah tangga lagi dalam waktu dekat ini.


Setiap hari dia makin menyibukkan diri dalam pekerjaan yang semakin hari semakin banyak orderan masuk, bahkan ia sudah menambah orang untuk membantunya. agar pesanan bisa teratasi. tanpa ada komplen dari pelanggan.


Orang-orang yang dulu meremehkan nya, bahkan banyak yang minta kerjaan, tapi masalah yang satu itu, ia percaya kan pada sahabat nya, Linda. karena menurutnya Linda jauh lebih tahu karakter orang di sekitarnya, meskipun itu adalah kampung halamannya tapi sudah lama juga ia meninggal kannya.


Dengan kesibukannya ini, Ima bisa melupakan semua sedih dan sepinya, bahkan ia pun lupa, kapan ia bahagia dan kapan menderita, Ima lupa akan Juna bahkan ia pun lupa pada Agus mantan suaminya.


Sampai satu hari sepulang sekolah Raka bilang kalo ia melihat ayah nya.


"Ma, tadi kaka lewat rumah nenek, Raka melihat ayah," ucap Raka tampak kerinduan dari mata, anak sulungnya yang berkaca.


"Oh ya, terus kaka menemui ayah?" Ima mengalihkan matanya dari laptop menghadap Raka yang menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Kaka takut mama sedih lagi,"


Ima tersenyum memandang Raka lembut sambil berucap.


"Kaka, dengar nya, kalo kaka dan adek kangen sama ayah, terus mau ketemu ayah, mama gak akan larang karena itu haknya kaka sama adek, kalo kaka lihat ayah di rumah nenek, dan mau menemuinya, pergilah.....! ajak sekalian ade! tapi maaf mama gak bisa mengantarkan mu, kalo mau, mama bisa meminta bantuan dmsama mang Rusli, biar mengantar kalian, kaka gak papa kan?" Raka mengangguk.


"Kamu bersiaplah lah, adek kasih tahu ! biar mama nemuin mang Rusli dulu mau atau enggak nya untuk mengantarkan mu.


" Beneran mama gak papa?" tanya Raka, Ima mengangguk sambil tersenyum meyakinkan anak nya. lalu ia berdiri dan pergi ke rumah Linda untuk meminta tolong sama Rusli untuk mengantarkan anak anaknya ke rumah nenek nya menemui ayah nya.

__ADS_1


Setelah siap Raka dan Reyna, berangkat di antar mang Rusli. Ima mengantar kepergian anaknya sampe di teras.


Setelah anak-anak nya pergi, Linda datang menghampiri Ima.


"Aku denger kamu pernah menolak Juna, apa bener?" Linda mendudukan tubuhnya ddi undakan teras. Ima ikut duduk di sebelah Linda pandangan mereka sama sama terarah ke jalan yang tampak hilir mudik orang, yang sekedar melakukan jalan santai atau sekedar jalan saja, memanfaatkan hari yang cerah.


"Begitulah"


"Kenapa? apa kamu masih mengharapkan Agus," Linda melirik Ima.


"Nggak lah,"


"Lalu?"


"Apanya?"


"Itu!"


"Ngomong yang jelas Maesaroh, da aing teh teu ngarti," Ima mendelikan matanya, sedang Linda terkekeh.


"Rencana, maksudnya?" Ima masih aja gak ngerti arah pembicaraan Linda.


Linda menggaruk kepala bagian belakangnya.


"Aku gak tahu, kamu tuh pura-pura begok atau emang bego beneran, gini .....maksud ku tuh, elo kenapa gak menerima lamaran si juna apa elo masih ngarepin si Agus,terus lo rujuk, gitu aja masa gak ngarti!" Linda memicingkan matanya menelisik Ima.


"Ngomong yang jelas dari tadi, malah muter muter kayak gasing." Ima terkekeh melihat Linda yang gemas melihat dirinya.


