
🌺🌺🌺
Happy Reading
"Iqlima, elo lagi dapet?" setelah membayar di kasir Linda menyusul Ima mensejajarkan langkahnya.
"Iya, nih makanya buru buru pulang,takut keburu tembus, eh malah pingin ngebakso dulu, nyungsep lagi." Ima terkekeh sambil melirik Linda yang mencebik.
"Pantesan bawaannya uring-uringan terus misuh misuh gak jelas." omel Linda sambil meninggal kan Ima.
"Tungguin woy!" Teriak Ima sambil berjalan cepat nyusul Linda ke parkiran.
Sementara Agus dan keluarga nya yang ada di parkiran kedai masih mulai memasuki mobilnya, perlahan meninggalkan tempat tersebut.
"Gus, tadi Ima kenapa kelihatan nya terburu gitu, apa gak suka ketemu kita di sini?" Tanya bu Asih pada Agus yang menjalankan mobilnya.
"Gak tahu bu, mungkin ada keperluan lain, katanya tadi mau ke saudara nya Linda kalo gak salah dengar." Agus menyahut pertanyaan bu Asih tapi matanya pokus ke depan, sebab jalanan rame.
"Kamu ada niat mau rujuk lagi ya sama Ima?" tanya bu Asih lagi.
"Maunya gitu sih bu, lagian aku masih sangat mencintainya, dan aku juga kasian sama anak-anak." Ucap Agus. "Tapi Ima suka ngehindar gitu." Wajah Agus nampak muram.
"Kalau menurutku sih A, wajar teh Ima bersikap begitu, lagian mana ada perempuan nya yang mau begitu aja balikan sama mantan yang jelas jelas telah menyakiti nya.
apalagi A Agus, bukan hanya menyakiti hatinya, tapi pisiknya juga, teh Ima sakit sampai koma kan gegara a'a," Alana mencebikan bibirnya.
"Sudah.. sudah, kamu bisanya cuma mojokin kakakmu saja, bukannya bantu buat ngedeketin lagi." Omel bu Asih.
__ADS_1
Alana diam tak berkomentar lagi, sebab ia tahu watak ibunya, semakin di lawan semakin menjadi, sampai akhirnya mereka sampai di rumah.
---
Seminggu berlalu, Inayah sudah kembali masuk kerja, kedatangan nya di sambut senyum ceria oleh semua temen kerjanya termasuk Iqlima.
"Waahh... pengantin baru sudah masuk, gimana gimana.. cerita dong malam pengantin nya," Seru Rosa menggoda Inayah, sementara yang di hanya tersenyum.
"Rosa bisanya cuma ngeledek aja, ayok. Nay, cerita dong biar gak penasaran, secara ini kan sama sama pernikahan kedua kalian, ada bedanya gak sama yang dulu?" Celetuk Euis sambil tertawa di tahan.
"Oh iya ya... baru inget aku." Rosa menutup mulutnya.
"Pastinya seret lagi ya, secara dah lama, tapi si juna masih ingat dia, dimana letaknya?" Linda tertawa terbahak, geli sendiri dengan ucapan nya.
"Hais, bisa aja, ya masih atuh, yang begituan mah gak usah di pelajari," Ucap Inayah malu malu.
"Nya, waktu pertama dia gimana bilangnya?" Rosa mengedip ngedipkan matanya sama Rosa.
"Kalian bahas apa?" Ima mengerutkan kedua alisnya.
"Ini teh, pengantin baru lagi cerita." ucap Rosa.
"Siapa yang cerita? kamu yang gencar nanya." Protes Inayah sambil mendelik ke arah Rosa.
"Kalian cerita begitu di hadapan seorang gadis? sungguh terlalu.. ck." Ima berdecak sambil nunjuk ke arah Alifa yang hanya tersenyum. "Sabar Ifa, kita sama, sama-sama jones." Ima memasang wajah sedih sam il merangkul pundak Alifa.
"Mending Alifa yang gak pernah ngerasain, paling cuma penasaran, nah ini yang bahaya, pernah ngerasain dan sudah lama gak ada yang grepein, sabar ya jangan sampai ngebayangin nanti nyut nyutan." Linda sukses meledek Ima yang langsung berdiri dan nyamperin Linda langsung kepala Linda di jepitnya antara tangan dan tubuh, Linda di ketekin Ima, sementara yang lain tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
"Ampun gak?" Ima merasa gemes banget sama Linda yang selalu punya banyak topik buat ngeledek nya.
"Iya deh, ampun.. Ima gue eungap."
Ima baru melepaskan Linda setelah minta ampun. mereka kemudian beranjak ketempat masing-masing begitu pun Ima, saat ini ia minta laporan mingguan dari Rosa yang selama ini menggantikan Inayah.
Ima menghitung semua pemasukan dan pengeluarannya, lalu ia memanggik Linda untuk menemuinya di ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Linda sambil duduk di sebelah Ima.
"Gue habis menghitung pendapatan bulan ini, alhamdulillah meningkat drastis." Ucap Ima sambil menunjuk angka yang tertera di layar laptop.
"Ini beneran kemajuan yang luar biasa, tapi semua tak luput karena kerja sama kita dengan resto dan cafe Agus." Ucap Linda sangat antusias, " terus rencana selanjutnya apa?"
"Nanti bisa kita bicarakan lagi, sekarang, sekarang lo hitung dulu uang ini, terus pisahin yang buat upah, sekalian masukin amplop, sama bonusnya juga, langsung bagikan, hari minggu besok kita liburan." Ima membuka tas hitam yang berisi sejumlah uang berikut amplop. "Ini catatan nya."
"Baik, bos!" Ima terkekeh dengan ucapan Linda. "oh ya, besok Agus meminta kita untuk bertemu." lanjut Linda sementara tangannya sibuk menghitung lembar demi lembar untuk di masukin amplop dan langsung memberi nama.
"Biasanya juga elo yang handle,"
"Iya sih, tapi sekarang dia mintanya begitu, jadi besok siap siap aja, dandan yg cantik."
"Malas ah lo aja, atau ngajak siapa kek, Inayah sama Euis atau siapa gitu." ucap Ima sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi.
"Gak bisa, dia minta nya elo, bukan yang lain malah lebih bagus elo sendirian." Ucap Linda tegas.
"Gimana besok aja lah," Ucap Ima malas lalu berdiri dan keluar dari ruang tamu, "Lo mau kopi gak, Lin?" tawarnya.
__ADS_1
"Boleh"
"Oke,,,, " Ima pergi ke toko meminta Alifa buatkan kopi untuknya dan Linda. dan sekalian menyuruh mengantarkan ke dalam.