
"Sebentar saya ambil kotak p3k." Ujar Gerod sambil mencari-cari kotak p3k yang biasanya selalu tersedia didalam mobil. Hanya saja tempatnya selalu tak menentu.
"Ini, Daddy." Ujar Dewa mengulurkan kotak p3k yang ternyata ada di dibekalakang kemudi.
"Terima kasih, Sayang." Jawabnya cepat.
"Maaf, Nona." Ujar Gerod ramah sambil membersihkan sedikit darah yang menempel di luka Kaili yang membengkak.
Dari jarak dekat, Kaili meneguk salivanya yang tercekat. Napasnya dia tahan karena malu.
Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak sejengkal. Bahkan Kaili dapat mencium aroma Gerod yang menyegarkan.
"Aw!" Ringis Kaili.
"Maaf, Nona." Jawab Gerod lalu menatap mata Kaili. Keduanya saling menatap mata satu sama lain.
Deg deg deg ....
Bahkan mereka bisa mendengat suara detak jantung masing-masing. Kaili kembali meneguk salivanya. Berada sangat dekat dengan lawan jenis membuatnya sangat gerogi. Begitu pun dengan Gerod, Kaili dapat melihat dengan jelas telinganya yang memerah mungkin juga karena malu.
Cekrek!
__ADS_1
Keduanya yang saling manatap, kompak mengalihkan pandangan ke arah belakang. Disana sudah ada Dewa yang nyengir merasa bersalah. Karena diam-diam mengambil gambar. Dari posisi dewa, sudah dipastikan Poto yang dihasilkan akan membuat Kaili dan Gerod seperti saat sedang berciuman.
"Atu hanya mengambil gambar saja," ujar Dewa polos. Gerod dan Kaili pun menyadari posisi intim mereka.
"Biar saya sendiri saja." Ucap Kaili mengambil plester di kotak p3k lalu menempelkan ke keningnya.
Sedangkan Gerod kembali mengemudikan mobil perlahan.
"Nona ada perlu apa di perusahaan Mou Group?" Tanya Gerod kembali membuka suara.
"Sa-saya—" Kaili bingung harus menjawab apa. Apakah dia boleh mengatakan bahwa dia adalah Istri dari Presdir Lee.
"Saya hanya pegawai biasa disana, Tuan." Jawab Kaili berkilah.
Beberapa menit kemudian
"Kita sudah sampai," ucap Gerod.
"Jadi, ini gedung Mou Grup. Pantas saja aku tidak menemukannya. Dia berada sangat jauh dari Mansion," batin Kaili sambil menatap gedung paling megah di kota.
"Kalau begitu saya turun dulu. Terima kasih atas bantuan Tuan Gerod untuk saya." Ucap Kaili.
__ADS_1
"Sama-sama, Nona. Tunggu sebentar Nona," cegah Gerod ketika Kaili akan membuka pintu mobil.
Terburu-buru Gerod segera keluar dari mobil, memutari mobilnya lalu mambuka pintu untuk Kaili.
"Terima kasih banyak, Tuan. Suatu saat pasti saya akan membalas Budi baik, Tuan." Ujar Kaili sambil membungkukkan badanya.
"Saya tulus membantu. Kabaikkan itu adalah perbuatan memberi dan menolong dengan ikhlas tanpa imbalan. Kebaikkan saya bukan hutang yang harus Nona bayar. Berhati-hatilah Nona Kaili, semoga kita bisa bertemu lagi." Tutur Gerod dengan penuh kebijaksanaan.
"Terima kasih banyak, Tuan. Sekali lagi terima kasih. Semoga Tuhan membalas ketulusan hati Tuan." Ucap Kaili lalu segera masuk kedalam gedung Mou Group.
"Bagaimana bila aku meminta imbalan dengan ketulusan hatimu juga. Apakah kau akan membalasnya?" Batin Gerod lalu masuk kedalam mobilnya.
"Lee, dia adalah putra dari Tuan Shilin. Tuan Shilin yang menjadi penyebab kematian orangtuaku juga kakakku Mike. Dan Kaili, gadis itu adalah gadis yang akan mereka tumbalkan." Batin Gerod sambil menatap Putranya yang kini tengah terlelap tidur.
***
"Maaf Nona-Nona, perkenalkan nama saya Kaili. Saya ingin menemui Tuan Lee, kira-kira ruangan Tuan Lee ada dimana?" Tanya Kaili membuat kedua pegawai itu menilik Kaili dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lalu kembali saling menatap.
"Cantik dan tubuhnya juga bagus, pakaian yang dia kenakan juga bermerek. Sepertinya dia wanita bayaran yang dipesan presdir Lee. Kamu saja gih yang antar dia, aku akan menunggu disini." Bisiknya pada seorang temannya.
"Baiklah," jawab pegawai satunya.
__ADS_1
"Mari Nona, saya antarkan." Ajak pegawai berpakaian mini itu. Kaili pun mengekor dibelakangnya masuk kedalam lift.