IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 42


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Hari ini hari minggu.


Ima sedang di sibukan dengan masakan yang telah ia olah, dia sedang mencoba resep baru yang ia dapat dari temen nya, sejak pagi ia terus berkutat dengan panci dan wajan, hingga hampir setengah hari ia habiskan waktunya di dapur, Agus yang melihat istrinya sesibuk itu jadi penasaran, ia menghampiri dan bertanya.


"Lagi bikin apa sih, ma, sibuk banget keliatan nya?"


"Bukan keliatan nya tapi emang beneran sibuk, ini lagi nyoba resep baru," ima menunjukan hasil olahannya pada Agus.


"Boleh nyicip, dong!" Tangan agus yang mau ngambil makanan di loyang di tepis sama ima.


"Iih.. jorok banget,tuh tangan cuci dulu, jangan maen comot aja," Agus terkekeh lalu ia mencuci tangannya baru ngambil makanan dan menggigit nya pelan. "Gimana? enak gak," tanyanya sambil memperhatikan suaminya.


"Enak, ma, tapi ini namanya apa?" tanya Agus sambil manggut-manggut.


"Belum di kasih nama, enaknya namanya apa ya," Ima berpikir kemudian menjentikan jarinya, "Ayah punya ide nggak?"


Agus ikut berpikir, "gimana kalo di namain UMAMA" bagus kan," Agus nampak senang.


"Artinya?"


"Gak ada," kekeh Agus.


"Hais gak seru ah," Ima mendelikan matanya.


tak lama Raka dan Reyna menghampiri mama nya dan ikut mencicipi makanan buatan Ima.


"Heum, enak banget mah, ini mau di jual juga?" tanya Raka. "pasti banyak yang suka."


"Mama masih bingung, ngasih nama buat makanan ini," Ucap Ima, semuanya nampak berpikir, tapi sampai makanan habis sepiring belum juga menemukan nama yang cocok.


#ada yang punya ide gak pemirsa 😁


 

__ADS_1


Menjelang dzuhur, Alana dan kedua anaknya datang ke rumah Ima, tentu saja kedatangan mereka jadi menambah rame rumah Ima, apalagi Rengga yang baru pertama kali nya maen kesana nampak seneng sebab di belakang rumah Ima ada kolam ikan, dia anteng melihat berbagai macam ikan.


Ima bikin nasi liwet sama ikan bakar buat mereka makan siang tak lupa sambal cabe ijo dan lalapan bikin makan siang mereka lahap.


Sehabis makan anak-anak kembali bermain sementara Agus Ima dan Alana duduk di kursi teras sambil memperhatikan anak mereka.


"Kamu gak kepikiran buat nikah lagi, Lan?" Ucap Ima sambil tersenyum menatap Alana.


"Saat ini belum teh, gak tahu kedepannya," Alana terkekeh, "lagian siapa juga orangnya yang mau sama janda anak dua," lanjut nya.


"Eh, jangan gitu lah pasti ada yang mau, kamu tuh masih muda, kerjaan bagus cantik jangan di tanya, noh janda yang cuma jaga warung juga kakak mu doyan." Ucap Ima sambil nunjuk ke Agus dengan dagunya yang membuat mata Agus melotot kepadanya, sementara lana cuma cekikikan.


"Ehkem..Oh ya teh, A' aku ke sini tuh sebenarnya ada penting, masalah rumah," ucap Lana tampak serius.


"Loh emang kenapa?" Tanya Ima heran.


"Begini, gimana kalo aku beli aja, bukan apa apa sih, teh, biar aku tenang aja menempatinya, juga uangnya bisa kalian pake buat yang lain," Alana menatap bergantian kakaknya.


"Bukannya A'a gak butuh duit de, sebaiknya kalo ada uang sih pake dulu buat yang lain, masalah rumah kamu tempati aja," ucapan Agus di iya kan sama Ima.


"Sebenarnya, tu rumah gak bakal A'a jual tapi kalo kamu butuh bisa pake sebetah kamu aja!"


"Gak mau ah, kalo gak di jual sebaiknya aku cari rumah yang lain aja," ucap Lina sambil menatap kakaknya. Agus dan ima saling pandang.


"Eumm, begini aja, emang kamu punya uang berapa?" tanya Agus, " gimana kalo kamu bayar 200 aja, kalo sama orang lain itu bisa laku 350,"


"Baiklah, ini aku ada uang 15,, aku kasih teteh ya, sisa nya bulan depan aku lunasin."


