IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 44


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Raka dan Reyna menjerit histeris ketika melihat tangan dan tubuh mama nya lemas tak berdaya. mereka menangis sambil terus mengguncang guncang tubuh Ima.


"Ma, mama bangun ma, jangan nakut nakutin aku ma,"


Setelah agak lama Raka baru tersadar ia menyuruh adek nya untuk minta pertolongan dari Linda sahabat mamanya, tak lama Linda datang dengan gugup karena mendengar tangisan anak anak Ima, apalagi ia mendapati Ima yang pingsan dengan muka memerah dan berdarah.


"Ini bagaimana kejadiannya, sampai mama mu jadi begini, ka?" tanya nya sambil menatap tubuh sahabatnya kemudian melirik Raka yang masih menangis sambil memeluk mama nya, "kamu, ambil kayu putih dek!"


Linda pergi pergi ke dapur menuangkan air hangat ke dalam wadah yang agak besar kemudian mengambil handuk kecil.


Linda membersihkan wajah Ima yang berdarah, sambil sedikit menekannya agar tidak membengkak, setelah bersih ia menggosokkan kayu putih keseluruhan tubuh Ima, agar cepat sadar dari pingsannya.


"Ka, kenapa mama sampai begini?"


Raka akhirnya menceritakan semuanya tanpa sedikitpun di tutupi, Linda yang merasa geram sampai mengepal kan tangannya.


"Terus sekarang ke mana ayahmu?" Raka cuma menggeleng, "Sekarang kamu ke WA Neni, dan katakan keadaan mama mu sebab tak kunjung sadar juga, kita harus membawa nya ke Rumah Sakit" jelas Linda karena ia pun menjadi khawatir, Ima tak kunjung sadar.


Melihat keadaan ima, Neni jadi prihatin sekaligus khawatir tanpa pikir panjang lagi ia membawa Ima saat itu juga ke Rumah Sakit. ketika di perjalanan ia mengabari kedua adiknya dan menyuruh untuk segera menyusul ke Rumah Sakit.


Ima segera mendapat perawatan sesampainya di IGD Rumah Sakit, namun sampai berapa lama pun ia tak kunjung sadar dari pinsanbya.


"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya nya kepada dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan.


"Saat ini pasien belum sadar, kelelahan pisik dan banyak nya pikiran membuat dia stres, saat ini pasien di nyatakan koma!" ucapan dokter membuat tubuh neni dan yang lainnya lemas, apalagi Raka dan Reyna yang terus menangis dalam pelukan Linda.


"Mohon untuk segera menyelesaikan administrasi biar pasien kita pindahkan ke ruang ICU!" Seorang suster menghampiri keluarga Ima.

__ADS_1


Dan setelah mengisi administrasi, saat itu juga Ima di pindahkan ke ruang ICU.


"Lin, kamu tahu kronologis nya kenapa?" bisik neni ketika Raka dan Reyna duduk lemas dan Linda berdiri di dekat pintu sambil melihat Ima dari kaca ruangan tersebut.


"Aku gak tahu secara jelas, teh, tadi Reyna minta tolong dan kejadiannya sudah begini, tapi kata Raka itu perbuatan Agus," bisik Linda.


Neni mengepalkan tangannya, "Kurang ajar memang, dasar lelaki iblis, awas saja jika terjadi apa apa," geram neni. kemudian ia beranjak menghampiri Raka.


"Ka, sekarang kamu ajak adikmu pulang ya, biar wawa yang jagain mama di sini, Lin aku nitip keponakan ku ya," Ucap neni sambil menatap Raka dan Reyna kemudian melirik Linda, ia melirik memohon sama Linda yang kemudian di anggukinya.


"Ayok, biar nanti bi Linda nginap di rumah kalian sambil beres beres nyiapin buat besok keperluan mama mu di sini," ajaknya, setelah beberapa lama dengan bujukan akhirnya Raka mau juga pergi meninggalkan Rumah Sakit.


"WA, kalo ada apa apa tolong cepat telpon Raka!" ucapnya yang langsung di angguki uwak nya.


