IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 71


__ADS_3

Sebelum nya othor mohon maaf ya baru bisa up lagi, kemarin penyakit ku kumat, mungkin karena di bawa puasa, tanganku terasa kaku, dan kepala berdenyut denyut, setiap hari habis buka selalu tepar, tapi othor slalu memaksakan untuk up, tapi 2 hari kemarin benar-benar gak sanggup, mohon do'anya aja ya, biar sembuh.


Sayang kalian banyak banyak ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Happy Reading


Sudah seminggu ini ima di buat pusing oleh kelakuan anak bungsunya Reyna, yang sebentar sebentar merajuk, ngambek dan ada saja tingkahnya yang bikin sakit kepala, apalagi kalo keinginan nya gak di penuhi.


"Kamu kenapa sih, dek, suka banget ya kalo mama darting," sore itu ima geregetan banget sama reyna, ia yang masih banyak kerjaan harus ekstra sabar menghadapi reyna yang lagi merajuk.


"Kalo begini terus, ya udah kamu tinggalnya sama ayah saja," Ima menghela napasnya yang terasa sesak, karena menahan emosi.


"Jadi beneran kan, mama udah gak sayang aku lagi." Reyna cemberut sambil mengusap air mata nya.


"Bukannya mama gak sayang, dek, justru adek sendiri yang gak sayang mama, maka nya apa apa mau sama ayah, jadi gak salah kan kalo mana bilang gitu, itu kan mau nya dedek." Ima menatap Reyna dengan sedih.


"Adek kan kangen sama ayah, adek mau seperti waktu di rumah sakit, setiap hari bersama ayah dan mamah." Reyna kembali terisak, membuat Ima gemes pingin HEH aja.


"Dek!, dengerin ya, mama sama ayah tuh udah beda, gak kayak dulu," ima nampak bingung buat ngejelasinnya.


"Beda kenapa? tuh temen temen juga bisa terus bersama bama dan papa nya, Talitha sama Laura juga cuma aku yang enggak!" kepala Reyna tertunduk sedih.


"Mereka bersama, karena mereka suami istri dan menikah, sedangkan ayah dan mama sudah berpisah, jadi gak bisa terus bersama."


"Kenapa mama dan ayah gak nikah, biar selalu bersama?" Reyna menatap ima dengan wajah sedihnya.


"Aduh Reyna... mama bingung harus gimana jelasinnya, sekarang kamu makan aja ya," Saking jengkel nya Ima menelpon Agus untuk datang dan membujuk Reyna, sementara Linda yang sedari tadi mendengarkan percakapan a ibu dan anak itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Solusinya lo tuh harus mau nikah kembali sama Agus," bisik Linda ke telinga Ima.


"Elo tuh nambah sakit kepala gue,tahu!." Sentak Ima sambil melotot ke arah Linda yang sedang cekikikan. Tak lama Agus pun datang.


Reyna nampak ceria dengan kedatangan ayahnya ia bergelayut manja membuat ima gerah, lalu bangkit.

__ADS_1


"Noh urusin tuh anakmu, gue pusing di buatnya." Ucap Ima sambil ngeloyor pergi.


"Ada apa sebenarnya?" Agus nampak keheranan.


"Anakmu minta kalian nikah lagi," Linda menjawab sambil terkikik.


"Maksudnya?"


"Tanya aja sama orangnya," Linda ikutan pergi, gak mau di buat pusing oleh Reyna.


"Kenapa, dek? kamu jangan bikin mama pusing ya, kasian, ntar sakitnya kumat lagi, adek sayang kan sama mama?" Agus mengelus kepala Reyna yang sedang terisak.


"Aku cuma ingin bersama mama dan ayah, kaka juga, aku gak mau hidup terpisah, aku ingin terus bersama seperti yang lainnya." Reyna menundukan wajahnya.


"Loh ini juga kan masih bisa bersama," Agus tersenyum, "kalo adek kangen bisa telpon ayah, ayah akan datang seperti sekarang, heh... sudah sini peluk ayah." Agus merengkuh tubuh Reyna untuk di peluknya, sementara Ima yang tadi keluar kembali masuk, ia hanya meringis melihat Agus sedang membujuk putri nya.


"Ma, aku mau ngomong sama kamu!" Agus melirik Ima yang berjalan menuju ruang makan.


"Nanti aja, aku lagi sibuk, banyak pelanggan." ima melirik sekilas, tak lama kembali dengan membawa beberapa box kue, yang sudah di pesen oleh pelanggan nya.


ย 


"Untukmu memang mudah ngomong begitu, tapi bagiku itu hal yang sangat berat." Ucap Ima tanpa melepaskan matanya dari layar laptop.


"Kenapa? apa kamu masih tak percaya padaku?"


"Menurut mu? pikir aja sendiri, gimana kelakuan mu terhadap ku," Ima sesaat menatap agus lalu meletakkan laptop nya di atas meja.


"Soal itu aku kan sudah minta maaf, aku janji gak akan mengulangi perbuatan seperti itu lagi, tentang penghasilan ku aku serahkan semuanya padamu, biar kamu yang mengatur nya, bahkan untuk cafe juga aku sudah membalik nama untuk Raka, cobalah kamu pikirkan, demi anak-anak, ma, kita singkirkan dulu keegoisan kita, kamu gak inginkan, kalo Reyna tertekan karena keadaan kita yang sekarang."


