Istri Buta Presdir Dingin

Istri Buta Presdir Dingin
IBPD BAB 52


__ADS_3

"Begaimana Mommy? Apa Kaili sudah bangun?" Tanya Lee pelan sambil menutup pintu.


"Belum Lee, mungkin Kaili sedang beristirahat. Sepertinya dia sangat kelelahan." Jawab Nyonya Aeri. "Kamu jaga Kaili dulu ya, Mommy mau mengambilkan salep untuknya," sambungnya.


"Baiklah, Mommy." Jawab Lee. Dan Nyonya Aeri pun pergi ke kamarnya untuk mengambil salep khusus.


"Kau sudah bangun," ucap Lee senang ketika melihat Kaili sudah membuka matanya.


Kaili melihat sekelilingnya, "kenapa aku belum juga mati?" Tanya Kaili dengan setetes buliran bening lolos dari salah satu sudut matanya.


"Apa yang kau bicarakan. Tentu saja kamu masih hidup, sudah aku katakan kalau aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku." Tegas Lee.


"Aku lebih baik mati daripada disiksa." Jawab Kaili dengan tatapan yang kosong.


"Kaili, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku khilaf, aku mohon maafkan aku." Mohon Lee.


"Apa lagi yang iblis ini rencanakan?" Tanya Kaili dalam hati.

__ADS_1


Kaili tidak menjawab sama sekali. Lee segera mengambil bubur dan akan menyuapi Kaili. Namun Kaili menghindar.


"Aku sudah minta maaf padamu. Aku berjanji setelah ini akan bersikap baik dan lembut padamu." Tutur Lee kembali menyuapi Kaili. Namun Kaili tak sekali pun menggubrisnya.


"Kaili syukurlah kau sudah bangun, Sayang." Sapa Nyonya Aeri senang ketika melihat Kaili yang telah sadarkan diri.


"Iya Mommy, Kaili telah sadar. Tapi dia tidak ingin makan." Saut Lee.


"Yasudah, kamu oleskan salep ini ke inti Kaili pelan-pelan. Biar Mommy yang menyuapi Kaili." Sambung Nyonya Aeri.


"Baiklah, Mommy." Jawab Lee mengalah. Menerima salep itu untuk ia oleskan ke bagian sensitif Kaili yang dia pun sadar bahwa disana membengkak karena ulahnya.


Kaili menatap Nyonya Aeri dalam, seakan mencari kebenaran dan ketulusan di mata keriput itu. Kaili tak dapat membendung air matanya Ketika ketulusan sang Mommy Mertua kembali dia rasakan.


"Kaili Sayang, kenapa kamu menangis? Apa ada yang sakit Sayang?" Tanyanya kahwatir. Kaili menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan. Lalu dia pun menuruti permintaan sang Mommy mertua.


Dibawah sana, hati Presdir berdenyut nyeri ketika melihat hasil dari perbuatannya. Bukan hanya membengkak tapi juga memerah. Perlahan Lee mengoleskan salep itu disana. Kaili memejamkan matanya, menikmati rasa dingin dibawah sana. Sangat nyaman, salep yang Mommy mertuannya berikan begitu manjur.

__ADS_1


"Sekarang kamu makan ya," ucap Nyonya Aeri menyodorkan sesendok bubur ke mulut Kaili. Kaili pun menerimanya dengan senang hati.


"Apakah ini nyata atau hanya ilusi semata." Batin Kaili.


"Bagaimana sayang? Enak bukan," Kaili menjawab dengan mengangguk. Mungkin karena bahagia, hingga dia bisa merasakan manis dari bubur hambar itu.


Setelah mengoleskan salep, Lee sendirilah yang menutup kedua kaki Kaili perlahan.


Tidak butuh waktu lama untuk kaili menghabiskan bubur itu. Suapan terakhir dia terima dengan senyum walau air matanya tidak berhenti mengalir.


"Sudahlah Sayang, kamu jangan nangis lagi ya. Masalah Lee, Biar Mommy yang kasih dia pelajaran. Sekarang kamu istirahat ya." Ucap Nyonya Aeri menyelimuti Kaili lalu akan pergi. Namun, langkahnya terhenti kala Kaili mencegahnya.


"Ada apa Sayang? Apa masih lapar?" Tanya Nyonya Aeri.


Kaili menggeleng lalu mengatakan, "Aku—aku tidak ingin istirahat di kamar ini, Mommy." Jawab Kaili pelan.


Kamar itu menyisakan trauma untuknya, dia tidak akan bisa istirahat nyenyak bila berada di kamar itu.

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaan Kaili, Nyonya Aeri menatap tajam Putranya. Yang menjadi penyebab Menantunya ketakutan.


"Yasudah, kamu akan Mommy pindahin ke kamar sebelah. Tapi tunggu sebentar, Mommy akan minta beberapa Nupu untuk membersihkannya. Lee, tolong jaga Kaili baik-baik. Awas saja kalau kamu menyakitinya lagi!" Ancam Nyonya Aeri.


__ADS_2