
🌺🌺🌺
Happy Reading
Pop Iqlima
Namaku Iqlima Khairunnisa, aku anak bungsu dari 4 bersaudara, namun aku juga satu-satunya yang pernah gagal berumah tangga, aku janda dengan 2 anak yang sudah menginjak remaja, anak sulung ku Rakana Gusta Pratama berusia 15 thn dan sudah duduk di SMA sedangkan si bungsu Reyna Gusti pratiwi berusia 12 thn.
Almarhum ayahku seorang pensiunan pegawai negeri begitu juga dengan ibuku. ketiga kakakku mengikuti jejak kedua orang tuaku menjadi pegawai negri, hanya aku si bungsu yang jauh dari harapan mereka, jangan kan menjadi seorang pegawai negri bahkan bangku kuliah pun tak pernah aku duduki, aku menikah seminggu sebelum pengumuman kelulusan.
Tak bisa di pungkiri bahwa rasa sesal itu pasti ada, aku tak pernah mendengar dan menuruti nasihat kedua orang tuaku. yang menikah di usia muda, bahkan sempat mendengar omongan tetangga yang sangat sangat menyakitkan hati, mereka mengira aku menikah karena insiden, padahal semua itu tidak benar,se bar-bar nya aku sebebasnya aku, tetap aku tahu batasan dalam pergaulan,jangankan melakukan hal yang memalukan dan merendahkan diri sendiri pacaran pun aku tak pernah.memang banyak teman yang suka bahkan terang terangan nembak aku untuk menjadi pacar, tapi aku slalu menolaknya dengan alasan aku tak mau pacaran, bahkan saat Agus ( yang sekarang jadi mantan suami) nembak aku meminta aku untuk jadi pacarnya aku tolak, tapi aku memberikan pilihan kalo ia bener-bener menginginkan aku maka ia harus melamar aku untuk jadikan pengantinnya, dan ia telah membuktikannya.
Awal pernikahan aku langsung ikut suamiku ke kampung nya, dan disitulah awal dari keterpurukan ku, pergaulan aku di batasi, suamiku pencemburu, belum mertua yang slalu mencampuri urusan rumah tangga ku dia bagaikan CCTV berjalan, yang setiap saat melaporkan nya pada anak kesayangan ya, dan anehnya suamiku selalu mempercayai nya tanpa mencari bukti, aku yang belum dewasa di buat nurut akan semua peraturannya.
Di tahun kedua pernikahan baru aku bisa merasakan kenyamanan, ketika aku keluar dari pondok mertua indah dan menempati rumah sendiri apalagi si sulung juga sudah hadir menyapa kami, aku mulai ikut kegiatan sosial, menjadi relawan di posyandu dan juga kegiatan kegiatan lainnya, lumayan untuk mengisi waktu yang banyak terbuang.
Saat Raka berusia 3 thn aku hamil anak kedua, dan suami harus kerja ke luar pulau, di usia kehamilan 3 bulan dia berangkat dan janji akan pulang ketika sudah dekat masa kelahiran, aku gak bisa mencegah walau hati sempat gak rela untuk berpisah, namun demi perbaikan ekonomi aku hanya bisa pasrah.
Dan di situlah awal mula aku merasakan kesakitan ku, aku harus selalu menahan rasa ngidam ku karena gak ada yang memperhatikan dan merasakannya, apalagi saat suami mengirimkan penghasilan nya aku hanya bisa pasrah karena ibu mertua yang mengatur segala nya, termasuk uang belanja yang sangat jauh dari kata cukup, aku sering curhat dengan anakku yang belum mengerti apa. 😌
Sungguh sangat menyakitkan. keinginan di saat hamil gak pernah terpenuhi.
Pernah waktu itu aku di ajak pergi oleh keluarga suami ke kerabatnya yang lagi hajatan, kehamilan yang agak celamitan ini menginginkan sebuah makanan, namun ketika aku mengatakan pada ibu, ia malah mengomeliku, bahwa aku tak tahu malu, padahal itu mungkin bawaan bayiku.🤧
__ADS_1
Suamiku pulang ketika aku hamil menginjak 8 bulan, dan saat itu aku lagi pulang ke rumah orang tuaku, sebab aku sangat menginginkan makanan dan ibu menyuruhku untuk pulang dengan janji ia akan membuat kannya, namun balum juga itu terlaksana, suamiku sudah menjemput ku. dengan mengatakan bahwa uang yang selalu ia kirim bisa beli yang begitu gak usah ngemis minta kepada orangtuaku, dia sangat marah, padahal uang tersebut tak pernah sampai di tanganku, ibu mertua yang mengatur nya, bahkan untuk keperluan bayiku aja dia tak mau mengeluarkan nya.
