
Perjalanan pulang dimulai ketika pesawat mengudara. Tuan Shilin, Nyonya Aeri, Presdir Lee, Kaili, serta Jia Sudah duduk di kursi masing-masing.
Kaili yang merasa sangat lapar, haus, serta lelah—memilih untuk terlelap. Setidaknya, dia bisa melupakan semua rasa itu ketika matanya terpejam.
Byuurr!
"Aaakh! Dingin, Tuan!" Teriak Kaili ketika kini dia telah berada di dalam bathuh berisi air dingin yang mampu membuatnya gemetar hebat.
Kaili akan berdiri untuk keluar dari bathub, namun urung karena Presdir Lee melarangnya.
__ADS_1
"Tuan, disini sangat dingin. Saya mohon biarkan saya keluar." Pinta Kaili memohon.
"Kau akan tetap disini hingga aku selesai mandi." Jawab Lee langsung melepas kemejanya, lalu dilempar ke sembarang arah.
"Apa maksud, Tuan. Saya mohon biarkan saya pergi." Kembali Kaili memohon.
"Kubilang tetap disini, berarti kau tidak boleh pergi! Jangan membantahku atau aku akan menghukummu lebih berat lagi!" Ancam Lee membuat Kaili diam seketika. Takut karena ancaman Lee serta takut ketika tak sengaja melihat benda pribadi milik Lee. "Minggir!" Sambung Lee lalu masuk kedalam bathub. Kini, kedua sejoli itu— berada dalam satu bathub yang sama.
"Apa kau tidak—" Kalimat Lee terpotong ketika terkejut melihat wajah pucat Kaili. "Dasar pembunuh lemah! Baru terkena air saja sudah seperti mayat hidup," bentak Lee.
__ADS_1
"Tuan, saya benar-benar tidak kuat lagi. Tolong biarkan saya pergi, disini sangat dingin. Saya juga belum makan apa pun seharian ini, Tuan." Pinta Kaili dengan suara pelan hampir tak terdengar.
Sedikitpun tidak ada rasa Kasihan di hati Lee. Apalagi ketika dia mengingat bagaimana insiden kematian Yuki. Tampaknya Lee benar-benar telah menutup hati kecilnya.
"Pembunuh sepertimu tidak pantas untuk dikasihani. Kau pantasnya dihukum seberat-beratnya. Bahkan aku tidak rela melihat kau mati secepatnya, kau harus merasakan sedikit lebih banyak penderitaan lebih dulu." Jawab Lee membuat Kaili semakin bersedih.
"Berapa kali lagi saya harus mengatakan, bahwa saya bukanlah seorang pembunuh." Saut Kaili pelan.
"Sampai kau mati menyusul Yuki!" Ucap Lee tersenyum licik. Meendengar kalimat itu, tubuh Kaili memanas. Air mata yang sedari tadi berusaha dia tahan akhirnya tumpah. Haruskah dia di hukum seberat itu untuk menebus kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan sama sekali. Itu sangat tidak adil untuknya bukan.
__ADS_1
Kaili merasa sangat ingin kembali ke masa sewaktu dirinya kecil dulu. Dimana seorang gadis cilik yang hidup tanpa beban. Yang ada hanyalah limpahan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Setelah kepergian sang ibu, satu-persatu kebahagiannya pun menghilang bak pecah di udara. Semua kamalangan silih berganti menghampiri dirinya. Dan disaat itu pula, Kaili kehilangan segala yang dia punya.
Kaili kira dia akan hidup bahagia setelah bisa kembali melihat. Namun sayang, kembalinya penglihatannya malah semakin membuatnya terjebak dalam benang kusut yang bahkan tidak dapat lagi dibenarkan. Hanya pasrah, dan berserah. Kaili berharap dia dapat menyelesaikan ujian hidup dalam takdir yang begitu kejam ini.