IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 58


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Sesuai janjinya pada Iqlima, Juna mulai membuka hatinya untuk seorang wanita yang bernama Inaya, wanita yang selama ini bekerja untuk Iqlima tapi sudah di anggap adik oleh Iqlima.


Pada suatu hari ia menghubungi nomor Inayah yang di dapat kan nya dari Iqlima.


"Haloo... apa ini benar, dengan Inayah?"


"Iya, dengan siapa ya?"


"Aku, Juna, bisa kita bertemu?"


"Ada apa ya A' aku lagi di rumah, gak masuk kerja, kalo mau menanyakan teh ima A' juna bisa menghubungi teh Linda atau ceu Euis, biar aku kirimkan nomornya!" Inayah mengira juna menghubungi nya karena ada perlu dengan Iqlima, sejauh ini ia gak berani berharap, biarlah ia mencintai dalam sepi, cukup dengan melihat nya tersenyum dia sudah merasa bahagia. begitu besar cinta Inayah terhadap juna ternyata.


"Nggak, aku perlunya sama kamu, bisa kita bertemu?"


"Tapi-"


"kamu takut pacarmu tahu, ya! baiklah lupakan saja kalo gitu, anggap aku tak pernah menghubungi mu, makasih Inayah maaf aku ganggu kamu, assalamu'alaikum."


"Bu.. bukan gitu, aku gak punya pacar kok', baiklah kapan dan dimana, sebutkan saja tempat nya, aku pasti datang," Ucap Inayah cepat, ia takut juna salah paham.


"Oke, nanti aku share tempat nya, makasih nay." Juna tersenyum, lalu ia memutuskan pembicaraan nya lewat telpon dengan Inayah dan mengirimkan tempat untuk nanti ketemuan dengan Inayah.


'Bismillah, semoga ini pilihan terbaik yang telah Tuhan persiapkan untukku.'


Senyum tak pernah lepas dari bibir juna sambil terus melihat jam di pergelangan tangannya.


'Kok, aku jadi ngebet gini ya." Juna merasa tak sabar ingin cepat bertemu dengan Inayah.


 


Kurang dari 15 menit, Juna sudah sampai di sebuah cafe tempat ia janjian untuk ketemu Inayah, dia sudah duduk di tempat yang menurutnya paling strategis, karena bisa leluasa melihat keluar cafe, senyum nya mengembang ketika melihat sosok yang di tunggu muncul dan langsung menghampiri tempat duduknya.


"Maaf A' aku terlambat ya?" Inayah menangkup kan kedua tangannya sambil tersenyum, menutupi kegugupan nya. gimana gak gugup selama ini ia berusaha untuk menutupi perasaannya dan sekarang harus ketemuan berduaan, lagi.


"Gak papa, aku juga baru nyampe, silahkan duduk!" Juna tersenyum kemudian menarik kursi buat Inayah, perlakuan juna semakin membuat hati Inayah berdegup kencang.


"A.. ada apa ya A', ngajak ketemuan?"


"Santai aja, Nay, gak usah buru buru, kamu mau pesen apa?" Juna kembali memperlihatkan senyumnya melihat kegugupan Inayah.


"Terserah aja,"


Juna memanggil pelayan, kemudian menyebutkan pesanan Inayah membuat pelayan kebingungan.


"Tuh, Nay di sini tuh gak ada makanan dan minuman yang namanya terserah," juna melirik Inayah sambil senyum di tahan.

__ADS_1


Blush... Inayah yang di lirik jadi memerah mukanya apalagi saat melihat senyum pelayan yang melihat juna menggoda nya.


"Ma.. maksudnya, terserah A'a, ak..ku ngikut aja."


Akhirnya juna menyebutkan minuman dan camilan dia merasa, kasihan sama Inayah yang semakin salah tingkah.


"Santai aja Nay, kok kamu kayak nggak nyaman ketemu aku, terpaksa ya."


"Bukan gitu aku cuma.. nervous aja,"


"Nervous kenapa, tenang aku gak gigit kok, kecuali... "


"Kecuali apa?"


"Kamu yang minta, aduuh..!" juna mengaduh ketika tangannya di cubit Inayah.


"Ternyata kamu sadis juga." juna mengusap tangannya yang di cubit Inayah tapi kemudian tersenyum ketika Inayah minta maaf sambil mengusap tangannya, mereka berpandangan tapi tak lama, Inayah segera menarik tangannya yang tadi di genggam an juna saat pelayan datang membawa pesanan.


"Makasih, teh," ucap Juna yang di jawab anggukan dan senyuman pelayan tadi, sementara Inayah menundukkan wajahnya berasa malu atas perbuatan spontan nya tadi.


"Minum dulu, Nay," Juna menggeser satu gelas ke hadapan Inayah.


"Makasih, A'." Inayah kemudian mengaduk gelas minuman nya dan menyeruput nya dengan hati hati, takut tersedak.


"Nay, ada yang ingin ku sampai kan sama kamu," Ucap juna seakan memecah kecanggungan diantara mereka. "Kamu mau membantu aku nggak?"


Inayah mengangkat wajahnya menatap juna kemudian mengangguk. "Kalo aku bisa tapi. memang bantuan seperti apa?" ia mencoba bersikap wajar.


Inayah kaget, "kenapa bukannya A' juna mencintai teh Ima?"


"Justru itu, aku minta bantuan mu untuk menjadi istriku agar aku bisa melupakan nya."


"Tapi--"


"Ayolah Nay, aku tahu kamu orang yang tepat yang bisa membantu aku agar secepatnya melupakan ima, aku tidak memintamu untuk jadi pacar, tapi aku ingin kamu langsung menjadi istriku, percayalah...mungkin saat ini aku belum mencintaimu, tapi aku akan berusaha agar secepatnya mencintaimu, jadi plis bantu aku!" Juna meraih tangan Inayah dan di genggam nya erat.