"Ngapain beli yang baru, tuh bekas raka juga masih bagus, jadi orang tuh jangan boros, lihat suamimu sampai harus nyebrang lautan untuk memenuhi semua keinginanmu, seharusnya kamu tuh sadar diri, jangan suka menyusahkan!" itu semua selalu ia ucapkan setiap aku bilang aku mau beli ini beli itu untuk keperluan bayiku, bukan untuk keperluan pribadiku.
Aku hanya bisa diam tak pernah membantah ucapan nya.
Suamiku menegurku ketika mengetahui bahwa aku belum membeli apapun untuk keperluan bayiku.
"Uang yang selama ini aku kirim kamu belikan apa, sehingga untuk keperluan bayi saja tidak cukup, masa harus aku juga yang beli?" tanya nya heran.
"Beli apa A, jangan kan untuk membeli barang untuk makan dan jajan Raka aja gak cukup." lirihku.
"Masa uang 10 juta sebulan gak cukup?" sentak Suamiku, yang justru membuat aku terhenyak kaget, sebab selama ini ibu mertua hanya memberi 300 ribu seminggu. jadi kalo di total hanya 1200 aja.
Dengan terpaksa aku meminjam uang pada kakakku untuk membeli peralatan bayi yang bekas Raka gak bisa terpakai lagi. bahkan sampai Reyna lahirpun suamiku gak mengeluarkan uang lagi.
Dari situlah aku mulai memutar otakku untuk memenuhi segala keperluan ku, sebab suamiku gak pernah memberiku uang selain untuk makan.
"Kamu terlalu boros, gak bisa ngatur pengeluaran," itu yang selalu jadi alasan. penghasilan nya selalu di serahkan kepada ibunya yang beralasan untuk biaya adik-adiknya, padahal biaya kuliah Alana waktu itu sudah di tanggung oleh suaminya.
Otak Aku lumayan pinter, sehingga semua yang ku pelajari cepat tertangkap dalam memori otakku, dan aku bisa memanfaatkan semuanya dengan membuka jalan usaha, aku membuat aneka macam makanan dengan modal pemberian ibuku. hingga karena semangat itu aku berhasil mendirikan industri rumahan bareng tetangga yang selama ini menjadi teman ku. di bab awal aku sudah tulis apa saja kegiatan aku.
Hingga saat aku jatuh sakit, dan usaha yang selama ini aku rintis dengan merangkak sampai bisa berjalan HANCUR seketika. semua karena campur tangan keluarga mantan suamiku yang tak becus mengurusnya.
__ADS_1
Ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga itulah hal yang terjadi kala itu, saat aku sakit, usahaku hancur kedua orang tua ku meninggal, dan suamiku tak peduli ia asik dengan hobinya bahkan dengan tak punya hati menduakan aku dengan mantan kekasihnya, hingga aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuaku.
Atas saran dan juga bantuan sahabat kecilku aku mulai kembali menjalankan usaha yang telah hancur dan kini berhasil bahkan sudah membuka toko kecil kecilan.
Aku merasa bahagia walau harus kehilangan keluarga, aku di cerai saat aku koma akibat KDRT.
Dan ketika aku sudah pulih bahkan bisa berlari dari keterpurukan, ia... mantan suamiku datang kembali meminta aku untuk rujuk, aku memang selalu menanggapi dengan canda, aku berharap ia tak amnesia. yang membuat lupa apa yang terjadi padaku dulu semua akibat perbuatannya.
Banyak yang menyarankan aku untuk kembali padanya, termasuk kakak kakakku juga sahabatku, Linda.
Aku sedikitpun tak pernah menyalahkan mereka, yang ingin melihat aku bahagia, keluarga yang lengkap, secara Agus dan keluarga nya sudah berubah, katanya, tapi entahlah....
Hatiku belum bisa menerimanya, sejujurnya rasa itu masih ada, mungkin aku bisa memaafkan semua perbuatan nya tapi... aku tak pernah bisa melupakan nya. rasa sakit itu selalu mengiris hatiku meskipun aku mencoba untuk menepis nya.
Sekarang aku hanya menyerah kan diri pada Takdir, aku gak berani untuk bertakabur untuk menghujatnya atau malah memujanya. biarlah semua mengalir sesuai alurnya.
jika memang ia masih berjodoh denganku semoga saja, ia benar-benar telah berubah, dan jikapun tak berjodoh aku ikhlas.
Dan yang pasti sekarang aku sedang nyaman dalam posisi seperti ini, hidup bertiga dengan anak-anak ku, menjalankan usaha dengan sahabatku.
Bila ada yang bertanya, emang gak kesepian??
Sepi... pasti ada, aku ingin seperti yang lain hidup bahagia dengan keluarga yang utuh, namun aku gak berani membuka hati, aku takut kejadian yang sama akan kembali menimpa, aku masih Trauma.
__ADS_1