Β 


Sudah dua hari Ima terbaring koma, selama itu pula neni bergiliran menunggu Ima, kalo pagi Linda dan Euis juga Inayah yang nungguin, sorenya baru giliran neni adi dan adelia, Raka dan Reyna datang diantar WA Indra untuk menengok mama nya, sampai jam 7 malam, setelah itu pulang ke rumahnya yang setiap malam di temani Linda.


Kabar koma nya Ima santer terdengar sampai ke telinga juna dan Adjie yang sengaja di telpon oleh Linda tak lupa ia mengatakan akibat kejadian tersebut yang membuat juna dan adji naik pitam. Setelah melihat keadaan Ima juna dan Adjie sepakat untuk mendatangi Agus yang sampai saat ini gak keliatan


batang hidungnya.


Tak lama mereka melihat Agus keluar dari kantornya berjalan menuju parkiran.


Arjuna dan adji langsung menghadang Agus dan memepetnya hingga di pojokan yang lumayan sepi, Juna mencengkram krah baju Agus tanpa ba bi bu lagi langsung mendaratkan tinju ke wajah Agus.


"An ji ng kalian! kenapa ngeroyok gue, hah!" sentaknya sambil mengusap sudut bibir nya yang mengeluarkan darah.


"Ini belum seberapa di banding yang telah kau lakukan terhadap Ima," Juna kembali melayangkan tinjunya ke perut Agus.


"Ooh, jadi ini karena perempuan itu, di bayar berapa kalian, hah! sampai mati matian belain perempuan tak berguna itu, atau kalian telah menidurinya?" Agus tersenyum sinis sambil bertepuk tangan. "Aww" Agus berteriak ketika Adji ikut mendaratkan tinju ke muka Agus, sampai terjerembab, kemudian mendaratkan tendangan ke tubuh Agus.

__ADS_1


"Mulut mu bau, anj***!" sentak Adji.


"Sudah ku bilang, segera lepaskan dia atau aku akan berbuat lebih dari ini!" Ancam Juna kemudian meludahi Agus, dan meninggalkan nya begitu saja.


Agus mencoba duduk sambil memegang perutnya, ia berjalan sempoyongan menuju mobil.


Brak!


pintu mobil di bantingnya lalu mencengkram kemudi dengan wajah memerah menahan amarah.


"Ini semua gara gara kamu, wanita sia lan, awas aja aku gak akan membuat hidupmu tenang, Iqlima!" di tinjunya kemudi lalu setelah beberapa lama menghidupkan mobil dan memacunya seperti orang kesetanan.


Tiba di depan rumah ia turun kemudian mengetuk pintu sambil berteriak.


"Ima.... buka pintu an j ing, awas aja kau!" pintu terus di gedor nya sampai terbuka, ia masuk sambil berteriak memanggil Ima.


"Ima... di mana kau, *** ***.. keluar!"


Agus membuka pintu demi pintu tapi ia tak menemukan Ima istrinya. saking marahnya ia membanting semua barang yang ada di dekatnya, hingga suara tepuk tangan menghentikannya, ia menoleh, kemudian menghampiri orang yang bertepuk tangan tadi.


"Bagus, rusak semua, kalo belum puas sekalian bakar dengan rumahnya!"


"Kemana si Ima, gob lok sia lan, hah?" sentak nya pada Linda, yang begitu mendengar suara ribut dari rumah Sahabat nya langsung berlari.


"Ngapain kamu cari, apa belum puas telah menyakiti nya hingga membuat dia ada di gerbang kematian? sakit jiwa kamu, Agus!" Linda tak mau kalah berteriak di hadapan Agus yang saat itu ia hendak melayang kan tamparan ke Linda jadi menggantung saat mendengar teriakan seseorang.


"HENTIKAN...!!!


JANGAN LUPA LIKE KOMENNYA KOPI JUGA BOLEH 😁😁😁


makasih buat yang masih mengikuti cerita ini,

__ADS_1


lop sekebon buat readers tersayang 😘😘😘


__ADS_2