"Gini Lin, jujur...saat ini aku gak mikirin keduanya, aku hanya ingin pokus sama kedua anakku dan usaha kita, untuk urusan yang satu itu, aku serahkan aja sama Takdir, aku ikuti alur nya aja," Ima menundukan wajah nya yang mulai berkaca kaca.


Linda menganggukan kepala tanda paham pada perasaan Ima saat ini.


"Terus, apa ada rencana untuk usaha ini biar makin berkembang?" Melihat raut wajah Ima yang mulai sendu, Linda mengalihkan pembicaraan nya.


"Aku ingin punya toko roti, Linda, kalo uangnya sudah cukup moga cepat terealisasikan, kamu punya saran?"

__ADS_1


"Kalo untuk nyewa ruko, pasti harus ada modal gede, gimana kita manfaatkan tempat yang ada di sini, maksudku mereka kan sudah tahu akan usaha kita, jadi gak perlu pindah ke tempat yang lain, Jadi...garasi... manfaatkan garasi itu untuk di jadikan toko, kamu tinggal merombak nya sedikit saja, jadi gak bakal habisin duit banyak, gimana?" Linda menjentikkan ibu jari dan telunjuknya dengan tersenyum semringah.


"Ide mu oke juga, kapan kita bisa mulai?" Ima ikut tersenyum.


"Hari ini!"


Ima melotot, " jangan bercanda,"


"Loh, siapa yang bercanda? mungpung hari ini libur kita mulai dengan beresin dulu garasinya, trus apa aja yang kita perlukan kamu list, aku mau nelpon dulu anak anak biar bisa bantu." Linda mengeluarkan hape dari saku dasternya dan mulai bicara dengan Euis dan inayah.


Tak lama mereka datang, Linda menyatakan maksud dan tujuannya yang di sambut antusias oleh Euis dan lainnya, dengan semangat 45 mereka mulai bebenah dan mengeluarkan barang yang tidak di perlukan. hampir 3 jam garasi Ima sudah bersih dari debu dan semacamnya. semangat mereka membuat Ima terharu.


"Oke, aku sudah me list apa apa yang kita butuhkan," waktu istirahat Ima mengatakan apa saja yang harus di beli, yang harus di dulu kan tuh cat, "kalian punya ide kira kira warna apa yang cocok?" tanya Ima sambil menatap silih berganti dan mereka sepakat memakai warna usulan Inayah.


Kesempatan itu pun gak di sia siakan Ima untuk menyusun program kerja, ia menerapkan sistem management biar terkordinir, mereka setuju dan mulai besok mereka akan bekerja dengan sistem baru tersebut, sedang pengerjaan untuk garasi yang di ubah menjadi toko, Ima mempercayakan pada tukang yang sudah berpengalaman, Ima dan Linda akan menemui nya nanti sore, mereka bekerja sat set.


Seminggu lebih pengerjaan selesai, sebab Ima banyak membeli yang sudah jadi termasuk Rak, Etalase, meja kasir juga meja kursi, mereka hanya tinggal menempatkan nya dengan posisi yang lebih enak di pandang mata. bahkan di halaman rumah Ima juga membuat gazebo untuk mereka yang ingin sekedar nongkrong sambil ngopi.


"Alhamdulillah... akhirnya toko kita jadi juga lin," Ima menangis terharu campur bahagia, ketika melihat kang Rusli di bantu seorang pekerja lainnya selesai memasang plang nama toko roti. R&R


Besok adalah acara pembukaan toko roti yang Ima dan temennya rintis, meski masih kecil kecilan tapi itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri buat Ima.


Ima selalu berharap kelak usahanya itu akan menjadi besar dan maju.



Siapa yang mau datang yuk mungpung ada diskonan, dan free buat 10 pengunjung pertama 😁😁😁


Apapun yang di niatkan tulus dalam hati. InsyaAllah maka pasti akan terbukti.


usaha dan kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.


Biasakan habis baca tinggalkan jejak.


like komenmu adalah semangatku 😍😍

__ADS_1


Β 


__ADS_2