
🌺🌺🌺
Happy Reading
Kemarahan bu Asih semakin menjadi, ketika ia menelpon Agus menanyakan prihal uang rumah yang di bayarkan Alana, dan di iyakan oleh Agus ketika menanyakan benar apa tidaknya di transfer nya ke rekening Ima. Puncak amarah nya ketika ia meminta bagian Agus tidak menyanggupi dengan alasan bahwa uang nya udah di tabungan oleh Ima.
Tok
Tok
Tok
Pagi itu bu Asih nekad datang ke rumah Ima.
"Sebentar!" Ima yang sedang membuat aneka macam olahan di dapur bersama ketiga rekannya berjalan ke depan dan membuka pintu.
Cek lek
Pintu terbuka dan Ima nampak kaget ketika mendapati ibu mertua nya berdiri di depan pintu.
"Ibu, apa kabar dengan siapa kesini?" Ima menyalami tangan bu Asih kemudian mempersilahkan masuk.
"Sendiri," bu Asih menerima uluran tangan Ima yang menyalami nya.
"Silahkan kan duduk, bu," Ima mempersilahkan dan menawarkan minum.
"Sebentar saya ambilkan minum dulu," sambil berlalu ke dapur, tak lama kembali lagi dengan nampan di tangan dan memindahkannya di atas meja di depan kursi yg tengah di duduki mertua nya.
"Tumben ibu ke sini, apa ada perlu, kenapa gak nelpon aja biar Ima yang datang menemui, ibu," Ima tersenyum.
"Kenapa, apa kamu gak suka kalo ibu datang ke sini?" ketus bu Asih.
"Bu....buk ..kan begitu, bu, tapi gak enak rasanya malah ibu yang jauh jauh menemui yang muda," Ima terkekeh.
"Halah, alesan, aku ke sini tuh mau menanyakan uang, mana?" Bu Asih menyodorkan tangannya meminta.
"Uang apa, bu? A' Agus belum gajian, lagian kalo sudah juga gak perlu di minta dia akan memberikannya pada ibu," Ucap Ima sambil tersenyum.
"Bukan uang itu, uang pembayaran rumah yang dari Alana, kamu tuh jangan seenaknya menguasai uang nya Agus, sini mana bagian ibu," bu Ima kembali menadahkan tangannya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tuh bersyukur di nikahi Agus, yang udah mapan mau menghidupi kamu, kamu malah seenaknya menghambur hamburkan uang, seharusnya mikir, jadi istri tu berguna sedikit jangan bisany nya cuma morotin suami," cerocos bu Asih membuat hati Ima mencelos.
"Bu, aku gak pernah morotin Agus, kalo gak percaya ibu tanya aja sama anak tersayang mu bu, berapa ia ngasih ke aku, mungkin dari situ ibu bisa berpikir, apa uang yang Agus kasih ke anak istrinya itu cukup atau pantas barru ibu bisa kasih komentar, lagian kenapa dengan uang hasil rumah juga masih ibu rong rong bukannya uang bulanan udah lebih dari cukup? selama ini aku gak pernah protes,bu!" Ima merasa kesal dengan omongan bu Asih yang selalu mengungkit ungkit masalah uang.
"Bu, uang dari Alana sudah aku simpan untuk tabungan pendidikan Raka dan Reyna," aku gak ngambil sepeserpun, malah aku menambahkannya masing-masing 25jt jadi pas mereka kebagian 100jt."
"Nah, itu kamu ada duit, sini mana bagian ibu," keukeuh bu Asih.
"Astaghfirullah aladziim, ibu... harus gimana lagi aku menjelaskan nya, oke gini aja bu, nanti kalo Alana bayar sisanya, itu ibu ambil semua, aku ikhlas sok mangga kanggo ibu sadayana," Ima terlihat kesal karena mertuanya ngotot meminta uang tersebut.
"Itu beda lagi, aku mau nya sekarang," bu Asih berdiri sambil berkacak pinggang. "kamu tuh dasar menantu gak tahu diri!"
Plak
"Aduh!" Ima menjerit sambil memegang pipi nya yang terasa panas akibat tamparan ibu mertuanya, air matanya meleleh membasahi pipinya.
"Ibu, karena masalah uang ibu berani menampar aku? bu... seumur hidupku, ibu dan bapakku aja gak pernah menampar aku, kenapa ibu tega melakukan ini semua padaku?" lirih Ima.
"Itu belum seberapa, aku bisa lebih kejam dari ini, dan itu semua pantas kamu terima," bu Asih bersiap untuk melayang kan kembali telapak tangannya namun kali ini Ima tak tinggal diam, dia menangkap tangan bu Asih sambil mencengkram kuat.
"Bu, selama ini aku diam karena ibu telah aku anggap orang tua ku sendiri, namun kali ini ibu telah melampaui batas, apa ibu gak ingat, bahwa hukum tabur tuai itu ada? Ingat bu, ibu juga punya 2 anak perempuan, ibu gak sadar apa yang telah Alana anakmu dapatkan, di cerai setelah di selingkuhi, dan ingat ibu juga masih punya anak gadis yang belum menikah, gimana kalo ia mendapat perlakuan yang sama seperti yang ibu lakuin padaku?" Ima berbicara sambil menggeretakan gigi nya napasnya naik turun menahan emosi yang hampir gak ke tahan, lalu ia menepis kan tangan bu Asih.
