
🌺🌺🌺
Happy Reading
AKU TERTAWA, KETIKA TERINGAT PERNAH NENANGISIMU. NAMUN AKU MENANGIS KETIKA TERINGAT PERNAH TERTAWA BERSAMAMU.
RINDU, KU MOHON DIAMLAH
KARNA DIA TAK PANTAS LAGI UNTUK KU GENGGAM.
Mungkin kata kata itu cocok untuk di gambar kan pada hati Iqlima saat ini, dimana ia terkadang menangisi pernikahan nya yang pernah merasakan bahagia. hingga di balik semuanya kadang terselip rasa rindu memasuki celah hati yang kemudian di tepisnya oleh rasa benci.
Benci akan sebuah pengkhianatan, benci karena merasa tidak pernah di hargai, benci karena ia merasa telah di abaikan.
Bagaimana tidak, baru saja ia pulih dari koma bukan support untuk kesembuhannya yang di dapat tapi kata talak yang ia terima, dan yang lebih menyakitkan, talak yang dia ucapkan, hanya melalui surat, tanpa pamit yang berarti, ia malah di tinggal pergi, sakit .... sakit tak berdarah.
Sekian lama ia berjuang untuk sembuh dari sakit luar dan dalam pisik dan psikis di terjang mati matian, tubuh limbung hampir terhuyung karena tak ada bahu tuk bersandar tak ada tangan buat pegangan. ia merangkak untuk berjalan, Dan ketika ia baru saja melupakan dan pulih dari semuanya, dia kembali datang, merusak semua perjuangannya untuk melupakan, ia kembali datang, entah untuk tujuan apa.
Iqlima masih terdiam di depan jendela, menatap rembulan yang masih samar seperti hatinya yang belum bisa menggambarkan perasaan apa yang kini muncul dalam hati.
kedatangan Agus benar benar telah menggoyahkan perasaannya Rindu dan benci berbaur jadi satu seperti kapal yang sedang terombang ambing di tengah lautan dan bingung menentukan arah, dermaga mana yang akan jadi sandaran.
Lamunannya berakhir ketika suara HP nya berdering.
"Hallo, ada apa, jun?" yang ternyata orang yang menghubungi nya itu juna.
"Im, tolong aku, apa kamu bersedia untuk datang ke rumah ku sekarang?" suara juna nampak khawatir.
"Ada apa, apa yang terjadi?"
"Tolong lihat keadaan kevin, tadi dia menelpon, tapi tiba-tiba menjerit dan HP nya langsung mati, aku hubungi lagi gak tersambung, aku takut terjadi apa apa,"
"Memang nya sekarang kamu di mana?"
"Aku mendadak dapat tugas ke luar kota, kemungkinan baru besok kembali."
"Astaghfirullah, juna... kenapa gak suruh kevin nginep lagi di sini, ya udah aku sekarang ke sana,"
"Iya, makasih ya Ima, maaf slalu merepotkan."
"Aku tutup dulu ya, assalamu'alaikum."
Ima bergegas memakai jaket, lalu keluar, di luar ia melihat Linda dan kang Rusli masih menjaga tokonya, ia kemudian menghampiri keduanya.
__ADS_1
"kang Rusli minta tolong sebentar, bisa?" ucap nya ragu.
"Tolong apa?"
"Anterin ke rumah juna sebentar, lin gak papa kan?" Ima meliril ke arah Linda minta persetujuan.
"Memang ada apa sih keliatan khawatir gitu?"
"Barusan juna telpon minta tolong jengukin kevin, soal nya HP nya gak bisa di hubungi, sedang juna ada si luar kota, ia khawatir,"
"Ya udah, pergi saja takutnya terjadi apa apa, tapi, sebentar aku ikut, biar tokonya di tutup aja, udah sepi ini, kang! tolong bantuin dulu," Linda di bantu suaminya dan ima kemudian membereskan toko, lampunya di padamkan dan pintu di kunci, setelah semua beres ketiga nya berangkat ke rumah juna dengan menggunakan mobil.
Kerika sampai ketiga nya sempat panik, karena semua lampu mati dan tampak sunyi.
Tok tok tok
Ima mengetuk pintu tapi gak ada suara orang pun, Ima kembali mengetuk pintu sambil memanggil nama kevin.
"Kevin... Vin kamu di dalam? buka pintu nya ini tante Ima," teriaknya tapi tetap tak ada jawaban.
"Aduh, gimana kang?" Ima melihat ke arak Rusli dan Linda. namun tiba-tiba mereka saling pandang ketika mendengar suara rintihan dari arah dalam.
"Kevin... kamu kah itu, ini tante Ima, kamu gak papa kan, buka pintunya!" Ima kembali menggedor pintu sambil berteriak, ia begitu khawatir takut terjadi apa apa dengan anak sahabat nya itu.
ketika akan mendobrak pintu, ada yang datang.
"Kalian sedang apa di sini, koq gelap gelapan?"
