
🌺🌺🌺
Happy Reading
Setelah mencium mama nya, Reyna kembali mundur menghampiri ayah kemudian memeluknya.
Kedua orang perawat yang tadi mau me. bawa jenazah Ina pun mendekat bermaksud untuk menutup bagian wajah ima yang tadi di buka oleh raka, namun belum sempat ia menutup tiba tiba...
"Tunggu, jangan di tutup dulu!"
suara seseorang dari pintu masuk yang tergopoh menghampiri jasad Ima matanya memerah menahan tangis.
"Teteh, tolong maafin ibu, ini semua gara gara ibu, kalo kamu mau marah marah lah, tapi ibu berharap, kembali lah demi anak anakmu, maafkan ibu yang selama ini jahat sama kamu, ibu berjanji akan berubah," tangisan bu Asih mertua ima pecah, semua orang yang menyaksikan hanya me cibir dan menggerutu. mereka sem tahu kejadian sebelum ima koma, dan mereka juga tahu apa yang sudah bu Asih perbuat pada ima.
"Maaf Bu, jangan histeris begini kasian almarhumah," ucap seorang suster. tapi semua tak di hiraukan oleh bu Asih, dia menggoyangkan tubuh ima, membuat Agus cepat bertindak, ia melepaskan pelukan Reyna dan menghampiri bu Asih kemudian membawanya ke luar ruangan sambil meminta maaf pada semua orang yang ada disana.
Perawat kembali mendekat, ketika ia akan menutupi tubuh ima, ia terkejut melihat pergerakan tangan ima, kemudia memanggik temannya dan memberitahu keadaan tersebut.
"Cepat panggil dokter! mayat hidup lagi," Ucap nya yang sontak membuat semua terkejut dan kompak mengucap hamdalah.
"Alhamdulillah."
Ketika dokter tiba, suster menyuruh semua orang untuk keluar dan membiarkan dokter bekerja dengan tenang tanpa gangguan.
"Bu, bu ima, apa ibu mendengar saya? kalo ibu mendengar gerakan jari ibu," ucapan dokter yang kemudian ia mengangguk begitu melihat pergerakkan jari Ima. dokter mengeluarkan stetoskop dan memeriksa, kembali ia mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, ini semua atas kekuasaan Alloh, bu ima hidup kembali," ucapan nya di angguki semua perawat yang serempak mengucapkan hamdalah.
"Ini alatnya mau di pasang lagi, dok?" tanya seorang suster.
"Tidak usah, sebentar lagi dia terbangun, kita tunggu aja, semua organ nya sudah merespon baik," dokter tersebut membuka kelopak mata Ima kemudian menyinari nya dengan senter.
Selang beberapa menit, mata ima mengerjap perlahan terbuka.
"Kaka adek," lirih nya.
"Tenang bu, semuanya menunggu ibu di luar, ibu mau minum?" Ucap dokter sambil tersenyum ramah, kemudian meminta suster untuk memberi Ima minum.
"Sekarang ibu istirahat dulu ya!" perintah nya
"Ka.. ka.. a. ade," Ima menatap dokter.
"Setelah ibu istirahat, nanti mereka akan menemui ibu, tenang," dokter menepuk bahu ima lembut. ima pun menggangguk lemah.
Ketika dokter dan suster keluar, teh Neni cepat menghampiri, belum sempat ia bertanya dokter sudah berkata duluan.
__ADS_1
"Bu Ima, alhamdulillah sudah sadar, sekarang lagi istirahat setelah bangun akan di pindahkan ke ruang rawat inap untuk pemulihan lebih lanjut, kalo mau menemuinya nanti aja kalo sudah di ruangan, oke bapak, ibu bersyukurlah, ternyata keajaiban itu ada." dokter tersenyum kemudian pergi setelah menganggukkan kepala ketika semuanya berucap syukur dan berterima kasih.
Agus begitu mendengar bahwa Ima sudah sadar ia langsung sujud syukur, dan memeluk kedua anaknya sambil terus berucap syukur alhamdulillah.
"Keluarga ibu Ima," seorang suster memanggil.
"Iya, saya suaminya," Agus menghampiri suster.
"Tolong di urus, untuk ruang rawat inap mau pake kelas berapa, karena sebentar lagi pasien mau di pindahkan!"
"Baik Sus."
Setengah jam kemudian, Ima di pindahkan ke ruang rawat melati, guna mendapatkan perawatan paska pemulihan.
Â
Ima masih tertidur ketika Agus menemuinya.
"Ma, Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini, sekali lagi aku minta maaf, dan sesuai janjiku, mulai saat ini, aku akan pergi, demi kebaikan dan kebahagiaanmu dan anak anak, maafkan aku maafkan semua kesalahan ku yang selama ini mambuat mu sakit dan kurang nyaman, aku pergi." Agus mencium kening dan kedua pipi Ima, terakhir ia mencium kedua tangan Ima, lalu mundur perlahan dan berbalik pergi.
Teh Neni yang menyaksikan apa yang telah di lakukan Agus menangis tersedu.
