
"Baiklah, Ayo Fade." Ajak Nyonya Aeri sambil terus menatap tajam Putrannya.
"Untung saja Mommy tidak melihat hasil karyaku." Ucap Lee lega lalu segera menutup pintu kamarnya. Ingin mengambil minum—dia urungkan sementara waktu.
"Aaakkh!" Ringis Kaili kesakitan sambil memeluk erat perutnya.
"Kaili, Sayang!" Saut Lee kaget dan langsung berlari menuju ranjang dimana Kaili berada. "Kamu kenapa, Sayang." Tanpa sadar panggilan Sayang telah dia sematkan untuk Kaili.
"Perutku," jawab Kaili pelan.
"Kenapa? Tidak mungkin gara-gara aku bukan?" Jawab Lee langsung menyingkap selimut bagian bawah Kaili untuk mengecek disana. "Tidak bengkak, tidak lecet, tidak juga merah, akan masih bisa menahan diri tadi. Bukankah kita bermain lembut," ujar Lee heran.
"Yang sakit bukan dibawah sana. Tapi perutku." Kesal Kaili.
"Baiklah, aku akan memanggil Dokter Ling," jawab Lee segera meyambar ponselnya.
"Untuk apa?" Cegat Kaili.
__ADS_1
"Untuk mengecek keadaan perutmu, dokter Ling ahlinya."
"Aku—aku hanya sangat lapar saja. Bisakah ambilkan aku makanan, aku sangat sulit untuk bergerak. Perutku sakit Karena lapar." Jawab Kaili membuat bola mata Lee seakan keluar.
Tidak disangka setelah melewati proses satu jam yang penuh dengan kelembutan mampu membuat Kaili tidak lagi takut padanya. Bukan hanya itu saja, Kaili juga berubah drastis. Dari seorang gadis malang yang pendiam berbalik menjadi gadis bawal tukang titah. Dan Lee juga merasa sangat aneh dengan dirinya yang mau-mau saja saat diperintahkan hal ini dan hal itu oleh Kaili. Lihatlah bagaimana Lee dengan sabar memijit lembut pinggang Kaili saat ini.
Ya, setelah makan ditengah malam dengan porsi jumbo, sekarang Kaili merengek minta di pijit. Mending langsung minta di pijit dengan baik, ini tidak, Kaili terus mengoceh dan mengomeli Suaminya presdir Lee, Kaili mengatakan dia sakit perut dan pinggang semua karena ulah Lee. Semenjak bersatu dengan tubuh Kaili, Jiwa dan raga Lee juga seakan menyatu dengan Kaili. Bucin, bisa dikatakan begitu sikap hangatnya saat ini. Setelah melewati masa-masa tersulit, barulah Presdir Lee dapat istirahat dan memejamkan matanya.
"Sepertinya kamu memang benar-benar Hamil, Sayang." Gumam Lee lembut sambil mengelus lembut perut datar Kaili.
"Sayang, bangunlah. Mommy pasti menunggu kita dibawah," ucap Lee berusaha membangunkan Kaili yang kini semakin mengeratkan selimutnya.
"Tidak mau sarapan, aku mau tidur saja. Sangat lelah, lelahku ini juga karenamu." Racau Kaili.
"Baiklah, tapi setidaknya pakai pakaian dulu. Kamu bisa masuk angin, atau kamu mau Mommy melihat tubuh polosmu. Aku yakin Mommy sebentar lagi akan kemari." Bujuk Lee.
"Ambilkan," titahnya tetap tak bergeming dari posisi nyaman. Lee menggaruk lehernya yang tak gatal, "Wanita ini, menghancurkan citra dinginku saja," batin Lee. "Ternyata benar wanita hamil menyebalkan," oceh Lee sambil tetap mencari pakaian untuk sang istri.
__ADS_1
"Ini pakaianmu, aku akan—,"
"Pasangkan," potong Kaili ketus.
"A-apa?" Jawab Lee terbata karena hampir tak percaya dengan sikap baru Kaili. "Wanita ini, dia sedang mengejek sikapku atau memang mencerminkan sikap bayiku." Batin Lee lalu tersenyum licik karena baru dia sadari pihak mana yang akan diuntungkan. Perlahan Lee langsung akan menarik selimut Kaili.
"Mau apa!?" Bentaknya langsung berbalik badan.
"Memakaikanmu pakaian," jawabku Lee cepat.
"Siapa yang minta? Memangnya aku anak kecil yang tidak bisa memakai pakaian sendiri. Sekarang kamu pergilah." Ucapnya seenak hati.
Lee tak lagi terkejut, dia sudah merasakan hal yang lebih parah dari ini saat tadi malam.
"Baiklah, aku pergi." Kesal Lee.
Braaaakk!
__ADS_1