Istri Buta Presdir Dingin

Istri Buta Presdir Dingin
IBPD BAB 62


__ADS_3

"Iya," jawab Kaili cemberut.


"Mungkin semua Ibu hamil mengalami ini." Batin Lee, kemudian berdiri lalu berjalan menuju meja untuk mengambil salah satu makanan yang telah tersaji.


"Kamu tidak usah lihat makanan ini, kamu hanya perlu lihat wajahku yang tampan ini." Pinta Lee lalu Kaili mengangguk sambil tersenyum geli menatap lekat wajah sang Suami. Lee tersenyum membalas tatapan Kaili, lalu mulai mencoba menyuapi. Dan benar saja, Kaili tidak mual apalagi muntah, dia tampak asik mengunyah sambil menatap wajah Lee.


"Apa ini juga disebut bawaan Ibu Hamil. Dia muntah saat melihat makanan apakah karena dia ingin dimanja. Masih misteri, mood Ibu hamil memang misteri yang tidak akan bisa disangkut pautkan dengan logika." Batin Lee heran.


"Suapan terakhir," Kaili menerima suapan terakhir, lalu mengunyah sambil tersenyum.


"Bagaiaman rasanya?" Perlahan lee membersihkan pinggir mulut Kaili dengan jari-jarinya.


"Enak, sangat enak."


"Apa mau nambah?"


"Tidak, sudah cukup," jawab Kaili menggeleng karena dia memang sudah merasa kenyang.


"Baiklah, sekarang istirahat sebentar. Lalu kita mandi bersama." Ucap Lee membuat Kaili menggelengkan kepala menolak keras.


"Aku bisa mandi sendiri," tolak Kaili.


"Baiklah, kamu mandi sendiri." Jawab Lee mengalah. "Sekarang istirahatlah," sambungnya.

__ADS_1


"He-em," jawab Kaili lalu memaksa matanya untuk terpejam.


Lee masih duduk di pinggir kasur sambil mengelus rambut Kaili yang terurai. Dia terus memandang wajah cantik Kaili yang terlihat begitu damai ketika terlelap.


Bibirnya seketika melengkung kala melihat tingkah lucu Kaili yang resah saat tangannya tak lagi mengelus rambutnya.


Kira-kira setengah jam berlalu, barulah Kaili terbangun. Mengusap matanya pelan, lalu tersenyum manis saat pendangan matanya tertuju pada bola mata Lee yang masih betah mengelus rambutnya.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" Lee bertanya, lalu menyingkirkan tangannya dari rambut Kaili dengan sedikit ringisan wajah—kala kram dia rasakan.


"Iya, rasanya sangat lega setelah tidur sebentar."


"Mau mandi, sudah mau malam. Ibu hamil tidak baik mandi larut malam." Ujar Lee.


"Aaakh! Sayang, kamu sudah mengiyakan saat aku bilang akan mandi sendiri." Teriak Kaili saat tubuhnya mengudara.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang. Aku hanya akan membawamu ke dalam kamar mandi. Bukan mandi bersama denganmu." Goda Lee lalu sedikit menendang pintu kamar mandi dengan salah satu kakinya.


Kaili membenamkan wajahnya di dada bidang Lee karena merasa malu dengan jalan pikirannya yang berkelana.


"Sekarang mandilah, hati-hati, jangan sampai terpeleset." Cecar Lee sebelum keluar dari kamar mandi.


20 menit kemudian

__ADS_1


"Sudah selesai?" Sambut Lee.


"Kamu mengagetkanku," saut Kaili.


"Ayo!" Ucap Lee lalu kembali menggendong Kaili perlahan.


"Lee, ayolah, aku hanya hamil bukannya lumpuh." Celoteh Kaili.


"Kapan lagi aku bisa memanjakan Istriku. Dokter Clara bilang, ibu hamil harus selalu bahagia agar janinnya juga bahagia. Aku hanya melakukan saran dari dokter Clara, Sayang." Jawab Lee keukeuh. "Dan satu lagi, mulai sekarang ingtlah untuk memanggilku Sayang, Jangan Lee." Sambungnya lalu mendudukkan Kaili di pinggir ranjang.


"Diam disana dan jangan bergerak. Aku yang akan mengambilkan pakaian untukmu."


"Baiklah, aku hanya akan diam disini." Jawab Kaili patuh.


Tak dapat Kaili cegah, Lee juga ikut membantunya memasang pakaian. Sebenarnya, Kaili juga suka dan merasa sangat bahagia kala mendapatkan perhatian. Namun, dia hanya khawatir bila Lee akan melahapnya ketika melihat bagian sensitif dari tubuhnya. Tapi ternyata dia salah, Lee dapat menahan nafsunya dengan baik.


"Sekarang saatnya makan malam. Aku ingin makan bersama Mommy dan Daddy dibawah. Aku bosan bila terus di kamar. Jadi, bolahkah aku makan dibawah. Sepertinya ini juga keinginan baby-nya, aku yakin tidak akan muntah lagi saat melihat makanan." Kilah Kaili agar dapat keluar dari penjara kamarnya.


"Apa pun untukmu, Sayang." Jawab Lee kembali akan menggendong Kaili.


"Stop! Cukup! Dokter Clara juga berpesan agar aku tetap bergerak ringan. Untuk itu kamu tidak perlu menggendongku." Tolak Kaili dengan alasan yang tepat.


"Baiklah, ayo kita turun." Ajak Lee memeluk pundak Kaili dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


__ADS_2