"Ima ! inget, aku akan aduin kelakuan kamu sama Agus, biar dia menceraikan kamu, dan Terima nasibmu menjadi janda!" jari bu Asih di tunjukkan persis depan hidung Ima.
"Terima kasih, bu aku senang mendengar kabarnya nanti, dan aku nantikan undangan sukuran ibu karena Agus menceraikan aku," Ima menatap tajam bu Asih, 'cukup sudah aku mengalah selama ini' pikir nya.
Â
"Kalian keluar lah nanti pada bintitan, tahu rasa lho," Ucap Ima sambil melirik ke pintu yang menghubungkan antara ruang makan dan ruang tamu, Linda keluar sambil terkekeh di ikuti Euis dan Inayah.
"Ya Alloh, Im, aku gak nyangka mertua mu mulut nya pedes banget, kamu yang sabar ya," Linda memeluk Ima sambil terisak membuat Ima kembali menitikan air mata, keduanya berpelukan, Euis dan Inayah ikut memeluk Ima dan semua nya kembali menangis. mereka prihatin dengan apa yang telah di alami oleh bos sekaligus sahabatnya itu.
"Ah sudahlah, koq malah kaya teletubbies," Ima terkekeh sambil mengurai pelukannya dan mengusap airmata yang gak bisa ia tahan.
Â
Brak
Ketika lagi asik menemani kedua anaknya nonton TV pintu di buka dengan kasar, membuat Ima dan anaknya terkejut.
__ADS_1
"Astaghfirullah," Ima memegangi dadanya. " Kamu tuh apa apaan sih bikin jantungan tahu!" ucapnya sewot ketika tahu itu kelakuan Agus.
Mata Agus tampak memerah seakan menahan amarah lalu ia menghampiri Ima dan tanpa berkata lalu..
Plak
Plak
Agus menampar kedua pipi Ima sampai mengeluarkan cairan kental dari bibir dan hidung Ima, darah, bibir dan hidung Ima berdarah,membuat kedua anaknya menjerit histeris lalu berhamburan memeluk mama nya.
Agus menarik paksa kedua anaknya dari tubuh Ima lalu menunjuk mereka untuk masuk ke kamar.
"Ini pelajaran buat kamu yang telah berbuat kurang ajar," tunjuk nya pada Ima.
"Apa maksudmu?" ucap Ima sambil memegang kedua pipinya yang merasa terbakar.
"Kamu belum sadar juga? hah!" Agus kembali melayang kan tangannya kemudian mendorong tubuh Ima sampai terjerembab.
"Apa yang telah kau lakukan pada ibuku, Ima? kamu tuh gak bisa di baik baikin ya," Agus melotot sambil menggeram membuat Ima terhenyak.
"Jadi, kamu lakuin ini ke aku karena aduan ibumu," lirih Ima sambil tersenyum miris, "Makasih A'," lanjut nya.
"Kalo iya memang kenapa, itu memang pantas kamu Terima, ini belum seberapa, kalo kamu masih saja berbuat seenaknya jangan harap aku maafin kamu," Agus kembali menghampiri Ima kemudian tangannya mencengkram kedua bahu Ima.
"Bukan aku yang akan menyesal, A' tapi kamu, kamu yang selalu bertindak tanpa mencari tahu kebenarannya, aku capek menghadapi mu," Ima menatap tajam dengan airmata yang terus mengalir tanpa bisa si tahan.
"Apa maksud mu, hah, jangan ngarep," Agus kembali menghempaskan tubuh Ima lalu beranjak pergi setelah sampai pintu kembali berbalik, "Jangan pernah mencari aku!" lalu
Brak! pintu di bantingnya.
Setelah mendengar ayahnya pergi, Raka kembali menghampiri mama nya di ikuti adiknya, "Ma, maafin Raka gak bisa ngebelain mama," Raka menangis melihat keadaan mama nya yang penuh darah.
"Bantu mama duduk, Ka," pintanya, Raka di bantu reyna membawa mama nya ke kursi lalu mendudukkan nya. "tolong ambil tas hitam di kamar,"
Raka mengambil tas yang di pintar mamanya.lalu menyerah kan tas tersebut pada mama nya.
Ima membuka tas nya lalu mengeluarkan dua buku tabungan dan menyerahkan nya pada Raka.
"Ini milik kalian untuk bekal, ingat pesan mama, jangan di serahkan walaupun ayah yang memintanya, dan ini buku tabungan mama, mama sudah membuat surat kuasa atas nama mu dan adikmu, jagalah dan pergunakan sebaik baiknya, maafkan mama belum membuat kalian bahagia," Ima memeluk ke kedua anaknya sambil terus menciumi ke duanya, tapi tak lama tangan yg lagi memeluk terkulai lemas.
__ADS_1
"Mamaa..... " Raka dan Retna menjerit.