Istri Buta Presdir Dingin

Istri Buta Presdir Dingin
IBPD BAB 32


__ADS_3

"Kakak, aku takut kak!" Teriak Yeji sambil menangis histeris.


"Ada apa Yeji? Apa yang kamu takutkan?" Tanya Lee sambil menggenggam kedua bahu Adiknya.


"Aku takut! Aku takut!" Teriak Yeji lagi lalu memeluk erat Presdir Lee.


"Tenanglah, Kakak ada disini bersamamu. Tidak akan ada siapa pun yang akan berani menyakitimu." Bujuk Presdir Lee menenangkan Yeji, agar Yeji mengatakan apa yang telah dia lihat sebelumnya.


"Sekarang katakan apa yang kamu lihat?" Tanya Lee ketika tangisan Yeji sudah mulai mereda.


"Di gudang sana, kak." Jawab Yeji sambil menunjuk sebuah gudang yang berjarak empat kamar dari tempat mereka berdiri sekarang.


Presdir Lee yang begitu mengkhawatirkan Kaili, segera berlari menuju gudang yang Yeji tunjukkan.

__ADS_1


Braakk!


Dengan satu tendangan kaki yang kuat, Presdir Lee berhasil membuka paksa pintu gudang yang terkunci.


"Astaga, Yuki!" Teriak Presdir Lee langsung menghampiri Yuki yang tergeletak tak berdaya dengan sebilah pisau panjang tertancap di perutnya. Darah segar mengucur begitu deras seperti air yang mengalir dari keran. Tak hanya dari perutnya, darah segar yang begitu kental juga mengalir dari sudut bibir Yuki.


"Yuki sadarlah, Yuki aku mohon sadarlah! Yuki! Yukiiiii!" Teriak Presdir Lee menggema di gudang itu. Dua tahun hidup bersama Yuki. Membuat Lee begitu sedih kala melihat kondisi Yuki saat ini. Dia akui tidak ada perasaan cinta saat hidup bersama Yuki. Namun, mereka saling membutuhkan. Lee membutuhkan sosok wanita yang bisa menemaninya, dan Yuki membutuhkan sosok pria yang bisa menguntungkannya, demi kelangsungan karirnya agar berjalan lancar. Walau hidup bersama tanpa cinta. Tapi kebutuhan akan sesama, membuat Lee merasa sangat terpuruk bila saja kehilangan wanita yang selama ini selalu menghangatkan ranjangnya.


"Astaga Lee! Apa yang ter—" Teriak Nyonya Aeri lalu pingsan karena terkejut melihat banyaknya darah di lantai gudang itu. Tuan Shilin langsung mengangkat tubuh Istrinya lalu dia bawa ke kamarnya—guna diamankan.


Kebetulan di Villa juga tersedia alat medis yang begitu lengkap bak rumah sakit internasional.


"Lee, cepat bawa Yuki ke ruang UGD yang ada di lantai dua." Titah Tuan Yong membuat Presdir Lee tersadar.

__ADS_1


Presdir Lee segera mengangkat tubuh Yuki. Sebelum pergi, Presdir Lee terlihat melemparkan tatapan tajam kepada Kaili yang kini meringkuk di dinding lantai dengan darah segar juga mengalir dari jemarinya yang terluka—akibat aksi perlindungan diri.


"Kau, kenapa kau melakukan itu?" Tanya Tuan Yong mengintrogasi Kaili yang kini bergetar ketakutan.


"Tidak! Saya tidak membunuhnya. Dia yang ingin membunuh saya. Saya bukan pembunuh, saya bukan pembunuh!" Teriak Kaili dengan air mata yang terus mengalir tiada henti. Wajah, tangan, serta bajunya berlumur darah segar.


"Paman, aku saksinya. Aku melihat sendiri wanita buta itu menancapkan pisau panjang itu ke perut kak Yuki!" Teriak Yeji bersaksi.


"Tidak! Aku tidak membunuhnya, Tuan aku mohon percayalah. Aku buta dan tidak dapat melihat, bagaimana mungkin aku bisa membunuh seseorang. Aku tidak mungkin tega melakukan itu!" Teriak Kaili memberi pembelaan.


"Jangan percaya padanya Paman! Aku saksinya, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku sangat yakin kalau selama ini dia hanya berpura-pura buta. Kita harus mengusirnya, Paman. Dia bukan wanita baik-baik. Setelah Kak Yuki, entah siapa lagi yang akan dia bunuh selanjutnya. Usir dia Paman, kalau perlu kita penjarakan dia sekarang juga." Pungkas Yeji memperbesar api yang telah menyala.


"Saya mohon jangan Tuan. Saya berani bersumpah, saya tidak melakukan semua itu. Saya tidak bersalah," bela Kaili memohon.

__ADS_1


"Pengawal, penjarakan dia di ruang bawah tanah." Titahnya membuat Yeji tersenyum sinis.


"Tuan, saya mohon jangan Tuan. Tuan saya mohon lepaskan saya," mohon Kaili ketika dua orang pengawal menyeretnya paksa.


__ADS_2