
🌺🌺🌺Happy Reading
Hari masih begitu gelap ketika adzan subuh berkumandang, memaksakan setiap umat muslim segera bangun dan menunaikan kewajiban dua raka'at nya. begitu pun ima meski mata masih mengantuk tapi ia memaksa matanya terbuka, dengan perlahan turun dari tempat tidur sambil menutup mulutnya yang masih menguap.
"Huaamm, ngantuk banget, gegara semalam gak bisa tidur, " bergumam lalu masuk ke kamar mandi untuk wudhu, kalo mandi ia harus berpikir ulang di suasana yang masih dingin begini. maklum HESMAN alias hese mandi. 😁😁
Selesai sholat ia tak buru-buru ke dapur untuk masak seperti biasa, karena ia hanya sendiri, suami dan kedua anaknya masih di rumah neneknya, jadi gak papa lah ia santai sejenak.
Di luar nampak mulai terlihat cahaya terang pertanda siang segera datang.
Ima membuka jendela dan pintu biar udara berganti dengan yang fresh. ia duduk di kursi teras menunggu kang bubur lewat. tak menunggu lama tukang bubur pun datang.
"Beli mang, tunggu mau ambil mangkoknya dulu, " melambaikan tangan memanggil penjual bubur.
"Mangga, teh, " kang bubur pun berhenti dekat pagar rumah Ima.
"Biasa ya jangan terlalu pedes, banyakin kecapnya biar pahit nya hidup gak berasa, " Ima memberikan mangkok kepada penjual bubur langganan nya itu.
"Ini si teteh curhat nih ceritanya, " Ucap si tukang bubur sambil tersenyum.
"Bisa iya bisa tidak, tergantung yang denger, " Ima ketawa sendiri sambil merhatiin sekeliling, tak lama ibu-ibu yang lain datang untuk membeli bubur.
"Wah teh Ima udah gercep aja nih, tumben, " ucap seorang tetangga Ima.
"Iya, biasanya kita panggilin baru nongol, " sahut yang lainnya.
Ima hanya menanggapi nya dengan tersenyum, setelah punya nya selesai ia pamitan kepada ibu ibu tetangganya itu.
"Eh, teh Ima jangan pergi dulu aku mau nanya, " cegah ceu yati menahan Ima yang mau melangkah pergi.
"Apa benar itu bu guru Alana adiknya Agus di cerei suaminya? " tanya ceu yati, yang sontak ibu yang lain melihat Ima menunggu jawaban.
"Aduh ceu yati, masalah itu aku gak tahu apa-apa, " Ima berkelit nampak enggan menjawab pertanyaan ceu yati yang tingkat ke kepoannya di atas rata-rata.
"Halah, gak usah di tutup tutupi teh Ima, kita juga udah tahu koq kalo Gilang itu selingkuh, sama anak bauk kencur lagi, " ceu yati mencebikan bibirnya.
__ADS_1
"Kalo ceu yati sudah tahu, ngapain pake nanya Ima, " Tiba-tiba Linda yang baru datang langsung nyemprot ceu yati, "lagian apa sih yang ceu yati gak tahu, " lanjut Linda.
"Gak usah nge gas Linda, aku kan tadi cuma nanya, " ceu yati melotot ke arah Linda.
"Siapa yang nge gas ceuceu, kan aku bener kalo ceu yati itu maha Tahu, sudah kayak CCTV, tapi inget ceu, jangan sampai CCTV-nya rusak pas kena Mira, " Linda terkekeh.
"Apa maksud mu? " ceu yati menaikan suaranya beberapa oktaf.
"Gak usah teriak ceu, aku gak tuli jangan lupa pantau Mira " ucapan Linda yang monohok mampu membuat ceu yati terdiam, lalu pergi tanpa berkata lagi.
"Ceu, bubur nya jadi beli gak? " teriak si mamang bubur sambil mengacungkan plastik berisikan bubur pesanan teh yati. yang kembali mengambil pesanan nya sambil mengulurkan uang 20 ribu.
Ima pun ngeloyor pergi, takut buburnya ke buru dingin, apalagi suasana makin memanas, menghindar lebih baik pikirnya daripada ribut.
Linda membawa mangkok bubur ke teras rumah ima, bermaksud makan bareng ima sekalian ia mau memberikan hasil jualannya yang hari kemarin belum ia setorkan.
"Makan di luar Im, sambil ngadem biar hati dingin, " Linda terkekeh saat ima muncul kembali ke teras mereka duduk sambil makan bubur.
