IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 62


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Setelah masuk Ima bergegas ke dapur, sementara Linda terus mengikuti nya.


"Lo gak punya kerjaan ya selain ngikutin gue." hardik Ima ke Linda.


"Nggak," jawab Linda sambil nyengir.


"Gaje, lo!"


"Elo yang gaje."


"Lo--"


"Maksud lo apa bikin kopi gak pake gula,"


"Nah, lo kan yang gak jelas, kenapa jadi elo yang sewot, maemunah ! orangnya juga gak apa apa." Ima membuka kulkas lalu mengambil air mineral dua botol menyodorkan nya ke Linda satu, keduanya duduk berhadapan sambil minum air.


"Gue sebel aja," ucap Ima


"Sama Agus?" tanya Linda, Ima mengangguk.


"Alasannya?" Linda menatap Ima, sedang yang di tatap hanya menggeleng. sampai Linda berdecak.


"Apa harus ada alasan nya gitu?" tanya Ima


"Gak ada sih, tapi heran aja gitu, gak ada angin gak ada hujan, ujug-ujug sebel." Ucap Linda, " kali kangen baru masuk akal." Linda terkekeh ketika melihat Ima mendelik padanya.


"Im, si Juna bentar lagi nikah, lo kapan?"


"Kok nanya nya gitu, ya biarin aja, Juna nikah, apa hubungannya dengan ku?" Ima melirik heran ke Linda.


"Memang gak ada hubungannya, gue tuh cuma nanya, emang kamu mau begini terus? gak mau berubah gitu!"


"Emang gue power rangers, bisa berubah, ternyata elo tuh yang gaje bukan gue, munaroh."


"Nikah, markonah maksudnya, lo gak pingin nikah lagi?"


"Ngapain? aku sudah ngerasa nyaman begini, lin, mau ngapain juga bebas, kemana-mana gak ada yang larang." Ima kembali meneguk minumannya, "Lagian ya, nikah dah pernah, anak juga sudah ada, penghasilan juga cukup lah untuk kami bertiga, segini juga sudah uyuhan gimana cara kita bersyukur nya aja sih." Ima menghela napasnya.


"Tapi gak enak di pandang, masa lo kalah sama sendal swallow?"


"Apa hubungannya gue di bandingkan sama sendal jepit legendaris itu, lo tuh ya suka ngadi ngadi deh," Ima melihat Linda keheranan.

__ADS_1


"Pastinya ada dong, sendal aja berpasangan, masa elo enggak!" Linda tertawa.


"Tertawalah sepuasnya," Ima cemberut.


"Bukannya gitu Ima, aku teh bercanda, lo emang sudah gak ada perasaan gitu sama, Agus, lihat aja makin keren, mobil bagus usahanya juga dah oke, kalo kalian rujuk, lo tuh gak usah capek capek bertempur dengan tepung tiap hari, cukup ongkang kaki, biarlah ada gue yang susah ini yang ngerjain semuanya." Ucap Linda sambil menatap Ima.


"lagian ibu mertuamu juga kayaknya sudah berubah deh, kasian sama anak-anak mu mereka juga kan masih butuh sosok seorang ayah." lanjut nya lagi.


"Gak tahu lah, Lin, aku masih belum mikir nyampe kesitu, untuk saat ini jalanin aja kayaknya itu lebih baik untuk kewarasan ku," Ima terkekeh, "dah lah udah mau maghrib, mau sholat dulu." Ima berdiri di ikuti oleh Linda.


"Gak ada salahnya mulai saat ini, lo harus mulai di pikirkan, aku ngomong gini bukannya mau belain Agus, tapi--" Linda sengaja menggantung ucapan nya.


"Tapi??" Ima menatap Linda.


"Sholat dulu gih, aku mau nyiapin adonan dulu!" Linda mengalihkan obrolan nya.


"Emang lo gak sholat?" tanya Ima.


"Gak, lagi libur." sahut Linda dan Ima pun mengangguk paham.


Selesai sholat ima menghampiri Linda yang sedang berkutat dengan pekerjaan nya.


"Wah, rajin banget bu, dah mau selesai aja," kekeh Ima melihat Linda yang lagi mengharnir kue tart."


"Okey," ucap Ima sambil mengacungkan jempolnya.


"Im, lo beneran gak ada rasa sedikitpun sama Agus?" tanya Linda.


"Kenapa sih Linda, lo tuh mani keukeuh nanya begitu?" Ima mendongakkan wajahnya menatap Linda.


"A Sebenarnya ada yang mengganjal di hatiku, ngerasa berdosa aja sana Agus," Linda menghentikan ucapan nya sesaat menatap Ima, lalu dia berkata lagi.


"Waktu kamu koma, tak ada sedetikpun ninggalin kamu, kecuali saat bekerja, dia nungguin kamu, meratapi kamu dan tak henti selalu minta maaf sama kamu, bahkan dia berucap, jika kamu sadar karena tidak mau menyakiti kamu lagi maka ia berjanji pada dirinya sendiri untuk meninggalkan kamu." Linda menghela napasnya. sementara ima matanya mulai mengembun.


