IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 56


__ADS_3

**SEPAHIT APAPUN SEBUAH KEJUJURAN ITU LEBIH BAIK DARIPADA SEMANIS APA PUN KEBOHONGAN.


🌺🌺🌺**


Happy Reading


"Kamu jangan masuk sekolah dulu ya, biar nanti tante minta izin Sama wali kelas mu!" Ucap ima pagi itu saat sarapan.


"Tapi, tan--"


"Sudahlah, gak usah bantah, Oke!" Ima tersenyum pada Kevin, " Sekarang kamu nonton TV aja atau apa saja, tante mau buka toko dulu."


Kevin akhirnya menurut, ketika Ima meningalkannya untuk membuka toko.


Selang beberapa menit Inaya datang lalu yang lainnya.


"Loh, Vin kamu gak sekolah?" naya bertanya heran ketika melihat kevin keluar dari rumah Ima masih mengenakan kaos dan celana pendek.


"Semalam dia sakit, aku dan Linda menjemputnya dan menyuruh nginep di sini," Ima yang baru keluar dari toko yang menjawab Inaya.


"Sama A' Juna juga?"


"Kamu tuh ngawur, Nay, kalo ada bapak nya mana bisa nginep di sini, juna lagi keluar kota," Ima tersenyum pada Inaya dan Kevin.


"kalo di perhatikan kayaknya Inaya rada beda kalo kevin deket dengan aku, atau jangan jangan.... "


Toko lumayan rame hari ini, Ima dan teman temannya di buat sibuk apalagi Linda dan Euis yang ada di bagian dapur. bahkan untuk sholat dzuhur dan makan siang pun mereka bergiliran karena gak mungkin bisa di tinggalkan, sampei jam 14.00 barulah mereka bisa sedikit santai.


"Lin, ada yang mesti ku omongin," bisik Ima saat melihat Linda sendirian di dapur.


"Ada apa? sepertinya penting banget," ucap Linda.


"Banget sih kagak, penting aja," Ima tersenyum.


"Baiklah, di mana?"


"Di belakang aja, dekat kolam! "


Setelah menitipkan toko sama Euis dan Rosa Ima dan Linda pergi ke bagian belakang rumah, Sedangkan Inaya pergi mengantarkan pesanan.


"Ada apa?" Linda mendudukkan tubuh nya di pinggir kolam sambil ngasih makan ikan.


"Menurutmu, Inayah tuh seperti apa?"


"Seperti yang kamu lihat, kakinya masih menapak, gak ngelayang."


"Astaga Linda, aku tuh serius,"

__ADS_1


"Lo kira, gue bercanda? justru pertanyaan lo tuh gak jelas," Linda mencebikan bibirnya.


"Aku serius nih, aku tuh merasa kalo Inaya tuh ada hati sama juna, apa menurut mu, mereka cocok gak?" Ima menatap Linda. sedangkan yang di tanya nampak terdiam seperti sedang berpikir.


"Kalo menurut ku cocok-cocok aja sih, gak tahu kalo menurut juna, soalnya hatinya kan udah mentok sama janda anak dua," kekeh Linda.


"Linda, bisa nggak kalo ngomog serius," Ima menggeplak paha Linda membuat Linda.


mengaduh sambil ngusap ngusap pahanya.


"Lo kira gue main main? yang mau ku tahu tuh, sebenarnya hati lo im, gimana lo tuh harus ngambil keputusan, jangan ngegantungin perasaan si juna, lo Terima dia atau menolaknya." Kali ini Linda yang balik menatap Ima serius. Ima menarik napas berat lalu mengeluarkan nya perlahan.


"Aku tuh serba salah lin, menerima atau menolak nya sama sama berat," ima menundukkan wajahnya.


"Tapi lo harus memutuskan nya, turuti kata hatimu aja! kalo boleh ku tahu kamu mencintai nya atau enggak, sebagai seorang sahabat aku ingin mendengar sendiri dari mulutmu langsung."


"Lin, terus terang saja, aku juga kemarin kemarin senang dekat dengan juna, dia membuat ku nyaman, tapi.... setelah aku berpikir ternyata sayang aku sama juna, bukan perasaan wanita dewasa kepada seorang pria." Ima menatap Linda.


"Gak usah di teruskan, aku sudah paham," Linda menepuk bahu ima pelan, terus selanjutnya kamu mau apa?"


"Nah justru itu yang membuat aku bingung, aku harus gimana?"


"Seperti yang aku bilang tadi, turuti kata hatimu! juna pasti akan mengerti,"


"Lin, lalu Inayah?"


"Kita gak ada hak, biarkan saja, Pura-pura tidak tahu aja, mereka sudah dewasa, Oke?