"Ini pak Rt, kebetulan lewat, aku tadi dapat telpon dari pak juna di suruh liatin kevin, tapi begini keadaannya, jadi khawatir di panggil gak ada yang nyahut malah terdengar suara rintihan di dalam, makanya ini pintunya mau kami dobrak."
"Oh begitu, ya udah bapak bantu."
Sampai beberapa kali dorongan pintu akhirnya terbuka, Ima masuk kemudian mencari saklar lampu dan menghidupkan nya.
Setelah keadaan terang ia melihat tubuh kevin terkapar dekat TV, Ima pun menherit kemudian menghampiri nya.
"Kevin... kamu kenapa, ini tante Ima, sayang... " Ima mengguncangkan tubuh kecin dan kaget sebab tubuh kevin panas,"
"Tubuh nya panas lin, kevin demam apa kita bawa ke rumah sakit aja?" Ima menatap Linda dan meminta pendapat Linda.
"Gini aja dulu, sekarang kita bawa ke rumah mu, lalu kita panggil dokter," Saran Linda di setujui semua nya, Kevin di gendong kang Rusli di bawa ke mobil.
"Pak Rt, kami bawa kevin dulu, titip rumah juna ya, juna nya lagi di luar kota," Ucap Ima.
__ADS_1
"Iya bu Ima, jangan khawatir, kecin cepat sembuh ya," pak Rt mengusap tubuh kevin yang berbantalkan paha Ima, tak lama mobil meninggalkan rumah juna.
Kevin di bawa ke kamar tamu, sementara Linda menelpon dokter yang jaga di puskesmas dan berjanji akan segera datang memeriksa kevin.
Tak lama dokter pun datang dan memeriksa Kevin.
"Gimana dok, Kevin sakit apa?" tanya Ima penasaran.
"Gak ada yang serius, cuma asam lambung nya naik, nanti kasih makan aja, sama minum air hangat, obatnya di minumkan juga!" Ucap dokter sambil memberikan beberapa macam obat dengan dosisnya. kemudian ia pamit setelah Ima membayar.
"Lin, tolong temani aku ya, takut terjadi sesuatu, aku gak ada temen," ucap Ima kemudian ia pergi ke dapur untuk membuat teh hangat sama nasi untuk kevin makan.
Ima membantu kevin untuk duduk kemudian memberikan piring agar kevin makan.
"Atau mau tante suapin tanya Ima sambil menyodorkan gelas untuk di minum, kevin menggelengkan kepala, terus makan.
"Vin, papa mu tadi tlpon, ia khawatir karena kamu gak bisa di hubungi, kenapa?"
"Tadi kevin mau masak mie, tapi gas nya habis, trus kevin mau bilang papa, tapi hape nya kehabisan kuota," Kevin menundukan wajahnya.
"Astaghfirullah, vin, jadi kamu belum makan? kenapa gak ke sini, kan bisa makan di sini," Ima merasa kasihan melihat keadaan kevin.
"Tadi juga kevin ke sini, tapi melihat kak Raka sama Reyna pergi,"
"Kan ada tante Vin, kalo tante Ima lagi keluar ada tante Linda, lain kali jangan gitu lagi ya!" Ima mengusap punggung kevin, sekarang kamu minum obatnya terus tidur,"
Kevin mengangguk, setelah minum obat dia membaringkan tubuhnya, Ima menyelimuti tubuh kevin, kemudian sebelum keluar ia berkata, "Kalo mau apa apa tante di luar ya,"
"Huff, kasian juga tuh anak," Ima duduk di sebelah Linda. "Astaghfirullah, lupa belum ngehubungin bapaknya, takutnya dia masih khawatir," Ima meraih HP yang ada di atas meja tak peduli dengan Linda yang pura-pura berdehem beberapa kali. telpon tersambung, tak lama terdengar suara juna.
"Hallo im, bagaimana apa kevin baik baik saja?"
"Kevin, baik sekarang dia tertidur, aku sama Linda menjemputnya tadi, sekarang nginap di sini."
"Syukur lah kalo gitu, tapi kenapa tlponya gak bisa di hubungi?"
"Kamu tuh gak perhatian sama anak, mestinya cek kuota dan gas," Ima ngomel sama Juna.
"Maksudnya?"
"Kevin, tuh kelaparan tadi, karena mau bikin mie gas nya habis juga kuota hape-nya, lain kali hal sekecil itu tuh di perhatikan," Ima terus aja ngomel, sementara yang di omelin di sebrang telpon hanya tersenyum, "Dah ah, capek ngomong mulu dari tadi, assalamu'alaikum," tak menunggu jawaban dari juna Ima nutup telponnya, mukanya cemberut merasa kesal sama juna karena kelalaiannya kevin jadi sakit.
"Sudah cocok, lo jadi emaknya si kecin, Im," kekeh Linda yang sedari tadi mendengar Ima ngomelin juna. "Sudah lah kalian nikah aja, biar saling jaga, lo bisa jagain si kevin sepenuhnya, kasian." ucapan Linda membuat Ima melongo.
__ADS_1