"Aku ambil air minum dulu, " kembali masuk tak lama keluar dua gelas teh hangat.
"Kamu tuh kenapa lin, setiap bertemu ceu yati bawaannya jutek mulu, " ucap ima sambil duduk di kursi yang hanya terhalang meja dengan Linda.
"Bahaha... iya, kalo ketemu tuh bawaannya pingin langsung neureuy buleud da (nelan bulat-bulat), habis orangnya ngeselin banget, " gerutu Linda.
"Tuh bibir, biasa aja kalo ngomong, udah kayak ngap-ngap aja, " Ima memelintir bibir Linda membuat yang punya bibir mengaduh.
"Eh lin, memangnya si mira tuh siapa, dan kenapa lo bahas dia tadi? " ima merasa penasaran dengan gadis yang bernama mira yang di sebut Linda tadi.
"lo tuh gak tahu apa pura-pura begok sih? " semprot Linda sambil memicingkan mata seakan menelisik ke dalam mata ima.
Ima memukul kening Linda dengan sendok. "Lihatnya biasa aja dah kayak lagi nyidang aja.
"Kemarin lo jadi ke rumah mertua mu kan,? " tanyanya yang di angguki oleh ima, "terus lana cerita nggak siapa yang jadi selingkuhan si Gilang? " tanyanya kemudian.
"Jadi, tapi... tunggu! apa---"
__ADS_1
"Iya! " otakmu lola Linda menyentil kening Ima. "Si Mira yang udah menghancurkan rumah tangga Alana, dia yang jadi selingkuhan Gilang. " akhirnya Linda menjelaskan secara detail.
"Lalu hubungan nya dengan ceu yati, apa? " tanya Ima makin penasaran.
"Astaga.. kamu ya Ima, selama ini kemana aja kamu, masa gak tahu si mira tuh anaknya bu Rahma, tahu kan siapa bu Rahma? " Linda merasa gemes banget sama Ima.
"Biasa atuh ngomongnya lin, gak usah pake otot, iya tahu bu Rahma tuh adiknya bu Ratih kakaknya ceu yati. " jawab Ima sambil nyengir kuda. "Lah terus ngapain tadi pake nanya soal Alana apa enggak nya? " Imam bergumam sendiri tapi Linda masih mendengarnya.
"Astaghfirullah Imaa.... lo tuh di kasih makan apaan ih sama si Agus, sampai otak lo tuh jadi minimalia gini, heh! " Linda tampak makin gemes lihat muka o'on, Ima, sedangkan Ima hanya menatap Linda dengan mimik memelas, tak lama...
"Buahaha.... " Ima tertawa keras dan, ukhu..ukhu.. dia terbatuk kemudian bangkit mengejar Linda yang sudah lebih dahulu berlari menjauh setelah memasukan kerupuk saat Ima tertawa tadi. aksi kejar kejaran pun tak bisa di hindari lagi persis seperti anak usia PAUD, Ima melempari Linda yang terus mentertawakan nya.
Sementara di dekat pintu pagar seseorang melihat aksi mereka sambil geleng-geleng kepala.
"Kelakuan kalian tuh sudah gak enak di pandang, tahu, " Ucapnya sambil melangkah dan duduk di kursi yang tadi Linda duduki. "ingat umur, kalian tuh bukan bocah yang menggemaskan ladi tapi udah jadi emak emak! " lanjut nya.
Ima dan Linda menghentikan kelakuannya, sambil saling tatap seakan saling ngasih kode, lalu serentak berteriak....
“BODO....AMAT! " sambil berlari menghampiri orang tersebut lalu mencubit dan menggelitik seluruh tubuhnya.
"Ampun! " teriak orang itu yang ternya Juned.
Sahabat mereka. Ima dan Linda seakan tak mendengarnya terus aja menggelitik juned sampai kelelahan, akhirnya mereka sama-sama terduduk.
"Capek Anjir... huh! " Linda terkekeh mendengar keluhan Ima.
*******
AKH, INDAHNYA PERSAHABATAN.
SAHABAT ITU SEPERTI MATA DAN TANGAN. JIKA MATA MENANGIS MAKA TANGAN YANG MENGUSAP. DAN JIKA TANGAN YANG TERLUKA MAKA MATA LAH YANG MENANGIS.
jangan lupa like dan komen kalian, mood booster untuk author. love sekebon ❤❤❤❤
__ADS_1