IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 57


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Juna menggenggam kedua tangan Iqlima,


"Menikah lah dengan ku, aku gak akan berjanji, tapi aku akan membuktikan nya dengan perbuatan ku."


"Jun, a-kku.. aku--"


Gedubrag


Suara benda jatuh mengagetkan mereka, spontan tangan mereka terlepas, dan mereka beranjak melihat ke tempat suara jatuh tadi, tapi saat mereka keluar tak melihat siapa siapa, juna dan Iqlima saling berpandangan kemudian Ima menggelengkan kepala saat juna bertanya tanpa suara, 'siapa? '


Juna kembali masuk begitupun Ima, tapi sebelum melangkahkan kakinya, Ima sempat melirik ada bros tergeletak dekat pot bunga, Ima mengambilnya kemudian ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya,dan mengamati sekeliling, ia kemudian kembali melangkah masuk dan duduk di tempat tadi.


"Jun, kamu mau makan dulu ? biar aku siapin. " Ima hendak beranjak dari kursi tapi juna menahannya, akhirnya ia duduk kembali.


"Aku sudah makan tadi di jalan sebelum kesini."


"Astaga jun, nanti nanti kalo mau makan tuh di warung atau di restoran, ngapain makan di jalan, ketabrak mobil, baru tahu rasa." untuk menghilangkan kecanggungan Ima bercanda yang di sambut gelak tawa juna sambil menguyel pipi Ima gemas, kemudian menarik hidung Ima yang minimalis. membuat Ima cemberut.


"Jangan bikin aku khilaf."


"Iihh, nanti hidung mancungku, ilang deh imutnya," seloroh Ima yang di sambut juna kembali hendak mencubit hidung, tapi Ima keburu menjauh.


"Im, gimana..?"


"Apanya?"


"hais, Pura-pura amnesia lagi, permintaan ku yang tadi." Juna menatap Ima dengan tatapan yang mendalam, sementara Ima di buat terdiam, kemudian ia memberanikan diri membalas tatapan juna.

__ADS_1


"Kamu mau aku jawab jujur?" tanya Ima.


juna mengangguk.


"Sekalipun menyakitkan?" juna kembali mengangguk.


Hufff, Ima kembali menarik napas kemudian mengeluarkan nya perlahan.


"Jun, Aku sayang sama kamu juga kevin, aku juga nyaman sama kamu, dan aku mau tetap seperti ini, tapi... maaf, aku tak bisa menikah dengan mu." Ima menundukkan wajahnya.


"Kenapa, Im?" Juna kembali menatap Ima.


"Apa karena Agus?" Ima menggeleng, "lalu?"


"Jun, terus terang aku tak mau memanfaatkan kamu, aku tak mau jika kita punya hubungan terus nanti ada masalah kemudian kita jadi jauh, dan aku tak mau itu, aku mau kita tetap seperti ini, karena kita sahabat, bukan yang lain, kamu mengerti kan, jun? jangan nodai kita karena sebuah rasa yang lain, aku mau kita tetap bersahabat, ku harap kamu pun sama." Ima kembali menatap juna keduanya saling tatap, sampai akhirnya juna mengangguk sambil tersenyum.


"Makasih kamu sudah jujur mengatakan itu, Ima, walaupun jujur aku sedikit kecewa, tapi aku hargai keputusan mu," Juna kembali menggenggam tangan Ima.


"Terus rencana mu sekarang apa?" ucap juna sambil melepaskan genggaman nya.


"Aku belum tahu."


"Apa kamu mau kembali ke Agus?"


"Aku gak tahu."


"Apa kamu masih ragu? aku yakin Agus sudah berubah, kalo saran ku sebagai sahabat juga sodara Agus, kembali lah sama Agus!"


"Aku belum kepikiran sampai ke sana, aku ingin melihat kamu duluan yang menikah."


"Aku? menikah, tapi dengan siapa, bahkan kamu aja menolak ku." Juna menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi di tolak aku bukan berarti, gak ada yang mau lagi kan?" Ima tersenyum sambil mencebikan bibirnya.


"Gak ada, aku gak punya temen wanita siapa pun," Ucap Juna.


"Tapi aku tahu ada yang diam diam memperhatikan kamu,"


"Siapa"


"Aku akan memberi tahu kamu, tapi berjanji untuk membuka hati, kalo gak maka aku juga gak akan ngasih tahu siapa wanita itu, gimana?" Juna terdiam kemudian ia memajukan Tubuhnya ke depan Ima. "Akan ku coba, kalo cocok lanjutkan kalo nggak cocok jangan kau salahkan aku, ayo sebutkan siapa orang nya!"


"Inayah" bisik Ima.


"Benarkah?" Ima mengangguk, "Gimana?"


"Makasih Ima, aku janji akan mencoba mendekati nya, seperti yang aku katakan tadi jika cocok lanjut jika nggak ya aku gak bisa apa apa."


"Makasih jun, seenggaknya kamu sudah mau membuka hati, tapi aku yakin kamu pasti menyukai nya, dia anaknya baik kok, sama Kevin juga udah deket,"


"Oke lah kalo gitu." mereka sama-sama tersenyum sampai kemudian Juna pamit mengajak kevin untuk pulang.


---


Sementara itu seorang perempuan nampak tergesa-gesa meninggalkan tempat yang selama ini jadi tempat mata pencaharian nya. dia tak perduli meski sepanjang jalan orang bertanya, "kenapa?'


Sampai di rumah gegas ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, lalu menjatuhkan tubuhnya hingga menelungkup, menangis sesenggukan, sampai mak nunung, emaknya khawatir ketika terdengar suara tangis dari kamar anaknya.


Tok, tok, tok di ketuknya pintu kamar anak nya hingga terbuka, dan ia tambah khawatir dengan anaknya yang sedang menangis.


" Kamu kenapa, apa ada yang sakit, yang mana? coba kasih tahu emak," Ucapnya sambil menatap anaknya yang terus menangis.


"Nggak, ma Naya cuka sakit perut, ini mules mungkin tadi akibat makan yang pedes." Inaya kemudian duduk sambil memegang perutnya. Inayah tersenyum miris.

__ADS_1


Ternyata wanita itu Inayah, ia yang tadi kembali ke rumah ima dengan maksud mau memberikan catatan belanja tapi terhenti ketika di ruang tamu mendengar percakapan antara juna dan ima, ia sangat sakit mendengar nya karena selama ini, Inayah ternyata punya perasaan lain terhadap juna, tapi ia sadar itu tak mungkin sebab juna malah mencintai Ima yang jelas status sosial dia dan ima berbeda, tapi mendengar sendiri percakapan itu ternyata tak mampu meredam rasa sakitnya, mencintai dalam diam ternyata semenyakitkan ini.


__ADS_2