IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 72


__ADS_3

MEMBERI KESEMPATAN KEDUA KETIGA DAN SETERUSNYA, BUKAN UNTUK MENGULANG KESALAHAN YANG SAMA, TAPI LEBIH KE HATI HATI DAN UNTUK INTRIOPEKSI DIRI.


🌺🌺🌺


Happy Reading


Sudah 5 bulan lebih Iqlima dan Agus kembali bersama dalam mahligai rumah tangga. Sejauh itu pula Agus selalu berusaha untuk tidak pernah menyia nyiakan kesempatan yang telah Ima berikan, terbukti dengan semua prilaku yang ia perlihatkan, ia tak ingin anak anak dan istrinya kembali terluka dan kecewa yang bisa menyebabkan kembali retaknya hubungan mereka.


Prioritas utama nya sekarang adalah keluarga. ia tak ingin kehilangan waktu berharga. karna menurutnya yang paling mahal dalam hidupnya sekarang adalah, waktu, kesempatan dan kepercayaan untuk sebuah hubungan dengan cara saling menghargai dan saling prioritaskan.


Hari ini akhir pekan mereka berempat sedang menikmati hari bahagia dengan makan bersama di resto milik Agus, yang ada di dekat kolam pemancingan.


"Ma... mama, cobain deh, punya adek enak deh!" Reyna mendekatkan garfu nya yang sebelumnya ia tusukan ke makanan yang ada di piringnya.


"Punya kaka juga enak." Raka tak mau kalah.


"Apalagi punya ayah, beuuhh... gada duanya." masing-masing menyodorkan makanan nya ke dekat Ima.


Hoeekk... hoeekk...


Tiba-tiba Ima merasa mual mencium bau dari makanan, ia langsung berlari ke arah luar saung dan memuntahkan semua makanan yang tadi telah masuk ke perutnya tak bersisa membuat ia nampak lemas.


Agus yang melihat itu buru buru mendekati dan memijit tengkuk Ima sambil berteriak minta di bikinin teh hangat ke pelayan yang kebetulan melewati saung yang ia tempati.


Setelah memapah Ima dan mendudukinya di tempat tadi ia memberikan air hangat tersebut untuk di minum Ima.


"Masih mual?" tanya Agus sambil memijit kembali tengkuk dan lengan ima, "atau kita ke dokter aja!" ucapnya.


"Gak usah, ini mungkin masuk angin saja, biar aku istirahat sebentar." ima menyenderkan punggung sambil kaki di lurus kan, mencoba rileks sejenak, sementara atas perintah agus beberapa pelayan membereskan sisa makanan mereka dan membuat minuman.


Raka memijit kaki mama nya yang terasa dingin, "Kaki mama dingin banget, apa sebaiknya kita pulang aja," Ujarnya yang di iyakan oleh Agus.


Akhirnya mereka meninggalkan resto tersebut tujuan pulang ke rumah, di jalan Agus menyarankan untuk mampir ke dokter karna khawatir melihat ima yang semakin pucat, bahkan beberapa kali mobil berhenti karna ima kembali mual dan muntah, walaupun yang keluar cuma cairan saja.


Karena sudah lemas akhirnya ima hanya pasrah ketika mobil berhenti di depan rumah sakit, dengan di bantu Agus ia turun dan berjalan perlahan menuju ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Ima di periksa oleh dokter yang kebetulan jaga, sebab ini hari libur. dokter menanyakan keluhan yang telah ima rasakan, hingga dokter menyarankan untuk di periksa ke dokter kandungan, tentu saja hal itu membuat ima dan Agus berpandangan, sebab ia paham.


"Maksud dokter, apa istri saya hamil, dok?" tanya Agus penasaran.


"Kemungkinan besar nya gitu, pak. tapi biar gak penasaran lebih baik ibu USG saja." dokter itu tersenyum kemudian menanyakan kapan terakhir ima mendapat haid.


Di tanya soal haid membuat ima terkejut, karena ia baru sadar semenjak menikah ia hanya 2 X mendapat menstruasi sedang pernikahan nya sudah masuk bulan ke 5.


Akhirnya mereka memutuskan, besok untuk kembali memeriksakan diri, sedang sekarang mereka akan pulang saja.


