IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 60


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Ima melirik Linda


"Lin, kamu yang pergi ya!" pintanya ke Linda.


"Aduh, sorry Im, aku tanggung lagi bikin sambal goreng ati, ntar kalo diterusin sama yang lain pamali bakal beda rasa," ucap Linda sambil ngeloyor ke belakang.


"Kenapa Im, takut ya pergi bareng A'a, tenang gak bakalan gigit kok, lagian gigit dikit mah gak papa, gak bakalan rabies palagi berubah jadi vampire." Agus terkekeh merasa ada celah buat ngegodain Ima.


"Tahu ah gaje," Ima beranjak keluar sambil menghentikan kakinya sebel sama ucapan Agus yang berani berani nya bercanda gak jelas, "buruan atuh," teriaknya membuat Agus cepat berlari menghampiri Ima yang sudah ada dekat mobil nya, cepat cepat di bukanya pintu mobil dan mempersilahkan Ima masuk, sementara bu Asih,Juna, Ana dan Linda yang balik lagi ke dalam paviliun tersenyum, ternyata tadi hanya alasan Linda lagi masak.


"Senyum atuh, ma, jangan cemberut gitu kayak dompet lagi tanggung bulan aja," Agus melirik Ima yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. "kamu apa kabar, berasa mimpi bisa duduk satu mobil lagi sama kamu, anak anak sehat kan, ma? aku boleh maen ke rumah lagi gak?" Agus terus saja bicara, ngalor ngidul sedang yang di ajak bicara diam seribu basa, sampai di pertigaan baru ngomong, karena ngambil arah.


"Kok ke sini, ini salah!" protes nya hingga Agus berhenti mendadak hampir saja Ima terbentur sama dasbor mobil kalo gak di tahan sama Agus.


"Habis kamu gak bilang, kan aku gak tahu." Ucap Agus.


"Kalo gak tahu kenapa gak nanya?" Ima nyemprot Agus sambil matanya mendelik.


"Dari tadi juga nanya, gak ada satu pun yang kamu jawab." Agus tersenyum.


"Nanya jalan bukan nanya yang lain, mundur mundur," Ima semakin sebal sama perkataan Agus.


"Agus memundurkan mobilnya, makanya jangan judes judes arahin yang benar, kalo nyasar gimana, ini kemana?" tanya nya ketika mereka ada di persimpangan yang terlewati tadi."


"Belok kiri!" Ima terus ngarahin mobil yang di kemudikan Agus yang akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup besar.


"Jadi ini rumahnya?" tanya Agus sambil memasukan mobil ke halaman rumah tersebut.


"Iya," jawab Ima singkat, ia turun dan melangkah ke arah teras, lalu mengetuk pintu.


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum, teh Rika... ini Ima," Ima mengetuk pintu sambil memanggil nama teh Rika, tak lama terdengar suara langkah mendekati pintu dan Di bukanya pintu tersebut.

__ADS_1


Cek lek


Dari dalam muncul wajah wanita cantik sebaya Ima. "Masuk yuk!" ajaknya. Ima mengekori wanita itu di ikuti Agus dari belakang.


"Berapa buah, Im," tanya nya sambil melirik Ima kemudian mengerutkan alis nya, "Ini bukannya mantan mu ya?" tunjuk nya ke Agus. "Bisa barengan gitu, atau rujuk lagi, bagus lah mending rujuk kasian anak anak," Ucap Rika sambil tersenyum ke arah Agus.


"Jangan so tahu, 20 buah, trus di tambah yang buat mahar," Ucap Ima. kalo uang aku mau di bikin buket, gimana menurutmu, kalo gitu."


"Wah bagus tuh, eh tapi mahar nya apa aja sih?"


"Kalo untuk mahar mah, seperangkat alat sholat sama perhiasan kayaknya mah," sahut Ima sambil menata wadah yg akan di bawa kemudian mengangkutnya di bantu Rika dan Agus, "besok bisa bantuin ngemasnya?" tanya Ima sebelum pergi.


"Gimana besok aja,"


"Ya udah, balik dulu ya, assalamu'alaikum," Ima naik ke mobil dimana Agus udah duduk di belakang kemudi.


"Sudah?" tanya Agus.


"Iya,"


"Gimana kalo kita cari makan dulu," Ucap Agus.