"A' kamu mencintai teh Ima tapi meminta aku jadi istrimu, kenapa kamu tidak menikah dengan teh Ima saja, bukannya--"


"Ima, menolak aku, ia menyayangi aku sebagai sahabat, tidak lebih, dan aku pun berpikiran, mungkin aku juga menyayangi Ima bukan mencintai nya, untuk itu, aku ingin membuka hatiku untuk membuktikan semuanya, karena nyatanya setelah penolakan Ima aku bahkan tidak membencinya bahkan kagum dengan kejujuran nya, aku semakin yakin, saat aku melihat mu ada rasa lain, yang tidak aku rasakan dengan Ima." panjang lebar Juna mengatakan semua perasaan yang ada di hatinya.


"Tapi, kamu gak jadikan aku sebagai pelarian kan?" Inayah masih belum percaya dengan juna sepenuhnya.


"Kamu pikir aku sejahat itu, baiklah aku tidak akan memaksamu, aku juga tidak menuntut jawabannya sekarang, jika sudah punya jawabannya, apa pun itu segera hubungi aku, oke!" Juna menepuk tangan Inayah, kemudian mengajak Inayah menyantap makanan yang belum di sentuh sama sekali, akhirnya mereka pun makan.


"Makasih Nay, sudah mau menemuiku, dan mendengarkan semuanya, dan jangan lupa berpikirnya jangan lama lama ya," juna tersenyum lalu bangkit dari kursinya mengajak Inaya pergi meninggalkan cafe dan mengantarkan Inayah pulang, meskipun awalnya menolak tapi akhirnya Inayah mau juga di antar.


"Ada yang mau dibeli dulu atau mau kemana? aku siap mengantarkan kemana pun yang kamu mau." Ucap juna ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Langsung pulang aja A," jawab Inayah.

__ADS_1


"Baiklah, kita pulang sekarang." mobil pun melaju setelah di jalan raya, Juna menjalankan nya dengan kecepatan sedang, sambil ngobrol hingga gak kerasa mobil yang mereka sudah sampai ke halaman rumah Inayah. kemudian keduanya turun, setelah sampai di dekat teras, juna pamitan untuk pulang.


"Lho, A'a, gak mampir masuk dulu," tawar Inayah.


"Nggak sekarang, nanti aja kalo sudah pasti." tolak juna sambil tersenyum, "masuklah,"


"A'a dulu yang pergi." Inayah berdiri di teras.


"Baiklah." Juna akhirnya kembali masuk mobil kemudian melambaikan tangan dan melajukan mobilnya, sementara setelah mobil Juna gak kelihatan Inayah baru masuk ke dalam rumah.


"aku tidak sedang mimpi kan, ini beneran ini nyata,'


Inayah tersenyum sendiri sambil memegang dadanya yang berdegup tiada henti.


" Kenapa senyum senyum sendiri?" suara mak Nunung mengejutkan Inayah.


"Emaak... bikin kaget aja." Inayah cemberut sementara mak nunung terkekeh melihat anaknya sampai terperanjat gitu.


"Habisnya, emak perhatikan dari tadi pulang senyum terus, hayoo.. ada apa, terus tadi yang nganterin kamu siapa, kok gak diajak mampir dulu, pacarmu ya." goda mak nunung, "kenapa gak dikenalin sama emak."


"Ih, emak mah suka kepo," Inayah memeluk mak nunung, "bukan pacar kok, tapi... " Inayah sengaja menggantung ucapan nya sambil tersenyum.


"Tapi apa?"


"Calon suami." ucap Inayah sambil berlari masuk ke kamar.


"Hah... calon suami!" mak nunung balik terkejut dengan jawaban Inayah, ia kemudian menyusul Inayah hendak masuk kamar tapi keburu di kunci dari dalam.


"Yeh budak teh teu jelas pisan, neng... buka pintunya, sok atuh jelas keun ka emak, kamu mah sok bikin penasaran,


Neng... neng... " mak nunung mengetuk ngetuk pintu kamar tapi Inayah gak membukanya, akhirnya mak nunung ngeloyor pergi ke dapur sambil bicara sendiri.


'Naha enya kitu nu tadi teh calon suami si eneng, mani kasep pisan, jaba eta mobilnya bagus, pasti mahal, ayam.. ayam... "


Latah mak nunung kumat ketika tiba di dapur melihat suaminya bah Ahmad berdiri memperhatikannya.


"Abaah.....bikin kaget aja," memukul bah Ahmad.


"Emak, ku naon bicara sendiri, jiga nu can lami, abah perhatikan." ABah Ahmad tertawa melihat istrinya kaget dan latah nya kumat.


"Enak aja di bilang can lila," mak nunung cemberut.


"Ooohh... jadi sekarang mah emak teh ngaku sudah lama nya, ti iraha mak?" goda bah Ahmad yang langsung kembali kena pukulan si emak.


"Aduh emak, sakit. jangan suka KDRT seperti artis yang itu." Bah Ahmad terkekeh.


"Habisnya abah nuduh emak gila, emak tuh lagi bungah abah .... lagi bahagia! si eneng tadi pulang di antar sama pacarnya eh bukan pacar ketang tapi calon suami, iya calon suami si eneng abah, aduuuhh mani kasep, jaba jiga beuhar, da mobilnya oge mani bagus," mak nunung nyerocos nyeritain tadi tentang juna yang kata anaknya itu calon suaminya.


"Siapa mak, orang itu tadi, namanya?"

__ADS_1


"Aah! enya poho emak lupa nanyain ngarannya ka si eneng." mak nunung nepuk kening.


"Ah emak mah sok teu pararuguh, gak jelas."


__ADS_2