
"Mommy, itu—bukankah itu Yuki," seru Kaili menunjuk layar televisi.
"Mana, Sayang?"
"Aaaakkhh!" Pekik Kaili tiba-tiba.
"Sayang, astaga! Kamu mau melahirkan?" Tanya Nyonya Aeri panik.
"Mo-Mommy, perutku ... Perutku sakit sekali," ringis Kaili mengaduh kesakitan.
"Astaga, Sayang. Bertahanlah," bujuknya sambil memeluk Kaili erat. "Pengawa!" Nyonya Aeri berteriak, tak lama beberapa pengawal pun muncul.
"Bantu angkat menantuku, dan kalian cepat siapkan mobil!" Titahnya.
Semua pengawal pun bertindak cepat melakukan tugas mereka masing-masing.
Kini keduannya pun sudah berada di dalam mobil, Nyonya Aeri berusaha menenangkan Kaili yang sedari tadi mengaduh kesakitan.
"Sabar ya, Sayang. Melahirkan memang sangat sakit, bertahanlah ya,"
"Mo-Mommy," panggil Aeri dengan suara yang pelan. "Rasanya sudah tidak terlalu sakit lagi. Hanya mulas sedikit." Sambung Kaili.
__ADS_1
"Memang seperti itu, Sayang. Nanti bakal sakit lagi, sekarang kamu atur penapasan kamu ya," jelas Nyonya Aeri sabar.
"Baik Mommy, Huffff ...." Jawab Kaili patuh.
"Bagus, terus atur napasmu. Mommy akan hubungi Lee untuk menyusul," ujarnya kemudian meraba ponselnya dan langsung menghubungi sang Putra.
"Hallo, Mommy, ada apa?" Sapa Lee diseberang sana.
"Lee, sekarang cepatlah ke rumah sakit. Kaili akan melahirkan," seru Nyonya Aeri.
"Aaaaaakh! Mommy sakit!" Pekik Kaili membuat Lee kocar kacir diseberang sana—saking khawatirnya ketika mendengar teriakan sang Istri.
Bahkan semua karyawan yang berada di ruang meeting juga ikut berlarian karena kaget melihat Lee yang berlari lebih dulu.
Lee terus berlari hingga masuk kedalam lift meninggalkan Sekretatis Fade yang tak dapat mengejarnya.
Tiba di lantai dasar, Lee kembali berlari menabrak siapa saja yang menghalanginya.
"Tuan!" Teriak Sekretatis Fade ketika Lee telah tancap gas dengan mobilnya.
Lee seakan melupakan segalanya, dipikirannya saat ini hanya satu, yaitu memeluk dan menciumi sang Istri yang kini telah berada di rumah sakit.
__ADS_1
Bak aktor hebat di film laga, Lee dapat mengendarai mobilnya dengan lancar di jalan raya yang begitu padat, padahal Lee mengendarai dengan kecepatan diatas maksimal. Bahkan Lee juga menerobos lampu merah. Beberapa mobil dan motor polisi mengejarnya, namun mereka mengalah ketika ketinggalan jauh karena tak dapat menyaingi kecepatan mobil mewah milik Lee.
Hanya dalam hitungan menit, Lee telah tiba di rumah sakit. Kembali dia berlari dan meloncati apa pun yang menghalanginya.
"Dimama Istri saya!?" Bentak Lee ketika sampai di ruangan khusus persalinan. Banyaknya ruangan membuatnya bingung hingga mengambil jalan pintas yaitu bertanya pada salah satu suster yang berjaga.
"Tentu saja di ruang VVIP, Tuan. Mari saya antar." Jawab suster itu lalu mengatarkan Lee hingga tiba ke sebuah ruangan paling terpencil sendiri. Disana adalah tempat khusus yang telah lama Nyonya Aeri pesan sebagai persiapan persalinan untuk menantunya tersayang.
"Kaili, Sayang!" Seru Lee.
Lee," saut Kaili yang kini terbaring di atas ranjang.
"Sayang, mana yang sakit?"
"Memangnya kalau ada yang sakit, kamu bisa obati," sanggah Nyonya Aeri.
"Mommy jangan bercanda, bagaimana? Apa kamu sudah melahirkan, Sayang?"
"Apanya yang melahirkan. Kamu tidak lihat perut Kaili masih buncit," kembali Nyonya Aeri tak mengijinkan Kaili untuk menjawab.
"Belum, Sayang. Kata Dokter Clara masih lama, karena baru pembukaan tiga." Jawab Kaili.
__ADS_1
"Benarkah, Sayang? Apa tidak sakit?" Tanya Lee khawatir.
"Sekarang tidak, tapi nan—Aaaakkhh!"