Sesampainya di mobil Reyna dan Raka yang khawatir dengan keadaan mama nya memberondongi pertanyaan yang di jawab oleh ima hanya tersenyum sambil berkata bahwa dirinya baik baik saja.


Begitu sampai di rumah ima segera masuk kamar di ikuti suaminya.


"Gimana kalo beneran aku hamil," Ima berucap lirih sambil mendudukkan bokongnya di pinggir ranjang.


"Lah, gak kenapa napa, kan ada suaminya." Agus tersenyum menanggapi ima.


"Haist, bukan gitu... tapi kan--"


"Tapi aku suda tua, umur ku sudah 34 tahun, Reyna aja udah gede." Ima nampak khawatir.


"Siapa bilang sudah tua? masih cantik gini." Agus malah memeluk Ima sambil mengecup pucuk kepala Ima, tak peduli Ima semakin cemberut.


"Sudah, jangan banyak pikiran, bawa rilek aja, kasian si utun kali mama nya tegang gini," Agus kembali menenangkan Ima biar gak tegang sambil mengusap perut Ima yang rata, " Utun, yang anteng di perut mama ya." kemudian mendaratkan bibir nya di perut Ima.


 


Esoknya pagi pagi sekali Ima dan Agus telah bersiap untuk kembali memeriksakan diri Ima ke dokter kandungan memastikan apakah benar atau tidaknya Ima hamil.


Setelah mendaftar mereka menunggu giliran yang kebetulan pagi itu banyak pasien yang datang.


"Antriannya masih lama, kita cari sarapan dulu ya!" Ajak Agus sambil menggenggam tangan Ima berjalan ke kantin, dan mereka pun sarapan di sana lalu kembali setelah sarapan selesai.


Terhalang 2 orang lagi giliran mereka, sementara yang satunya sudah di panggil. sembari menunggu tangan Agus tak pernah lepas menggenggam tangan Ima seakan menenangkan. hingga akhirnya suster memanggil namanya.

__ADS_1


"Ibu Iqlima Khairunnisa..."


Ima berdiri di bantu Agus lalu keduanya masuk ke ruang dokter.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi dok!"


"Waalaikumsalam, silahkan duduk bapak ibu!" Ucap dokter ramah mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi yang ada di hadapan dokter hanya terhalang meja, "ada yang bisa saya bantu?"


"Begini dok, istri saya... " Agus pun menceritakan keadaan istrinya termasuk kedatangan haidnya yang sudah terlambat.


"Untuk lebih pastinya, kita USG aja ya, bu!" dokter mempersilahkan Ima untuk berbaring di bantu oleh seorang perawat, baju Ima di singkapkan kemudian di kasih jeli diatas perut Ima, tak lama dokter menempel kan alat transducer di permukaan perut Ima, kemudian menerangkannya.


"Nah ibu, itu adalah suara detak jantung janin yang ada di perut ibu, dan seperti dugaan ibu, alhamdulillah ternyata saat ini ibu beneran hamil, dan sudah memasuki 10 minggu, ibu lihat, ini janin nya." perawat membersihkan jelas di perut Ima, kembali duduk di hadapan dokter.


"Jadi beneran saya hamil, dok?"


Dokter tersenyum sambil mengangguk.


"Di jaga ya bu, biar ibu dan bayi sehat, saya resep kan vitamin dan penguat kandungan.


Dokter pun menerangkan semuanya sesuai yang di tanyakan Ima dan Agus.


Ima di sarankan 3 sampai 4 X pemeriksaan selama kehamilan.


Mereka keluar setelah semua selesai dan beralih ke bagian apotek sampai giliran menebus obat selesai mereka menuju parkiran.


"Kamu mau beli sesuatu dulu gak?" Agus melirik Ima sebelum menjalankan mobilnya.


"Kita cari rujak dulu ya, kayaknya bakal seger tuh."


"Baiklah, go...kita cari rujak dulu jagoan," Agus mengusap perut Ima kemudian mengecupnya sekilas.


"Koq jagoan?" Ima cemberut. sedangkan Agus terkekeh.


"Oke, mau ciwik or cowok, Ayah gak masalah asalkan kalian sehat, lancar sampai lahiran, selamat keduanya, ayah senang," Agus meralat ucapan nya sebelum singa di sebelah nya ngamuk. 🤭

__ADS_1


"Aamiin... "


__ADS_2