IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 73


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


Ima menikmati kehamilannya dengan begitu bahagia, ia mendapat curahan cinta dan perhatian Agus juga kedua anaknya yang begitu antusias ingin segera melihat adik kesayangan terlahir menyapa dunia.


Terkadang Ima pun merasakan seperti kebanyakan wanita hamil, rasa lemes akibat morning sickness, juga perasaannya yang sedikit sensitif, namun sejauh itu ia tetap menikmatinya.


Yang membuat Ima heran adalah, ia jadi sebel banget dengan bakso, padahal sebelum hamil ia begitu, makanan itu termasuk favourit, tapi sekarang jangankan untuk memakannya, mendengar namanya pun Ima sudah merasakan mual yang luar biasa.


Si mas penjual bakso yang suka lewat bahkan nangkring di depan rumahnya tahu, tapi ia suka banget ngejahilin Ima, ia dengan sengaja memanggil Ima dengan memukul mukul mangkok, lalu pergi sambil tertawa tawa jika ia sudah di usir, karena biasanya orang di rumah merasa kasihan jika melihat Ima lemes akibat mual jika melihat gerobak bakso.


--


Kehamilan Ima sekarang sudah memasuki semester ketiga dan ia dan suaminya pun sudah tahu jenis kelamin bayi yang di kandung nya, saat ini ia sudah mempersiapkan semuanya, dan sekarang mereka sedang menata kamar yang udah di desain yang di dominasi oleh cat warna sky blue, dari mulai lemari dan box bayi juga pakaian nya.


Tiba-tiba Ima meringis sambil sambil memegang perutnya, tangan yang satunya lagi mencengkram pinggiran box. Agus yang melihat itu dengan rasa khawatir menghampiri dan memapah Ima untuk duduk di sopa yang ada di kamar itu.


"Kamu kenapa, ma, apa mules lagi? atau sekarang aja kita ke Rumah sakit?"


"Mungkin masih kontraksi palsu, aku istirahat dulu, mungkin akibat kelelahan saja." Ima mencoba menyenderkan punggungnya ke kursi di buat rilek sambil terus mengusap perutnya yang terasa mengeras.


"Kalo begitu kamu ke kamar aja, biar aku yang selesaikan semuanya, ayo aku antar!" Agus memeluk pinggang Ima lalu membawanya ke kamar dan membantu Ima agar berbaring.


Sebelum meninggalkan Ima, di usapnya perut Ima sambil berbisik, "baik baik di perut mama ya, jangan bikin mama sakit, nanti kita periksakan ke dokter, atau mau ayah tengok dulu?" Agus terkekeh saat ada pukulan di bahunya.


"Kamu apaan sih, aku lagi kesakitan juga," Ima cemberut mendengar ucapan absurd Agus, tak urung ia juga tersenyum.


"Aku cuma menawarkan lo, ma, siapa tahu sebelumnya ia mau di tengokin dulu, lagian sebelum aku puasa lo, boleh ya?" Agus menaikan kedua alisnya sambil matanya mengerjap.


Ima kembali memukul tubuh Agus, tapi iavpu tak menolak ketika kecupan di perut Agus mulai merambat naik ke atas dan berhenti di kedua bongkahan gunung yang semakin membesar menurut Agus, ******* halus dari mulut Ima menambah gairah Agus, di sesapnya ****** kemerahan di puncak gunung tersebut, mulut Agus berpindah ke bagian atas sampai ke bibir yang selalu basah kemerahan di kulum dengan lembut, hingga ******* dari mulut Ima berubah menjadi erangan yang begitu merdu di telinga Agus.


"Ma... boleh ya?" Agus menatap mata Ima, seperti seorang anak yang meminta di beliin permen oleh ibunya.


"Tapi hati hati ya!" pintar Ima sambil mengangguk mengizinkan suaminya untuk kembali menjelajahi seluruh tubuhnya hingga tak mereka sadari, tubuh keduanya sudah sama-sama polos tak terhalang sehelai benang pun. Dan yang seharusnya terjadi pun maka terjadi lah ...🙈🙈

__ADS_1


Agus menjelajahi tubuh Ima dengan kelembutan, sehingga Ima menjadi nyaman dengan kenikmatan yang sama-sama mereka rasakan sampai akhirnya keduanya mencapai ******* bersamaan.


Setelah beristirahat sebentar, Agus mengajak Ima untuk mandi bersama, baru saja Ima membungkus tubuhnya dengan handuk kembali ia meringis merasakan sensasi mules di perutnya, agus yang melihat itu, buru buru membopong tubuh Ima kemudian membantu memakaikan pakaiannya. lala dengan terburu buru memakai pakaian nya sendiri.


