IQLIMA (Asa Yang Hilang)

IQLIMA (Asa Yang Hilang)
BAB 69


__ADS_3

🌺🌺🌺


Happy Reading


Saat tiba di ruang rawat inap, Ima segera meletakkan tas untuk keperluan Reyna juga dirinya selama di rumah sakit.


"Lin, sebaiknya kamu pulang saja, biar aku sendiri yang jagain Reyna, aku titip rumah juga toko, dan bilangin sama Raka, kalo capek, istirahat saja gak usah kesini." Ucap ima waktu mereka duduk di ruang tunggu, sementara Reyna di tunggui oleh Agus ayahnya.


"Jadi beneran, gak papa kalo aku tinggal?" Linda ingin memastikan, dan ia bernapas lega saat ima menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku pulang sekarang, kalo ada apa-apa, jangan sungkan hubungi aku ya." Linda menepuk bahu sahabatnya memberi support agar ima gak merasa sendirian," aku lihat Si Adek dulu." kemudian Linda berdiri masuk ke dalam ruangan dimana Reyna di rawat.


"hallo, sayang... ateu pulang dulu ya, cepat sembuh ya," Ucap Linda sambil mengusap puncak kepala Reyna sambil di kecupnya.


Reyna tersenyum sambil mengangguk.


"Makasih teu." ucapnya lirih.


"Mau aku antar, Lin?" tawar Agus.


"Gak usah Reyna dan ima kurasa lebih membutuhkan mu di sini, biar aku naik ojol saja." tolak Linda. "Gus, aku titip mereka." Linda melirik Agus.


"Pasti, aku janji akan menjaga mereka." Agus tersenyum sementara Ima memalingkan muka menghindari tatapan Agus padanya.


"Oh ya, Lin, atau kamu bawa saja mobilnya!" ucap ima sambil beranjak untuk ngambil kunci mobil yang ada di dalam tasnya yang ia letakan di atas meja sopa.


"Memang kamu gak bakal butuh?" tanya Linda sambil menerima kunci yang di sodorin ima.


"Untuk sekarang enggak, lagian besok pasti kalian membutuhkan mobil untuk mengantarkan pesanan ke toko dan pasar," ucap Ima.


Linda mengangguk, lalu ia berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan dimana Agus dan ima berada.


Setelah kepergian Linda, ima melirik ke arah Agus , kemudian berkata, "Kamu juga, kalau mau pulang silahkan, biar aku yang nungguin si adek,"

__ADS_1


"Kenapa kamu ngomong begitu, seolah aku ini siapa, ingat ma, aku juga bapaknya Reyna, jadi aku juga sama seperti mu, mana tega meninggalkan nya disini."


"Bukan nya begitu, takutnya kamu ada keperluan penting." ucap Ima.


"Gak ada yang lebih penting selain anak anakku, sudahlah gak usah khawatir dengan urusanku, kalo kamu mau istirahat, istirahat saja biar aku yang nungguin si dede," Agus nampak agak kesal sama ima, sementara ima berlagak cuek, lalu ia melangkah menuju sopa dan membaringkan tubuhnya yang memang agak letih. tak terasa ia ketiduran.


Lama Agus menatap mantan istrinya yang nampak lelah dan tidur dengan lelap, ia tersenyum melihat mulut ima nampak terbuka dan terdengar dengkuran halus dari mulut mungilnya.


"Kamu nampak semakin cantik dan lucu kalo sedang tidur begini," gumamnya, lalu ia membuka jaketnya dan menyelimuti tubuh ima dengan jaketnya tersebut. Tak bosan bosan Agus terus memandang wajah Ima yang semakin terlelap dalam tidurnya.


"Berasa mimpi bisa menatap mu kembali dalam jarak dekat seperti ini." Agus terus menatap ima sampai ia terkejut ketika mata Ima tiba-tiba terbuka dan duduk cepat seperti terlonjak kaget.


"Ka-kamu lagi ngapain?" tanyanya, "ini jam berapa? astaghfirullah kenapa gak bangunin aku, aku belum sholat maghrib."


"Aku gak tega bangunin nya, soalnya kamu nampak begitu lelah."


"Hais, aku kan belum sholat," gerutunya lalu bangkit dan berdiri melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. tak lama keluar lagi dan meraih mukena lalu sholat dekat Reyna.


Ima sedang membereskan mukena dan sajadah ketika Agus datang menghampiri nya. "Aku bawain makan malam, makanlah nanti kamu lapar." Ucapnya sambil meletakkan kantong plastik di atas meja.


"Belum, kita makan bareng aja!" Agus membuka bungkusan lainnya lalu ia mengeluarkan juga botol air mineral dan menaruh nya ke hadapan Ima, "minum dulu biar gak seret!" titahnya.


"Iya,makasih...! Reyna, sudah makan belum?" Tanya Ima sambil melirik Reyna.


"Sudah, tadi aku menyuapi nya ketika kamu tidur." Jawab Agus sambil mulai menyendoki makanan nya, Ima terdiam lalu ikutan makan. Setelah selesai ia membereskan bekasnya dan minum.