"Gus, apa kamu yakin dengan semuanya, kalo Ima dan anak-anak nanya, apa yang harus teteh jawab, coba pikirkan lagi."
"Makasih teh, aku sudah yakin meskipun dengan berat hati, tolong titip mereka, aku sudah menulis surat untuk Ima, dan aku sudah menyimpan nya di laci meja di kamar, jadi teteh gak perlu menjawab apa apa, maafkan aku teh, maafkan semua perbuatan ku, sekarang aku pergi." Agus mengulurkan tangan untuk bersalaman, setelah itu ia melangkah gontai meninggalkan semuanya tanpa menoleh lagi.
--
Seminggu masa pemulihan, tubuh Ima semakin membaik, setiap hari sepulang sekolah kedua anaknya selalu menemaninya,
bahkan semua keluarga, tetangga dan para sahabat nya bergiliran menjaga nya, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Ima.
Ima tak pernah melihat Agus menemuinya.
'Apa bener kamu sudah tak membutuhkan aku lagi, A', kamu bener bener tega, apa aku memang sudah tak ada harganya di matamu,
Setiap hari Ima berharap bahwa Agus akan menemui dan menemani nya, tapi harapan hanyalah tinggal harapan, yang di nanti tak kunjung di temui.
Pernah juga saat tak ada orang Ima mencoba menghubungi nya lewat telpon, tapi tak pernah tersambung, bahkan sekedar berkirim pesan pun tak pernah terkirim. sebenarnya kemana A'a Agus, hanya itu yang selalu jadi pertanyaan dalam hatinya.
Hingga saatnya ia harus keluar meninggalkan rumah sakit pun, Agus tak datang untuk sekedar menjemputnya. hatinya benar-benar hampa.ima sangat merindukan suaminya.
Begitu sampai di rumah, Ima tersenyum bahagia, ia melihat mobil suami nya terparkir di garasi rumahnya, bahkan tampak tetangga yang menyambut nya, namun begitu masuk, Ima benar-benar kecewa, sebab sosok yang di rindukan nya tak menampakkan batang hidungnya. tapi untuk sekedar bertanya ia merasa malu.
Dengan diantar teh Neni, Ima masuk ke dalam kamar di baringkannya tubuh dengan lesu.
__ADS_1
"Istirahat lah! atau mau makan sekarang?"
"Nanti saja teh, aku mau tiduran dulu,"
"Baiklah."
Teh Neni pun keluar meninggalkan Ima yang masih termenung, teh Neni bukannya tak mengerti dengan gelagat Ima, tapi dia sendiri bingung harus bicara apa, jadi biar gak salah ucap lebih baik dia pura-pura gak tahu aja.
Sore hari nya Ima dengan di bantu Reyna anaknya mandi dengan air hangat, karena selama sakit ia gak pernah mandi dengan air dingin, setelah mandi dia merapikan dirinya, lalu berjalan perlahan keluar.
Di luar tampak kesibukan orang-orang yang akan menggelar pengajian syukuran atas kesembuhan Ima yang akan di adakan nanti malam, Ima kembali meneteskan air mata haru atas semua yang telah orang lakukan untuknya.
Ketika mata Ima melihat sosok Linda melintasi ruang makan, Ima spontan memanggilnya.
"Lin!"
Yang di panggil menoleh ketika melihat Ima melambaikan tangannya, ia pun menghampiri.
"Ada apa, apa perlu sesuatu, atau mau mau makan? biar aku ambilkan," Ucap nya.
"Nggak, nanti aja, duduk dulu ada sesuatu yang akan ku omongin,"
"Ngomong apa?" Linda tampak gugup ketika Ima ngajak bicara, sebelumnya dia sudah bisa menduga apa yang akan Ima tanyakan.
"Eeuumm, lin, apa selama ini kamu pernah melihat A' Agus?"
'Tuh kan beneran dia menanyakan Agus," monolog Linda.
"Lin, apa memang Agus sudah tak peduli lagi sama aku, bahkan dia pun tak pernah menemui aku selama aku sakit." Ima mulai terisak, Linda segera memeluknya.
"Kamu yang sabar ya, mungkin dia lagi sibuk, nanti juga pasti pulang, Agus pasti pulang menemui kamu dan anak anaknya." Linda terus mengusap punggung Ima lembut.
"Tapi kapan, Lin?"
Linda hanya tersenyum miris menyaksikan nasib sahabatnya.
Â
Sementara itu Agus di rumah kontrakan nya.
Semenjak ia meninggal kan rumah, Agus memilih ngontrak di tempat yang lumayan jauh. saat itu ia sedang melihat ke layar hape nya dengan mata tergenang melihat video dari CCTV [ Agus sengaja memasang CCTV biar bisa melihat keadaan Ima dan kedua anaknya jika ia merindukan mereka.]
Ia mengusap wajah Ima yang sedang menangis karena nya. ingin rasanya dia berlari mendatangi untuk mengusap airmata dan memeluk erat Ima.
'Lagi dan lagi aku membuat mu menangis, maafkan aku yang selalu menguras air matamu,'
__ADS_1
Agus mematikan hape nya kemudian membaringkan tubuhnya di kursi yang ia duduki.