"Im, ketika mata kamu terbuka, Agus perlahan mundur dan untuk menepati janjinya dia pergi ." Linda kemudian bercerita secara detail semua kejadian di rumah sakit waktu itu, bahkan setelah sembuh pun ia terus menanyakan kabarmu, lalu kenapa tidak langsung menemuimu bahkan menalak mu hanya dengan secarik kertas, karena ia tak mau melihat kamu menangisinya.


"Lin!" Ima menangis sesenggukan di depan Linda yang tak berhenti mengusap bahu Ima.


"Satu lagi, Im, kamu tahu siapa yang mengorder roti roti kita dalam jumlah besar selama ini?" Linda menatap Ima. "Dia Agus ayah anak anakmu, makanya aku gak pernah ngizinin kamu yang ngantar, tapi aku sendiri, karena itu pesannya, dan aku tak mau melanggar pesan tersebut. Agus berhenti dari pekerjaannya, ia mengelola usaha pemancingan dan cafe, bahkan ia sudah menyiapkan satu buah ruko untuk di jadikan cafe, dan akan di serahkan buat Raka nantinya.


" Lin, kamu nggak bohong kan?" Ima menatap Linda seakan tak percaya.


"Saat ini, kamu boleh percaya atau enggak, tapi lama lama kamu akan tahu sendiri, coba pergi ke daerah simpang, di sana kamu bakal lihat cafe yang menjual roti buatan kita, dan itu toko milik Agus buat Raka, bahkan sejak toko itu berjalan, Agus tak sepeserpun menerima keuntungan toko tersebut, uangnya di tabung atas nama Raka dan Reyna." Linda terus bercerita bahkan ia memperlihatkan foto toko beserta isinya pada ima.


"Agus masih berharap sama kamu, makanya dia gak nikah lagi, jadi apa kamu masih gak mikirkan dia lagi?"

__ADS_1


"Akh, sudahlah itu terserah kamu, aku gak akan maksa, nih giliran kamu." Linda menyerahkan tugas nya ke Ima buat di selesai, tanpa protes sedikitpun Ima melanjutkan pekerjaan nya. hingga hampir 1 jam lebih baru selesai.


"Alhamdulillah, bagaimana menurut mu, bagus, nggak?" tanya Ima sambil melihat ke arah Linda yang dari tadi memperhatikan dan sekali kali mengomentari nya mesti gini dan harus begini.


"Keren, pasti Agus suka suka." jawab Linda sambil mengacungkan 2 jempolnya.


"Kok Agus sih?" Ima melirik Linda, seakan protes.


"Maksudku juna pasti suka, kalo Agus suka banget dan kagum sama yang buatnya." jawab Linda sambil tertawa. sedang Ima cuma berdecak.


Ima mengambil box untuk menyimpan kue pengantin dan di letakan di atas meja. kemudian ia merenggang kan tangan dan pinggang yang terasa pegal.


"Aku pulang ya, mau minta di pijit nih sama akang, kalo kamu mau di pijit juga aku telponin Agus ya biar datang, ampun, Im canda," Linda lekas beranjak keluar saat Ima melotot padanya, "tapi beneran juga gak papa Ima, asal halalin dulu," Bruk! pintu di tutup Linda karena Ima melempari nya dengan botol bekas minum mereka yang ada di atas meja dekat Ima.


Perlahan pintu kembali terbuka, kepala Linda menyembul, hanya kepala nya saja, " gak kena... wlee.... " menjulurkan lidah dan kembali menutup pintu, kali ini Linda benar-benar pergi.


"Dasar aneh!" Ima berdecak tapi gak lama ia senyum senyum sendiri.


Ima masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri, tak lama ia keluar dan duduk di ruang tengah, sambil nonton TV.


"Lho, kaka, belum tidur?" Ima melihat anak sulung nya keluar kamar sambil membawa gitar.


"Mau ngamen dulu, ma!" Kaka terkekeh sambil berlalu menuju pintu keluar. tak lama terdengar suara gitar yang di petik lalu suara seseorang menyanyi.


*kalau harus ku mengingat mu lagi aku tak kan sanggup dengan yang terjadi pada kita


jika melupakan mu hal yg mudah ini takan berat takan membuat hatiku lela.


kalah... kuakui aku kalah


cinta ini pahit dan tak harus memiliki


Jika aku bisa ku akan kembali


ku akan merubah takdir cinta yang ku pilih meskipun tak mungkin walaupun ku mau membawa kamu lewat mesin waktu*.


Ima termenung 'itu seperti suara... ah tak mungkin... '


Saking penasaran Ima beranjak mendekati kaca, di sibakannya tirai lalu mengintip.


Deg...


---


SUARA SIAPA SIH... 🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2