"Maaf tadi aku ketiduran," Ucapnya sambil menatap Agus, merasa bersalah.


"Santai saja ! Hemm, aku keluar dulu mau merokok." Agus berdiri dan langsung pergi setelah melihat Ima mengangguk.


Malam itu mereka kompak seperti layaknya pasangan yang lain, mengurusi Reyna.


Jika Reyna ingin pup, dengan cekatan Agus membopongnya ke kamar mandi dan Ima membersihkan nya juga membereskan tempat tidurnya.

__ADS_1


Hingga malam telah larut, jam 11 Reyna tampak tidur dengan lelap, Ima masih setia menunggunya duduk di kursi dekat ranjang Reyna.


Agus masuk dengan dua gelas kopi dan memberikan satu untuk Ima, dan menyuruhnya untuk duduk dan minum di sopa, Ima menurutinya setelah ia mengecek kembali kondisi Reyna.


"Maaf, gara-gara ke egoisan aku, kamu jadi lelah mengurus anak anak sendirian." Agus menempatkan tubuhnya duduk bersebelahan duduk dengan Ima. yang terdiam tak berkata sepatah pun.


"Ma," Agus menggeser duduknya jadi menghadap Ima, kemudian di raihnya tangan Ima dan di genggam nya dengan erat. Ima terkejut sebenarnya ia risih, ia berusaha untuk menarik tangannya agar terlepas, tapi karena Agus menggenggam dengan erat ia tak bisa melepaskan tangannya, sampai ia hanya diam dan membiarkan nya.


"Ima,maafkan aku, tolong kasih aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan ku, ayok kita rujuk, demi anak-anak!" Ucap Agus sambil terus menggenggam tangan Ima dan menatap penuh harap. Ima terdiam.


"Aku janji akan berubah, sudah cukup selama ini aku menyesali semua perlakuan ku pada kalian, terutama padamu, maafkan... selama ini aku telah menyia-nyiakan dirimu," Agus tiba-tiba melorot kan tubuhnya dan bersimpuh di depan Ima dengan meletakkan kepalanya di pangkuan ima, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Ja.. jangan begini! " Ima yang terkejut berusaha menyuruh Agus untuk kembali ke tempat duduknya, tapi ia keukeuh gak mau.


"Sebelum kamu memaafkan aku, aku akan tetap seperti ini,"


"A... aku sudah memaafkan mu" lirih Ima. "Tapi.. untuk kembali padamu, aku tak bisa." Ucap Ima bergetar, menahan tangis.


"Tapi kenapa, kenapa Ima, aku masih mencintaimu dan aku masih sayang padamu," Agus membiarkan air matanya luruh di hadapan Ima dan membasahi rok Ima.


"Hatiku seperti kaca, A, terlanjur pecah, seberapapun berusaha memperbaiki nya tetap hasilnya tidak akan seperti dulu, maafkan aku." Ima mulai terisak, kepingan masa lalu kembali muncul bagaikan putaran film. perbuatan Agus juga mertuanya terus menari nari di kelopak matanya yang terpejam berusaha untuk menahan air mata yang meluncur deras tanpa di bisa di cegah.


Agus membuka matanya kemudian menatap Ima, "Begitu dalam kah luka yang ku beri padamu, selama kamu hidup bersama ku sampa kamu seperti ini?" tanya Agus.


"Maaf kan aku, aku manusia biasa, aku punya hati dan perasaan." Ima menyusut air matanya ketika tangannya terlepas dari genggaman Agus, "Carilah wanita lain yang bisa mendampingi hidupmu, dan jangan pernah kau sakiti hati dan tubuhnya, cukup aku saja yang merasakannya."


"Tapi aku maunya kamu, dan hanya kamu, Ima, ayo lah kita mulai dari awal lagi, demi anak-anak, demi kita, cinta kita, aku tahu kamu masih mencintai ku, aku masih melihat cinta itu masih ada," Agus memeluk erat tubuh Ima.


"Maa.." Rengekan Reyna membuat mereka memalingkan matanya melihat sosok Reyna yang matanya sudah terbuka, Ima melepaskan tubuhnya dari pelukan Agus kemudian menghampiri anaknya.


"Ada apa, sayang, apa kamu ada yang sakit, mana yang sakit, tunjukkan sama mama!" Ima mengusap pipi anaknya.


Reyna menggeleng kemudian menatap Mama nya tangannya terulur mengusap air mata di pipi mamanya. "Mama kenapa nangis? gara-gara aku sakit ya ma, maafkan adek ya mah sudah bikin mama sedih."

__ADS_1


"Enggak sayang, mama gak nangis, tadi mama ketiduran, terus nguap deh," Ima tersenyum pada putrinya terus pura-pura menguap di depan Reyna, "Tuh kan jadi ada air matanya." Ima terkekeh.


"Adek senang ada mama dan ayah jagain adek, adek gak mau sembuh ah, biar bisa terus bersama mama dan ayah," Ucap nya sambil merentang kan tangan biar di peluk mama dan ayah nya. sedangkan Ima dan Agus saling berpandangan.


__ADS_2