
"Kau tetap disini, jangan keluar dari bathub sebelum izin dariku. Ini adalah hukuman awal untukmu," sangat ringan kata kejam itu keluar dari mulutnya. Lee menutup rapat hati kecilnya yang membantah hati besarnya. Emosi yang ada membuatnya lupa diri, hingga akhirnya, dia lupa cara bagaimana cara mengontrol emosinya.
20 menit berlalu, Kaili sudah tak sangup menahan giginya yang terus saling beradu dengan tempo yang semakin cepat. Memang kini Kaili tak lagi berada di dalam bathub. Tapi, dengan pakaian basah, udara yang dingin. Membuat Kaili bergetar hebat. Meringkuk di lantai super dingin, dengan wajahnya yang begitu pucat pasi.
Memeluk erat lututnya, sambil terus mengatur napasnya yang semakin lama semakin sesak. Perih diperut serta pusing di kepala, semua rasa itu Kaili nikmati saat ini. Tubuhnya begitu dingin terasa akan membeku hingga meresap ke tulang-tulangnya. Hanya air mata yang terus mengalir mampu memberi kehangatan pada pipinya.
"Ibu, Ayah. Hidup begitu tidak bahagia. Apakah di alam sana ada kebahagiaan. Jika disana ada kebahagiaan, tolong jemput aku. Aku tidak sangup, bila harus terus merasakan sakitnya pedang yang tertancap di dada tanpa ada akhir yang melegakan. Banyak orang yang mengatakan kalau bahagia itu sangat sederhana. Apakah mati yang mudah dilakukan juga sebuah kebahagiaan yang sederhana. Jika hidup tidak bahagia, maka biarkan aku menyerah." Batin Kaili lalu kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Kaili begitu kecewa ketika menyadari bahwa dirinya masih berada di dalam kamarnya. Tadinya Kaili berharap akan terbangun dengan berada dalam dekapan Ibunya.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Apa ada yang sakit? Apa kamu sudah makan? Apakah harimu ini menyenangkan?" Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu begitu Kaili rindukan. Pertanyaan yang bahkan tiap hari dilontarkan oleh sang Ibu, membuat Kalimat itu tergambar jelas di ingatannya. Kini, sudah tidak ada satupun orang lagi, yang akan menanyakan hal itu kepada dirinya. Hidupnya benar-benar telah berubah drastis.
"Akhirnya kau sadar juga. Cepat bangun dan buatkan aku kopi, jangan hanya bisa tidur dan makan saja. Lakukan tugasmu sebagai Istriku." Titah Lee yang kini bahkan tidak menolah ke arah Kaili yang masih terlihat pucat dan lemas. Dia tetap saja fokus pada layar monitor dihadapnnya.
Perlahan Kaili berjalan gontai menuju dapur, begitu tiba di dapur, Kaili segera membuatkan kopi hitam yang dipinta sang suami.
__ADS_1
"Ini Kopinya, Tuan." Ujar Kaili menyodorkan sacangkir kopi. Tidak ada balasan membuat Kaili terdiam. Lalu memberanikan diri untuk kembali bertanya. "Tuan, apakah saya boleh makan, untuk malam ini. Saya sangat lapar, Tuan?" Tanya Kaili. Lagi lagi tidak ada balasan membuat Kaili merasa sangat kecewa. "Tuan, saya—"
"Kalau mau makan ya makan! Mengganggu saja!" Bentak Lee membuat Kaili menundukkan wajahnya takut sekaligus senang, setidaknya dia masih diperbolehkan makan. Itu artinya, dia juga masih di izinkan untuk tetap hidup.
Kaili segera menuju dapur, dia benar-benar sudah sangat lapar saat ini. Raut wajah Kaili kecewa seketika kala tidak menemukan makanan apa pun di dapur. Membuka satu persatu lemari. Kaili merasa sangat bahagia ketika menemukan banyak mie instan di sana. Mengambil sebungkus, lalu Kaili bawa untuk dimasak. Hanya butuh waktu lima menit berperang dengan peralatan dapur. Kini, Kaili sudah dapat melahap mie instan yang membuat dirinya serta perutnya bahagia.
"Apakah ini juga bisa disebut bahagia yang sederhan." Ujar Kaili.
__ADS_1