"Lin, thanks ya, aku jadi lega," sebelum masuk ke toko ima mengucapkan terima kasih, yang di jawab Linda dengan tersenyum dan menepuk bahu ima pelan.


 ---


Sore harinya Juna datang menjemput Kevin. saat itu mereka lagi bersantai di gazebo sambil nge-teh bareng.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam." mereka serempak menjawab.


"Papa," Kevin tersenyum semringah dia menghambur ke pelukan papa nya ketika juna tersenyum dan merentang kan kedua tangannya.


"Gimana anak papa, sehat?" tanya nya sambil mengusap dan mencium pucuk kepala kevin, yang di angguki oleh kevin dan di perhatikan oleh semuanya dan ikut tersenyum melihat keduanya.


"Makasih ya Im, lin dan semua, kalian sudah menjaga anakku," Juna mengalihkan tatapan matanya ke arah ima dan Linda.


"Iya, sama sama jun, kamu tenang aja, btw oleh-oleh nya mana," Canda Ima sambil tersenyum untuk sekedar mengalihkan rasa nervous nya. dan di sambut dengan kekehan yang lain.


"Ada, tenang aja, bentar ya aku ambilin di mobil, sayang tungguin dulu ya," juna melepaskan pelukan putra semata wayangnya, kemudian berjalan ke mobil, "ada yang bisa bantuin!" teriak nya.

__ADS_1


"Nay, kamu bantuin tuh!" Ucap Ima sambil mengedipkan mata ke arah Linda, sedang Linda hanya mesem.


"Iya teh," Inaya berdiri menghampiri juna, tak lama kembali dengan menenteng beberapa paper bag, sedang juna di belakang mengikuti langkahnya tak kalah riweuh dengan bawaannya.


"Bentar, ini teh bawa oleh oleh atau bawa seserahan?" Celetuk Euis yang di sambut gelak tawa juna, sedang Inaya hanya tersenyum kecut. yang tak lepas dari pengamatan Ima yang kemudian memberi kode ke Linda.


Juna membagikan semua oleh-oleh nya ke masing masing. ada makanan dan khusus buat Ima ia menyerahkan paper bag yang lebih besar, hingga membuat mereka bercie cie... setelah semua kebagian mereka pulang sedang toko akan di jaga Linda dan Ima.


"Jun"


"Im."


mereka kompak barengan lalu tertawa.


"Ya, udah kamu duluan," Ucap Ima.


"Kamu aja," juna mempersilahkan Ima untuk berbicara Ima kemudian mengajak juna untuk bicara di ruang tamu rumahnya aja, ia sudah memutuskan untuk berbicara empat mata yang di angguki oleh juna, keduanya pun akhirnya beranjak dari tempat duduk dan berdiri kemudian beriringan masuk ke ruang tamu, keduanya duduk di kursi berhadapan dengan di batasi meja.


"Jun, begini ya, aku mau minta maaf--"


"Minta maaf untuk apa?


" Tolong jangan potong dulu ya!" Ima menarik napas kemudian menghembuskannya.


"Jun, aku minta maaf karena selama ini aku sudah menggantung perasaanmu, selama ini, aku sudah mencoba mendalami perasaanku, mencoba untuk membuka kembali hatiku dan mencoba untuk menerima dan mencintaimu," Ima berhenti sejenak lalu di tatapnya juna dengan dalam.


"Lalu, kamu tunggu apa lagi, Im, aku butuh pendamping untukku juga untuk menjadi ibu sambung untuk kevin, dan semua itu ada di dirimu, Ima ayolah kita menikah, aku janji akan jadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak anak mu, dan kita akan hidup bahagia bersama-sama," Juna memajukan tubuhnya di raih nya kedua tangan Ima dengan tatapan penuh harap sedang yang di tatap memalingkan mukanya sambil mencoba menahan air mata yang mulai tergenang di pelupuk mata.


Sementara tak pernah mereka sadari dari tadi ada orang yang menguping pembicaraan mereka di balik pintu.


 


ADUH DI TERIMA ENGGAK YAH...


TERUS SIAPA ITU YANG NGINTIP??


 


Maaf ya baru up lagi, kemarin othor lagi sibuk, suer tak kewer kewer.


biar nambah semangat like komennya ya atau gift nya juga insya Alloh gak nolak 😊😊


makasih buat yang selalu setia, jangan lupa baca juga novel othor yang lain


"KEHIDUPAN DEWI PELANGI.


__ADS_1


Besti bentar lagi mau masuk bulan Ramadhan maaf lahir batin ya.


Semoga kita selalu di beri kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa.dan semoga ibadah puasa kita di Terima oleh Alloh SWT. Aamiin.🤲🏻


__ADS_2