
πΊπΊπΊ
Happy Reading
Setelah mendapat izin dari suster jaga, Agus masuk kemudian memakai pakaian khusus.
Ia terpaku melihat keadaan Ima yang terbaring dengan tubuh di penuhi oleh alat-alat medis, tak terasa air matanya meleleh, sungguh ia begitu sangat menyesali atas semua yang telah di lakukan terhadap istrinya, Iqlima.
Perlahan ia melangkah mendekati ima, kedua tangan nya terulur lalu di genggam nya tangan Ima yang memucat.
"Ma, maafkan aku, bangunlah kamu jangan begini, balaslah semua perlakuan ku padamu, tapi jangan hukum aku seperti ini," Agus terisak, sungguh beribu penyesalan seakan seperti batu yang menghimpit dadanya, sesak dan sakit datang bersamaan.
Ia terus bicara meminta maaf juga menyampaikan rasa sesalnya. sampai seorang perawat menghampirinya.
"Maaf Pak, waktu besuk sudah habis, mohon bapak segera keluar."
Agus mengangguk, "Ma, aku keluar dulu, ku mohon bangunlah, dan cepat sembuh Raka dan Reyna membutuhkan mu," Agus melepaskan genggaman tangannya di ciumnya kening Ima, lalu melangkah meninggalkan ruangan Ima.
Sampai di pintu ia kembali menengok kebelakang, lalu di usapnya air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya, setelah pintu terbuka ia pun keluar.
-----
Hampir setiap hari Agus nungguin Ima, ia meninggalkan rumah sakit saat di jam kerja aja, setelah itu kembali ke rumah sakit, dan tak pernah bosan ia mengajak bicara Ima tak lupa permohonan maaf dan segala penyesalan ia ucapkan.
Raka yang melihat kesungguhan ayah nya pun sedikit luluh, ia sudah mau menjawab ketika ayahnya bertanya, seperti saat itu, Agus baru sampai dari tempat kerja, ia cepat membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.
"Ka, ayah mau ke Rumah sakit, kamu mau ikut, kita nungguin mama, sekalian nanti makan malam di luar, besok kalian libur,kan?" Ucapnya ketika melihat Raka keluar dari kamar nya.
"Aku nanya adek dulu," Raka masuk ke kamar Reyna, tak lama keluar lagi di ikuti Reyna.
"Berangkat sekarang?"
Agus mengangguk lalu berdiri dari duduknya.
"Ayo, kalian pake jaket, biar gak dingin!"
__ADS_1
Mereka pun berangkat dan berhenti sejenak di depan rumah teh Neni. Agus memberi tahu bahwa mereka akan menginap di rumah sakit. dan menyuruh teh neni beristirahat saja.
Β
Β
Hari berganti waktu terus berlalu.
Kini hampir 3 bulan Ima terbaring koma, bahkan belum ada tanda tanda ia akan bangun kembali, tiap malam Agus selalu menunggu Ima dan ia rutin membacakan ayat suci Al-Quran juga tak putus mendo'akan kesembuhan untuk istri nya.
suatu hari ketika tengah duduk di depan ICU bersama teh Neni, seorang perawat memanggilnya karena dokter ingin berbicara.
"Pak, Ibu mohon maaf itu di panggil oleh dokter untuk menemui beliau di ruangannya."
Agus berdiri dan berjalan di ikuti teh Neni.
Tok
Tok
"Bapak, Ibu, silahkan duduk!" dokter menunjuk
kursi di depannya.
"Begini, pak, berhubung ibu Ima sudah 3 bulan ini berada di ICU dan kami sudah berusaha se maksimal mungkin tapi tidak ada perubahan sama sekali, maka kami team dokter bermaksud.... " dokter terdiam sejenak seakan berat untuk berucap.
"Untuk melepaskan semua alat yang ada di tubuh bu Ima," melepaskan napas panjang yang seakan menghimpit dada.
"Kenapa bisa begitu, dok, kenapa dokter seakan menyerah?" Agus tergugu, teh Neni mengusap punggung Agus untuk menguatkan.
"Maaf, pak tapi.. kami sudah berusaha, bu Ima bertahan hanya karena bantuan alat-alat itu," Dokter mengusap wajahnya seakan ikut merasakan yang Agus rasakan, dokter terus menguatkan dan memberi pengertian pada Agus.
Setelah terdiam beberapa lama.
"Begini saja, dok, beri kesempatan 3 hari lagi, jika dalam 3 hari masih tidak ada perubahan, aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya pada dokter," Ucap Agus kemudian ia menengadah menatap langit-langit menahan air mata agar tak terjatuh.
__ADS_1
"Baiklah."
"Makasih, dok."
Agus berjalan keluar dari ruangan dokter dengan perasaan campur aduk, jika saja ia gak ingat akan ke kelelakian nya, mungkin ia akan menangis dan menjerit-jerit saat itu juga.
Agus masuk ruangan ICU
Ia berlutut di depan ranjang yang di atas nya terbaring sosok Ima, istrinya yang selama ini bersabar dengan sikap nya yang kadang meluap tak bisa menahan emosi.
"Ma, kenapa kamu hukum aku seperti ini, bangun ma, ayo.... tampar aku, balas semua perlakuan buruk ku, kamu jangan diam saja, kamu boleh marah tapi tidak harus seperti ini, maafkan aku... Hu.. Hu.. "
Semua yang melihat kejadian itu ikut menangis, Teh Neni kemudian melangkah mendekati Agus, ia raih tangan Agus untuk membantunya berdiri.
"Istighfar, gus, kamu yang kuat kita harus kuat, demi Ima Raka dan Reyna,"
Teh Neni menghampiri Ima yang masih tidur dengan pulas nya. π₯Ίπ₯Ί
"Dek, bangunlah! kamu jangan seperti ini, lihat semua menyayangi mu, kasihan Raka dan Reyna, masih membutuhkan kamu, teteh yakin alam bawah sadar mu mendengar semuanya. ayo bangunlah!"
-----
-----
GAES, BERHUBUNG NANTI MALAM ADALAH MALAM NISFU SYA'BAN, OTHOR MINTA MAAF LAHIR BATIN YA.
CERITA IQLIMA NYA DI LANJUT BESOK JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA JUGA RATE BINTANG 5 YA BIAR AKU NYA TAMBAH SEMANGAT BUAT UP π
MAKASIH BUAT YANG TERUS SETIA MENGIKUTI JALAN CERITA NYA MOGA SUKA DAN.. .... LOP U PULL MUACH MUACH πππ€ππ
buat yang belum pavouritkan itu tanda β€ nya mohon di sentuh.
makasih semua yu papay β€β€β€
*PENYESALAN MEMANG SELALU DATANG TERLAMBAT, MAKANYA COBA HIDUPKAN ALARM BIAR ADA PENGINGAT*.
__ADS_1