
Keesokkan paginya
Kaili bangun pagi seperti biasa.
"Bukannya tadi malam aku tidur di sofa, apakah Tuan Lee yang mengangkatku kesini? Orang yang seperti apa dia sebenarnya? Kenapa kadang menyebalkan, terkadang juga perhatian?" Batin Kaili bingung.
Kaili turun dari ranjang membawa serta tongkat petunjukknya. Kali ini, Kaili mengetuk pintu kamar mandi terlebih dahulu. Dia tidak ingin kejadian sebelumnya terulang lagi.
"Tuan Lee, apa Tuan ada didalam?" Tanya Kaili. "Tidak ada sautan, sepertinya Tuan Lee telah kembali ke kamarnya. Lebih baik aku segera mandi saja." Sambungnya langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Kaili segera menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Eh, kemana pakaianku. Ini terasa berbeda," ujar Kaili sambil meraba pakaian yang berada didalam lemari. "Apakah ini ulah Mommy? Ya, sepertinya begitu. Mommy mengganti semua pakaianku, memangnya pakaianku yang lama sudah seburuk apa ya? Sepertinya sangat buruk karena sudah sangat lama. Dunia fashion pasti selalu berubah setiap waktu." Oceh Kaili sambil mencari sebuah baju yang dia rasa cocok untuknya. Dress berwarna mint selutut, berlengan panjang, dengan aksen pita cantik di pinggangnya. Terlihat sangat ramping di tubuh indah Kaili. Sangat pas dan kecantikan Kaili semakin terpancar ketika mengenakan dress itu.
Karena rambutnya masih sedikit lembab, Kaili pun membiarkannya tergerai. Kaili tidak pernah menggunakan Hairdryer karena akan merusak rambutnya. Tanpa make up sedikit pun, Kaili tampil cantik alami. Benar-benar seperti bidadari turun dari kayangan. Sangat sempurna, hanya tongkat ditangannya saja, yang membuat orang-orang terkadang tak jadi memujinya. Tapi, itu sudah biasa bagi Kaili. Sedangkan perban dikeningnya telah lama dia lepaskan, karena memang lukanya telah sembuh.
Keluar dari kamar, Kaili langsung menuju ruang makan. Dia sadar bahwa dirinya pasti belum diperbolehkan untuk membuat sarapan, mengingat kondisinya masih sangat lemah. Padahal, Kaili merasa sudah baikan. Namun, Kaili tidak ingin membantah Sang Mommy Mertua yang begitu dia sayangi.
__ADS_1
"Nona, Nyonya besar melarang Nona untuk masuk kedalam dapur," ujar seorang Nupu melarang Kaili untuk membantu mereka.
"Mari Nona, saya antarkan ke ruang makan. Nyonya besar akan memarahi kami bila melihat Nona berada di dapur " jelasnya.
"Baiklah," jawab Kaili mengikuti perintah sang Nupu, Kaili tidak ingin mereka dimarahi hanya karena dirinya.
"Ini, Nona. Silahkan di makan sarapannya. Tuan besar, Nyonya besar, Nona Yuki, dan Tuan Lee pasti akan datang sebentar lagi." Ucap Nupu sopan menyajikan makanan untuk Kaili.
"Terima kasih banyak, Nupu. Saya akan menunggu semuanya berkumpul lebih dulu." Jawab Kaili.
"Baiklah, Nona. Kalau begitu saya izin pamit untuk Kemabli ke dapur." Pamitnya sopan.
Tak lama menunggu, terdengar sapaan Nyonya Aeri duduk disamping Kaili.
"Sayang, kenapa makanannya tidak di makan?" Tanya Nyonya Aeri sambil menyiapkan sarapan untuk Suaminya.
"Aku menunggu Mommy dan Daddy," jawab Kaili.
__ADS_1
"Sekarang Mommy dan Daddy sudah berada disini. Sekarang kamu makanlah sarapannya." Titah Nyonya Aeri lembut.
"Baiklah, Mommy. Selamat makan."
"Lee, kau tidak sarapan, Sayang?" Tanya Nyonya Aeri ketika melihat Putranya akan pergi. Lee yang mendengar panggilan sang Mommy langsung menuju sang Mommy dengan terus menggandeng tangan Yuki.
"Mommy, Daddy, dan ... Kaili, aku dan Yuki ada urusan penting yang harus diselesaikan. Kami akan berangkat sekarang juga," Jawab Presdir Lee.
"Apa tidak sempat sarapan dulu, Sayang?" Tanya Nyonya Aeri.
"Tidak, Mommy. Maaf, kami akan sarapan di luar saja." Jawab Lee.
"Baiklah, kalau begitu cium dulu Istrimu sebelum berangkat kerja." Titahnya membuat Yuki memanas seketika.
"Mommy, tidak perlu seperti it—" Bantah Kaili terpotong, kala merasai beda kenyal serta hangat mendarat di keningnya, membuatnya membeku seketika.
"Kami berangkat," pamitnya sambil menarik lengan Yuki terburu-buru.
__ADS_1
"Cie-cie, ada yang pipinya merah nih." Goda Nyonya Aeri membuat Kaili semakin memerah.