"A...!!!" Ima merasakan ada cairan yang merembes ke luar dari jalan lahirnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" dengan cekatan kembali membopong tubuh Ima membawanya ke luar lalu mendudukannya di kursi, yang ada di teras, ia kembali ke dalam kamar mengambil tas yang sudah Ima persiapkan dari jauh jauh hari, kemudian mengeluarkan mobil dan membantu Ima untuk masuk dan duduk di dalam mobil.


"Ima kenapa Gus?" tanya Linda yang baru datang dari luar pagar ketika agus lagi menggeser pintunya.


"Mau lahiran, Lin. titip rumah aku mau ke rumah sakit!" tanpa menunggu jawaban Linda, Agus segera masuk ke dalam mobil, kemudian menjalankan nya perlahan.


"Hati hati, kabari aku secepatnya!" Teriak Linda yang hanya di angguki oleh Agus, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena melihat Ima gang terus kesakitan.


Tak sampai setengah jam mobil sudah terparkir di depan UGD, Agus pun meminta tolong pada perawat untuk segera membawa istrinya ke dalam ruangan pemeriksaan.


"Bapak tunggu di luar aja," perawat kemudian menutup pintu sementara Agus menunggu dengan raut cemas, tak lama pintu kembali terbuka, seorang suster ke luar.


Di genggam nya tangan Ima sambil terus mengecup kening Ima, sesekali di usapnya kening dan wajah Ima untuk mengelap keringat yang terus keluar membanjiri seluruh tubuh istrinya.


Meskipun ini kelahiran untuk yang ketiga kalinya ia tetap khawatir.


"Sabar ya, kamu wanita hebat dan kuat pasti bisa melewati semuanya dan sebentar lagi kita bertemu dengan anak kita." Agus terus menyemangati Ima.


Tak lama dokter masuk beserta dua orang perawat memeriksa jalan lahir Ima.


"Jalan lahirnya sudah lengkap, bapak hebat sudah membantu baby nya membuat jalan keluar supaya cepat." Ucapan dokter membuat Ima dan Agus merona di kedua pipinya.


"Dok--"


"Gak papa, bu, malah bagus." dokter tersenyum mengerti sebelum Ima meneruskan ucapan nya.


Sekarang siap untuk mengejan ya bu, ikuti intruksi dari saya!" Dokter pun kemudian memberikan arahan di mana harus menarik napas lalu mengeluarkan nya, hingga tak lama....

__ADS_1


Oeeekk.... oeekkk..


"Alhamdulillah... " Ucap Agus sambil kembali menciumi wajah Ima, kemudian ia menggeser tubuhnya ketika dokter meletakkan bayi merah tersebut di dada Ima, untuk mencari sumber nutrisinya.


Ima menangis haru melihat mulut bayi yang sedang mengisap ****** walaupun malu ketika melihat suster dan dokter tersenyum melihat jejak kemerahan di area tersebut.


Ima melirik Agus yang memalingkan muka karena tatapan tajam Ima seakan menyalahkan dirinya, padahal tadi sama sama menikmatinya. 🤭


Setelah agak lama suster mengambil bayi tersebut untuk di bersihkannya dulu biar Agus bisa segera meng adzani nya.


Setengah jam kemudian Ima di pindahkan ke ruang perawatan, dengan telaten Agus membersihkan seluruh tubuh Ima dengan mengelapnya memakai handuk kecil yang udah di basahi dengan air hangat terlebih dulu lalu mengganti pakaian biar nyaman.


Tak lupa ia pun memberi kabar pada Linda dan seluruh keluarganya.


Ima yang sedang tertidur terbangun ketika kedua anaknya beserta Linda datang menjenguk.


"Aiihh... lucunya adikku." Reyna begitu gembira ia menjawil pipi bayi yang masih nampak kemerahan dan tertidur di boxnya.


"Yeeaahh... posisi ku tergeser deh." Ucapnya.


"Posisi apa dek?" tanya Raka sambil mengalihkan tatapannya dari bayi ke Reyna.


"Bungsu... aku gak jadi bungsu lagi, huhu... " Reyna pura-pura menangis membuat semuanya tertawa.


"Nama nya siapa?" tanya nya kemudian.


"Noh tanyakan sama si kaka!" Agus menunjukan dagu ke arah Raka, sebab sebelum nya, Raka udah wanti wanti bahwa dialah yang akan memberikan nama pada adeknya.


"Ayah dan mama kan udah ngasih nama aku sama adek, nah nanti kalo si adek ini lahir giliran aku yang kasih nama." Ujar Raka pada saat mereka berkumpul sebulan yang lalu.


"Siapa, ka?" tanya Ima sambil tersenyum.


"Kyo,,,,, baby Kyo Arcellio." Ucap Raka mantap.

__ADS_1


__ADS_2