"Lantas, kamu waktu pergi berpikir sampai ke sana, enggak kan? bayangkan aku yang baru sembuh bahkan baru sadar dari koma, di perlakukan tidak manusiawi, di cerai dan ditinggalkan seperti barang rongsokan, seolah aku tidak ada harganya sama sekali, ya aku akui, aku memang egois tapi aku melakukannya demi kewarasan ku, seharusnya, kamu....kamu tahu itu!!" Ima menatap tajam Agus sementara yang di tatap menundukkan wajahnya seakan menyesal.


"Ima, untuk semua yang telah aku lakukan padamu dan anak-anak, maafkan aku, aku akui aku bersalah bahkan sangat salah, tapi aku melakukannya karena aku berjanji, sewaktu kamu koma, aku melakukan sumpah, aku tidak pernah memikirkan akibatnya, untuk itu maafkan aku, aku Terima semua konsekwensinya.


Tapi... sekarang aku hanya ingin membahagiakan kamu dan anak anak, tolong biarkan aku menebus semua waktu ku yang telah menelantarkan kalian, aku hanya ingin melihat anak anak bahagia, juga aku ingin melindungi kalian sekarang. maafkan aku tolong beri kesempatan sekali lagi, jika memang hatimu tak ada lagi rasa untukku, lakukanlah demi anak anak, ku mohon Iqlima, mari kita bersama lagi, dan ciptakan keluarga yang utuh, kita singkirkan dulu keegoisan kita demi Raka demi Reyna... " Agus berdiri dari duduknya kemudian bersimpuh di depan Ima dengan air mata yang sudah membanjiri seluruh wajahnya, ia menepis kan semua gengsinya, menangis di hadapan wanitanya ya.... wanita itu ibu dari kedua anaknya, ia melupakan semua harga dirinya demi kebahagiaan kedua putra putri nya.

__ADS_1


Ima terkejut ketika Agus bersimpuh di depan nya, ia ikut menangis, tangannya berusaha meraih tubuh Agus untuk tidak melakukan itu.


"Bangunlah! kamu tidak pantas untuk berbuat seperti ini."


"Biarkan aku seperti ini, sebelum kamu menjawabnya nya, Ima, kalo kamu mau kembali kepada ku, walaupun tak ada lagi cinta untukku, walaupun hanya demi anak-anak kita, aku berjanji... akan selalu memprioritaskan kalian di atas segala nya, walaupun nyawa taruhannya, ku mohon Im," Agus kembali memohon kepada Ima.


Sementara di balik pintu Raka dan Reyna melihat semua yang telah di lakukan oleh ayahnya ikut menangis.


"Baiklah! demi anak anak, aku mau kembali padamu, sekarang bangunlah!" Ucap Ima lirih.


Agus mendongakkan wajahnya menatap Ima dengan tatapan seakan tidak percaya, "Aku tidak salah dengar kah, tolong ucapkan sekali lagi!" pintanya.


Wajah Ima nampak memerah, "Gustian, aku Iqlima mau rujuk sama kamu, sekarang kamu bangunlah," Ucap Ima sambil meraih bahu Agus untuk membantu berdiri.


"Iqlima, makasih... aku tak tahu harus berkata apa lagi, aku senang mendengar nya," Agus yang hendak meraup tubuh Ima untuk di peluknya seketika di buat terkejut ketika mendengar kedua anaknya berseru...


"Eehh.... Ayah.....mama! kalian bukan muhrim, jangan berpelukan, kalian menikah dulu baru bisa bersentuhan." Raka dan Reyna menghampiri keduanya sambil tersenyum riang, sementara Iqlima wajahnya kian memerah malu, Agus hanya bisa tertawa sambil menjewer telinga kedua anaknya, mereka tertawa bersama.Aahh... sebahagia itu ternyata.


---


Seminggu kemudian, Agus mengucapkan ijab kabul di depan penghulu di saksikan seluruh keluarga, ia resmi kembali menjadi suami Iqlima.


Sejak hari itu mereka hidup saling bahu membahu, usaha mereka di perlebar.


Toko kue dan roti tetap barjalan bahkan semakin besar, terbukti dengan merekrut pegawai baru, Ima membeli rumah untuk di jadikan rumah produksi sekaligus toko nya,semua penanganan nya di percayakan kepada Linda dan Rosa, Ima hanya sesekali datang ketempat itu,selebihnya ia mengerjakan semua laporan dari rumah.


Juga cafe milik Agus, cafe tersebut sudah di atas namakan Raka, ia di ajari untuk mengelola cafe tersebut di bantu Alifa yang di percaya mengawasi semua nya, sedangkan agus mencurahkan semua perhatiannya untuk memperbesar pemancingan yang kini sudah memiliki 4 tempat yang berbeda, di setiap pemancingan dia juga mendirikan sebuah kedai yang menyediakan berbagai alat pancing juga umpan.


Mereka hidup bahagia bersama, seperti hari itu, ketika lagi pada asik berkumpul si salah satu kolam pemancingan yang di lengkapi dengan sebuah resto.


"Mama... cobain nih punya Adek, enak banget. " Reyna mendekatkan garpu, setelah menusuk makanannya ke dekat mulut mamanya.


"Punya kaka juga enak, ma!"


"Apalagi punya ayah, beuh gak ada duanya!" ketiganya sama sama mendekat kan makanan mereka ke arah Ima.

__ADS_1


Hueekk... hueekk...


LAH KENAPA LAGI TUH...


__ADS_2