IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 34


__ADS_3

🌺🌺🌺Happy Reading


Malam semakin larut.


Ima yang merasa sangat kesakitan akhirnya memanggil Raka, ia minta tolong untuk di buatkan teh hangat, dan meminta air panas ke dalam botol guna meredam rasa sakit yang semakin menjalar sampai ke ulu hatinya.


"Ma, kita ke rumah sakit aja ya, kaka takut sakit mama tambah parah," pinta Raka khawatir, sedangkan Reyna tiduran di dekat kaki mama nya, sambil memijit mijit tapak kaki Ima.


"Gak papa sayang, ini mama udah mendingan, kalo kalian ngantuk tidur aja, supaya besok gak kesiangan ke Sekolah." Ima senyum di paksakan takut anaknya khawatir.


Tapi, ma---"


"Tidur lah! adek mau tidur sama mama? sini!" Ucap Ima sambil menggeserkan tubuh nya memberi tempat untuk Reyna yang di ikuti oleh Raka, akhirnya malam itu mereka tidur bertiga.


Sementara Agus setelah mengantarkan Anita pulang, ia pun langsung pulang, tapi begitu sampai di rumah, belum juga turun dari mobil, ibu nya nelpon memberi tahu bahwa bapak nya sakit. ia pun memutuskan kan untuk pergi lagi dan menginap di rumah ibu nya.


Pagi nya sakit Ima bukannya mereda tapi semakin menjadi, Raka yang kebingungan mencoba menghubungi ayahnya tapi beberapa kali di hubungi telponnya gak juga aktip, akhirnya Raka pergi ke rumah wak neni untuk memberi tahu sekaligus minta tolong untuk melihat keadaan mama nya.


Tok tok tok.


"Assalamu'alaikum, waa... " Raka mengetuk pintu rumah WA Neni yang waktu itu lagi menjerang air buat nyeduh kopi.


Cek lek pintu terbuka.


"Waalaikum salam, Raka, ada apa ayok masuk!" wak Neni mengajak Raka untuk masuk ke rumah.


"Gak usah wak, kaka buru buru, itu mama sakit, Raka bingung ayah gak pulang, raka mau minta tolong!" Ucap Raka terlihat gugup dan wajahnya tampak khawatir.


"Sakit, sejak kapan, sebentar wawa pake kerudung dulu, kalo gitu kamu pulang duluan aja, nanti wawa nyusul sekalian ngasih tahu WA Indra," WA neni akhirnya masuk lagi untuk memberi tahu WA Indra sekalian mematikan kompor, lalu pergi ke rumah Ima.


Di kamar Ima,


Reyna sedang menggantikan kompres di kening mama nya, sekitar jam 3 pagi, Ima mengalami demam.

__ADS_1


"Ima, kamu kenapa, Ya Alloh badanmu panas begini," teh neni menempelkan t punggung tangan ke kening Ima yang sedang menggigil kedinginan.


"Kang, tolong panggil dokter! " pintanya sambil melirik Indra suaminya yang berdiri di dekat pintu kamar.


"Raka, ade ...ayahmu mana?" Neni menanyakan keberadaan Agus iparnya.


"Gak tahu, di telpon juga gak aktif," Ucap raka, matanya sedikit merah menahan tangis.


"Sejak kapan pergi nya? lembur apa ke mana? " tanya nya lagi sambil terus meminit kaki Ima.


"Tadi malam mama sama ayah berantem, trus ayah pergi dan belum balik lagi-- " Tiba tiba Reyna ngomong yg langsung terdiam sambil menggaruk kepala ketika melihat kakaknya yang menatap tajam.


"Berantem, kenapa?" WA Neni melirik Raka dan Reyna tapi mereka hanya terdiam membuat wak Neni menggeleng kan kepala.


Tak lama kang Indra datang dengan seorang dokter, lalu memeriksa keadaan Ima. dan berkata, "Tubuh nya panas, pasien juga mengalami dehidrasi, jadi berikan minum yang banyak, atau sebaiknya di rawat di klinik atau puskesmas, biar bisa di infus agar dehidrasi nya cepat membaik, lagi pula ini tensi nya tinggi."


"Iya dok, kami nunggu suaminya dulu," ucap wak Neni.


"Baiklah, tapi usahakan ada yang masuk ke perutnya supaya bisa minum obat ini," dokter pun memberikan beberapa obat untuk Ima,


"Waalaikumsalam."


kang Indra mengantarkan dokter sampai ke halaman setelah dokter pergi ia masuk kembali.


