Istri Buta Presdir Dingin

Istri Buta Presdir Dingin
IBPD BAB 72


__ADS_3

Huffff ....


Lee menghela napas kala kecewa dengan ucapan sang Istri.


"Oh iya, Sayang. Benarkah yang diberita itu bukan Yuki, tapi adalah Yuka?"


"Benar, Sayang. Dia sendiri yang mengatakannya kepadaku, dia juga mengatakan akan pergi jauh." Jawab Lee kini beralih mengelus pucuk kepala Baby Kannar.


"Ternyata begitu," Kaili mengiyakan, walau ada sedikit kecurigaan di hati kecilnya.


***


Sebulan telah berlalu, tanpa terasa hubungan Kaili dan Lee semakin hari semakin lengket. Ditambah dengan kehadiran Baby Kennar yang membuat kebahagian keduannya semakin tak terhingga.


Malam itu, seperti biasa Kaili menyusui sang Putra hingga tertidur. Lee yang baru kembali dari ruang kerja, perlahan memindahkan Putranya. Begitu selesai, Lee kembali ke ranjang dimana sang Istri terlelap di pinggir kasur.


Lee memperbaiki posisi tidur Kaili, setelahnya dia pun pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hanya perlu waktu 15 menit untuk Lee membersihkan tubuhnya. Kini, dia telah keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


"Dimana Kaili?" Lee panik kala tidak mendapati sang Istri di atas kasur. Bergegas Lee menuju pintu dan segera membukanya, dan Lee begitu terkejut saat menatap wajah pucat Kaili yang berada dihadapannya saat ini.


"Sayang, kamu darimana saja? Dan ada apa dengan wajahmu?" Lee membawa Kaili untuk masuk ke kamar, kemudian menutup perlahan pintu kamarnya. Kaili menatap dalam Suaminya, hal itu sukses membuat Lee semakin khawatir.


"Ada apa, Sayang? Katakan padaku apa yang barusan terjadi?"


"Tidak ada yang terjadi," jawab Kaili masih terus menatap Lee tak biasa.


"Lalu ada apa dengan wajahmu?"


"Apakah kamu akan membenci Putraku bila aku jujur tentang perasaanku?" Lee mengerutkan dahinya, hatinya mulai tidak tenang.


"Apa maksudmu, Sayang? Apa kamu demam?" Telapak tangannya, Lee tempelkan di dahi Kaili untuk memastikan.


"Jangan katakan apa pun, aku mohon jangan katakan apa pun." Kaili membalas pelukan Lee, air mata yang sedari tadi berusaha dia tahan, kini tak lagi dapat dibendung.


"Maafkan aku," ucap Kaili disela-sela tangisannya.


"Aku mohon jangan meminta maaf," Saut Lee semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mencintaimu,"


"Sudah aku katakan, jangan bicara apa pun!" Bentak Lee melepaskan Kaili dari pelukannya kemudian merangkul pundak Kaili dengan kedua tangannya.


"Aku akan membuatmu mencintaiku," Lee ******* kasar bibir Kaili, emosi telah menguasainya. Dan keegoisannya muncul saat itu juga.


"Maafkan aku Lee, aku mohon maafkan aku." Batin Kaili.


Walau Lee memperlakukannya secara kasar, namun Kaili menikmatinya. Bahkan Kaili juga turut andil dengan bersikap agresif dan membalas apa pun yang Lee lakukan padanya, dan malam panjang keduannya lewati tanpa jeda.


"Mungkin malam ini akan menjadi malam terakhir kita," ucap Kaili dalam hatinya.


Keesokkan paginya, Lee terbangun lebih dulu. Rasa bersalah mulai datang menghampirinya kala mengingat bagaiamana dirinya memperlakukan Kaili tadi malam. Sekujur tubuh Kaili yang memerah membuatnya juga membenci dirinya sendiri. Sebegitu takutnya kehilangan hingga Lee tak sadar kembali menyakiti Kaili.


Cintanya salah—karena mencinta dengan menyakiti. Haruskah dia egois dengan membiarkan wanita yang dicintai menderita diatas kebahagiaannya. Apakah dia harus melepaskan wanita yang dia cintai. Agar wanita itu tidak lagi menderita.


Lee menyelimuti Kaili perlahan, adanya pergerakan membuat Kaili terbangun, Kaili mengerjabkan matanya, lalu kembali menatap Lee pilu.


"Kumohon berikan aku kesempatan kedua, aku berjanji tidak akan lagi menyakitimu,"

__ADS_1


"Bagaimana jika kamu mengingkari janji?" Kaili bertanya dengan suara yang begitu pelan, bahkan hampir tak terdengar.


"Aku yang akan pergi ... Selamanya."


__ADS_2