IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 70


__ADS_3

🌺Happy Reading🌺


"Adek seneng deh di tunggui mama dan ayah, adek gak mau sembuh, adek mau sakit aja biar bisa sama mama dan ayah terus." Ucap Reyna sambil tersenyum lalu merentang kan tangannya minta di peluk okeh kedua orang tua nya.


Ima dan Agus saling berpandangan, kemudian ketiga nya saling berpelukan.


"Adek jangan bicara seperti itu, mama jadi sedih, adek harus sembuh ya!" Ima mencubit putri bungsunya dengan muka cemberut.


"Biarin, kalo adek sembuh, ayah pasti pulang ke rumah nenek, jadi kita akan berpisah lagi, tapi kalo adek sakit kan bisa terus sama ayah." Reyna mencium mama dan ayah nya bergantian.


"Hus, adek gak boleh bilang begitu, nanti mama sakit karena kecapean ngurus adek." Agus balik mencium pucuk kepala anaknya.


"Tapi, kalo adek sembuh, ayah janji akan terus bersama adek mama dan kaka ya? janji...!" Reyna mengulurkan kelingking nya ke arah ayahnya sementara Agus menatap Ima minta pendapatnya sedang yang di tatap malah memalingkan muka.


Dengan perasaan campur aduk Agus, menyambut kelingking Reyna dengan kelingking nya hingga bertaut, "Iya ayah janji!" ucapnya sambil tersenyum.


"Sekarang adek tidur lagi ya, biar ayah yang nungguin di sini," ucap Agus sambil membenarkan posisi tidur Reyna, kemudian menyelimuti nya. Agus menarik kursi dan mendudukinya, tangannya tak berhenti mengelus puncak kepala Reyna hingga kembali terlelap.


"Kamu belum tidur, Ma? atau mau aku nina boboin seperti Reyna?" Canda Agus ketika melihat ima masih belum tidur dan masih memainkan hapenya.


"Ist... apaan sih gak jelas banget." Ima meletakkan hape di meja kemudian berdiri meninggalkan Agus.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Agus.


"Ke toilet, kenapa, mau ikut?" Ima mendelik malas.


"Mau... ayok!" Agus berdiri dan hendak menghampiri Ima yang panik langsung berlari ke kamar mandi. melihat Ima terbirit Agus terkekeh, "sungguh ini sebuah cobaan." Agus kembali mendudukan bokongnya.


Sementara Ima yang berada di kamar mandi jadi merona, ia memegang dadanya yang seolah lagi berlompa nabuh bedug, dug... dug.. dug. 'Haist kenapa jadi begini? gak... gak gak boleh di biarkan begini.'


Semenjak Reyna berkata seperti tadi perasaannya jadi berkecamuk.


Pagi menjelang, Ima terbangun, perlahan ia mendudukan tubuhnya di ranjang, semalam ia tidur menemani Reyna, sedang Agus tidur di sopa. perlahan ia turun lalu ke kamar mandi, gosok gigi dan wudhu, setelah menyelesaikan sholat subuh, ia membangunkan Agus.


"Sholat subuh dulu!" ucapnya setelah melihat Agus mengerjapkan matanya.


Agus berulang kali meminta ima untuk mewujudkan keinginan sang putri, tapi ima tidak menjawab apapun seolah bimbang pada keputusan apa yang akan ia berikan. hingga hari dimana ia akan menjadi. awa pulang Reyna, ia bicara pada anaknya ketika Agus sedang menyelesaikan administrasi.


"Dek, adek mau gak lihat mama bahagia?" tanya ima sambil tersenyum pada anaknya. Reyna mengangguk.


"Sekarang Mama bahagia, walau harus tak ada ayah bersama kita, dan kalo adek kangen ayah, adek kan bisa nginep di rumah ayah, jadi gak harus mama bersama ayah lagi kan, adek bebas mau bagaimana pun, misal hari ini adek mau maen sepuasnya dengan ayah, biar mama telpon ayah buat jemput adek, atau sebaliknya," ima menghela napasnya yang terasa berat apalagi melihat Reyna yang mulai terisak, Ima mengusap tangan anaknya lembut, tapi tangis Reyna tak berhenti hingga Agus yang baru saja kembali menjadi keheranan.


"Lho.. lho, adek kenapa nangis?" Ucapnya lembut, "Ayo senyum, kita kan mau pulang."

__ADS_1


"Sudah beres?" tanya nya sambil melirik ima yang di jawab hanya anggukan. "Baiklah sekarang kita pergi." Agus meraih tubuh Reyna kemudian mendudukannya di atas kursi roda lalu menyuruh ima untuk mendorong nya sementara ia sendiri meraih tas tas yang sudah rapi siap untuk di bawa pergi.


Dengan beriringan mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit sampai ke parkiran. Agus menyimpan semua barang ke dalam bagasi, sementara ima membantu Reyna untuk masuk ke dalam mobil setelah nya ia ikut masuk duduk di belakang nemenin anaknya, setelah semua beres Agus masuk dan menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit.


"Ada yang mau di beli dulu nggak?" tanya Agus sambil melihat ke belakang lewat spion yang ada di atasnya.


"Adek, mau apa?" Ima menatap Reyna yang terdiam sejak tadi, "bilang aja mungpung masih di jalan." Reyna tetap diam sambil memalingkan wajahnya ke luar, sementara Ima hanya menghela napas berat.


"Gimana?"


"Langsung pulang aja, kayaknya Adek pingin cepat istirahat." ucap Ima yg di setujui oleh Agus, ia langsung tancap gas hingga gak sampai 45 menit mereka sudah sampai.


Begitu mobil berhenti Reyna langsung turun dan sedikit berlari menuju kamar, tak peduli dengan tatapan heran orang orang yang ada di halaman menyambutnya tadi.


"Kenapa?" Linda bertanya heran.


"Entahlah, merajuk dia." jawab Ima sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di teras.sementara Agus mengambil tas tas dan meletakkan nya di ruang keluarga.


"Si adek kenapa? aku mau pamit untuk pulang tapi kamarnya di kunci." Agus menghempaskan bokongnya di kursi yang ada di depan Ima cuma terhalang meja saja.


"Ngambek." Ima menghela napas panjang meraup oksigen sebanyak-banyaknya yang terasa sesak. "Biarkan saja, nanti juga akan mereda, kamu mau kopi?"

__ADS_1


"Bolehlah, tapi kamu yang buat ya?" Agus menaik turunkan alisnya membuat Ima malas melihatnya, ia berdiri dan pergi ke dapur tak lama kemudian telah kembali dengan segelas kopi, setelah meletakkan nya di depan agus ia kembali masuk ke rumah untuk membersihkan diri.


__ADS_2