"Raka adek sebaiknya kalian sekolah saja, mama mu biar wawa yang tunggu, sebentar biar wawa izin dulu, gak bisa masuk sekolah hari ini, " wak Neni nyuruh Raka dan Reyna untuk pergi sekolah sementara ia minta izin bahwa hari ini dia gak bisa mengajar.


ketiga kakak-kakaknya Ima adalah seorang guru dan mengajar di sekolah yang sama, tapi bukan di tempat sekolah nya Reyna, sebab Reyna masih sekolah di tempat yang lama, untuk pindah tanggung sebab sebentar lagi ujian ke lulusan.


"Tapi adek gak mau ninggalin mama, adek takut, " Reyna malah menangis sambil mendekati mama nya.


"Raka juga mau izin aja wa," Ucap Raka sambil mengusap air matanya yang mengalir dia tak tega meninggalkan mama nya yang terus menggigil sementara tubuhnya panas.


"Kalo begitu telpon lagi ayahmu, kalo masih gak aktif coba tanyakan sama ateu mu siapa tahu dia ada di rumah nenek! " perintah WA Neni yang langsung di iya kan sama Raka.

__ADS_1


"Jangan! biarkan jangan di kasih tahu, " cegah Ima yang terdengar lirih.


"Kenapa? kalo nanti dia nyalahin kita gimana? " ucap WA Neni.


"Gak papa, jangan ada yang memberi tahu," Ima kembali mencegah untuk memberi tahu Agus, kemudian ia mengerang kesakitan sambil memegang ulu hatinya.


"Baiklah, tapi kita ke Rumah sakit ya, biar di infus, " WA Neni kembali mengajak Ima untuk pergi berobat, tapi Ima menggeleng, nanti juga sembuh katanya.


"Kalo sampai siang belum juga reda, jangan nolak lagi ya, harus di periksa, soalnya panasnya gak turun turun, oke! " tegas WA Neni yang terpaksa di angguki oleh Ima.


"Tidurlah aku buatin bubur dulu! dek, tungguin mama ya, wawa ke dapur dulu! " suruhnya kemudian yang di iya kan sama Raka dan Reyna.


Sampai tengah hari sakit Ima gak mereda juga, kedua kakak dan iparnya juga sudah datang dan bersiap untuk mengantarkan Ima ke klinik, sementara Agus gak ada khabar apalagi pulang, Raka sengaja gak memberi tahu ayah nya karena perintah sang mama.


Tiba di klinik IGD, Ima langsung mendapat pertolongan, dan di ambil sempel darah buat di lab. setelah di pindahkan ke ruang rawat inap. ia harus istirahat total, stres dan banyak pikiran memicu terkena penyakit yang serius, jadi dokter menyarankan untuk rilek dan istirahat dari segala macam kegiatan yang mengakibatkan sakit dan tekanan darahnya naik.


Sudah 2 hari Ima di rawat, selama itu pula Agus tak pernah pulang ke rumah, hingga ia tak pernah tahu keadaan Ima, hingga di hari ketiga ia pulang untuk mengambil baju ganti.


Rumah nampak sepi semua pintu dan jendela terkunci bahkan gorden dan lampu pun menyala padahal hari masih sore.


"Pada kemana sih, koq gak ada orang," gerutunya, lalu ia berjalan ke arah belakang rumah niatnya mau bertanya sama Linda.


"Apa? di rumah sakit, koq gak ada yang ngasih tahu," teriaknya kaget sampe Linda menutup kupingnya.


"Lah, emang selama ini kamu kemana?" tanya Linda heran.


"Nungguin bapak sakit, di rumah sakit mana?" tanya nya kemudian, Linda menyebutkan nama rumah sakit tempat iqlima si rawat. Agus lalu pergi meninggalkan Linda dan langsung pergi menuju rumah sakit. dengan keadaan emosi karena tak di kasih tahu bahwa Ima istrinya sakit.


"Ini pasti sengaja, pasti perbuatan teh Neni, emang kurang ajar banget tuh orang," sepanjang jalan Agus menggerutu dan mengumpat menyalurkan Neni kakak kandung Ima.


Sesampainya di lobby rumah sakit langsung bertanya kepada perawat di mana letak kamar rawat Ima, dan berjalan tergesa-gesa.


Brak

__ADS_1


Pintu di buka dengan keras membuat yang berada di dalam terperanjat kaget.


"


__ADS_2