"Kamu dapat uang sebanyak itu darimana dek?" tanya Agus sambil menatap adiknya.


"Itu uang bagian dari Gilang, harta gono gini, sebenarnya harusnya sih 500, tapi baru ngasih 200,cuma yang 50 nya aku pake buat keperluan yang lain termasuk nyervis ini mobil," sahut Akana kemudian meminta bo rekening ima.


"Ke rekening kakak mu aja Lan," pintar Ima.


"Nggak ah kalo ke rekening A'a, bisa bisa di pake yang lain, aku mau tranfer ke rekening teteh, atau aku kasih uang chas nanti," ucap lana sambil melirik kakaknya yang hanya melongo, akhirnya Ima memberikan nomor rekening nya dan lana mengetik sejumlah uang lalu tak lama mengirimkan bukti transfer. dan semuanya beres.


"Oke teh, aku masih punya utang, nanti aku bayar kalo uang dari Gilang sudah masuk."

__ADS_1


"Iya, tenang aja, gak usah terlalu di pikirkan kayak sama orang lain aja," sahut Ima sambil terkekeh. setelah urusan rumah beres, sore hari nya Alana dan kedua anaknya pulang.


Malamnya Agus meminta Ima untuk mentransfer uang yang dari Alana.


"Buat apa sih, kan kamu masih punya uang gaji," ucap Ima heran.


"Ngasih ibu,"


"ngasih ibu? jangan ngadi ngadi A', ini tuh uang aku tabung buat pendidikan anak anak, rencananya aku mau buka rekening atas nama mereka," tegas Ima.


"Tapi nggak enak ma, kita dapat uang, gak inget sama ibu," ucap Agus keukeuh.


"Denger ya A' kali ini maaf aku nolak keinginan mu, sudah cukup ibu kamu beri uang bulanan yang jauh lebih besar dengan apa yang kamu berikan untukku dan anak-anak, bulanan ibu tuh lebih dari setengah uang bulananku, belum untuk lintang, jadi jangan berharap untuk mendapatkan lagi uang hasil jual rumah, kalau pun ada nanti kalo Alana sudah bayar semua, kalo yang ini kagak bakalan aku keluarin sepeserpun, kalo bukan untuk keperluan anak anak!" tegas Ima kemudian beranjak ke kamar. "enak aja, apa apa di kasih, enak dikamu rugi di aku." gerutunya.


Esoknya setelah bubaran sekolah, Ima mengajak kedua anaknya untuk membuka rekening atas nama mereka.


sedangkan Agus hanya memberengut kesal karena gak di kasih sepeserpun.


'Biarlah aku di katain bagaimana pun, toh ini untuk anak-anak, aku gak tahu kedepannya gimana, kalo anak-anak sudah terjamun aku gak bakal khawatir kalo suatu hari meninggal kan mereka."


Sementara bu Asih yang mendengar bahwa Alana sudah membayar rumah Agus pun bertanya sama anaknya.


"Iya bu, kemarin aku ke sana dan telah mentransfer uangnya walaupun belum semua, nanti sisanya aku nungguin dari Gilang.


" Kenapa gak kamu titipkan ke ibu, kalo kamu kasih Ima, yang ada habis buat poya-poya!"


"Ibu, stop ikut campur urusan A' Agus, mau untuk apapun itu hak nya mereka, lagian kapan teh Ima poya-poya, uang gaji A' Agus aja gedean ke ibu daripada ke teh Ima dan anaknya, ibu tahu sendiri kan, seharusnya ibu tuh bersyukur punya menantu kayak teh Ima yang gak selalu menuntut lebih." Alana mulai kesal dengan ibunya.


"Halah, kamu aja yang so tahu, kemarin aja beli daster sampai sepuluh biji, apa itu bukan poya-poya namanya," bu Asih ngotot dengan pendapat nya.


"Bu, harga daster berapa sih, paling satuannya gak lebih dari tujuh puluh ribuan, sementara gamis ibu aja ada yang harga sejuta bahkan lebih, tuh gamis yang kemarin ibu pake tuh harganya bisa dapat sekodi daster yang teh Ima beli, ya sudahlah terserah ibu, susah ngomong sama ibu mah, merasa diri paling benar!" Alana meninggal kan ibunya yang masih terus ngomel.


PERKARA DUIT AJA BIKIN RIBUT


--


---

__ADS_1


__ADS_2