"Aku mau bakso, biar rada seger aja gitu," Agus melirik Ima sekilas. dan disinilah mereka sekarang berada di kedai bakso yang terkenal di daerah itu. dengan sedikit malas malasan Ima mengikuti Agus masuk ke dalam kedai


"Terserah deh," akhirnya Ima mengalah, mereka pun makan bakso, setelah makan bakso cepet cepat Ima ngajak pulang, Agus yang tadinya ingin bersantai dulu akhirnya bangkit juga dari tempat duduknya karena Ima mengancam untuk tetap pergi, naek ojek sekalipun.


"Kan kamu tahu, aku tuh terburu buru, di tungguin kerjaan, kamu ngerti gak sih!" suara Ima naik beberapa oktav, kesel sama sebel bercampur.


"Iya... iya, sabar dong," Agus mengeluarkan uang untuk membayar yang mereka makan tadi, keduanya kembali ke mobil.


"Nih, beneran jalan, tapi jangan cemberut gitu dong, ntar di kira kita lagi berantem, smile... " Agus masih aja menggoda Ima yang bermuka jutek.


"Bodo amat, cepet jalan!" Ima mendelikan mata malas.


"Siap laksanakan, nyonyah." Agus pun kembali menjalankan mobil nya kembali ke rumah Juna.


"Ini mobil apa odong-odong sih, jalan kayak keong." sepanjang perjalanan Ima gak berhenti menggerutu misuh misuh, saking keselnya sama Agus, sementara sang driver hanya senyum senyum.


"Gaje banget." begitu sampai Ima bergegas turun lalu masuk. sementara Agus menurunkan semua barang yang ada di jok belakang dan di bagasi.

__ADS_1


"Lama amat, kalian gak mampir ke hotel kan?" goda Linda yang melihat Ima masuk dengan muka cemberut nya.


"Makan bakso dulu, Lin, kebetulan aku lapar tadi di jalan." Agus meletakkan semua barang sambil menjawab pertanyaan Linda.


"Kalian makan bakso, tapi gak ada yang inget sama aku? ah sungguh terlalu." Ucap Linda sambil bibir di monyong monyongin.


"Jangan salahkan aku, tuh salahkan sahabatmu yang marah marah terus!"


"Apaan sih, gak jelas banget!" semprot Ima sambil melotot ke arah Agus.


"Sudah, sudah.. kalian kenapa sih, gak dulu gak sekarang hobi nya berantem terus, atau ini ya cara kalian mengungkapkan rasa rindu kalian," Kekeh Linda sambil mengedipkan mata ke arah Agus, sementara Agus hanya tersenyum.


Ima pura pura gak denger ia langsung masuk mencari Juna.


"Jun, uang yang buat mahar gimana kalo di bentuk kipas aja," Ucap nya setelah Juna duduk di hadapannya.


"Aku sih terserah kamu aja, kan sudah ku bilang aku Terima beres." Juna terkekeh.


"Iya deh, ayo bawa ke sini, aku mau susun sekarang sebelum pulang." Ucap Ima.


"Kok pulang, Im, kirain semuanya mau di kerjakan sekarang." protes Juna sambil ngasih uang yang di pinta Ima.


"Pulang dulu lah, mau mandi dulu, ni badan udah lengket banget,"


"Iya, nanti aku antar, sekalian mau nengok anak anak," ucap Agus tersenyum kalem, sementara Ima memasang muka malas.


Setelah itu, dengan tekun Ima terus menyusun uang di jadikan buket yang cantik. Agus dan Juna melihat sambil sekali kali menyodorkan bahan yang di pinta oleh Ima, gak sampai satu jam buket tersebut jadi.


"Wah... cantik banget, kayak yang buat nya ya," puji Agus kagum, "Kamu memang oke," Agus memberi 2 jempolnya. Ima tersenyum senang, meski bagaimana pun dia seorang wanita yang kalo ada yang memuji pasti hatinya berbunga, gak peduli siapa yang memujinya, terlebih ini sang mantan, cieee 🤭


"Eh iya, ini beneran cantik, makasih Ima," Juna pun tak kalah memuji sambil merentangkan tangan ingin memeluk Ima saking senengnya, tapi yang masuk ke pelukannya malah Agus yang langsung nyerobot menghalangi juna yang hendak memeluk Ima.


"Haist...," Juna menggeplak tubuh Agus, membuat orang yang ada di situ pada tertawa, sedang Ima hanya tersenyum.


"Lagian maen sosor aja, inget calon bini, woy!" kekeh Agus, entah kenapa hari ini hatinya begitu senang, apa karena ketemu mantan ya, 😆😆





DILANJUTKAN NANTI YA.

__ADS_1


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA. JANGAN LUPA LIKE KOMEN NYA.


__ADS_2