
"Mual?" Tanya Lee menoleh ke arah Kaili.
"Em iya, tapi sekarang sudah tidak lagi." Jawab Kaili pelan.
Semuanya terdiam, Tuan Shilin memasang wajah murka ke arah Putranya. Sedangkan Nyonya Aeri berpikir keras tentang keluhan yang Kaili alami.
Dia sudah punya prediksi sendiri. Tapi dia berusaha untuk menjaganya karena tidak ingin mengejutkan menantu kesayangannya.
Nyonya Aeri tersenyum begitu senang, dia langsung berdiri dan melayani menantunya dengan baik. Dan hal itu membuat Yeji semakin tidak menyukai Kaili.
"Lihat saja nanti." Batin Yeji.
Malam harinya
"Dengan obat ini, aku yakin kak Lee akan menikahiku dan menjadi milikku selamanya. Maafkan aku yang harus menggunakan cara ini, kak. Aku sangat mencintai kakak. Aku juga tau kakak pasti sangat mencintaiku. Tapi Mommy selalu menghalangi langkahku untuk bersamamu. Aku tau aku hanya anak angkat dan tidak punya hak apa-apa. Aku juga tidak meminta hal lebih selain dirimu. Hanya kamu yang aku Cintai kak Lee. Setelah malam ini tidak akan ada siapa pun yang akan menghalangi kita untuk bersatu, termasuk Mommy sekali pun." Gumam Yeji yang kini berada di dalam lift membawa sebuah gelas berisi air putih hangat untuk sang kakak.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Kakak Lee, apa kakak sudah tidur?" Tanya Yeji sambil terus mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Dan tampaklah sosok Lee yang terlihat begitu kusut, dengan rambutnya yang acak-acakan.
"Kakak kenapa? Kenapa wajah kakak begitu menyedihkan?" Tanya Yeji panik.
"Tidak apa-apa, kakak baik-baik saja. Kamu ada yang ingin disampaikan kah?" Tanya Lee ketika membuka pintu kamar.
"Masuklah," jawab Lee.
"Terima kasih, Kak." Jawab Yeji kemudian masuk kedalam kamar sang Kakak.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Lee duduk di sofa disebelah Yeji, namun dia memberikan jarak satu meter. Itu sudah biasa dia lakukan semenjak adik angkat kesayangannya telah beranjak dewasa.
__ADS_1
"Sepertinya Kakak sedang sakit. Ini kak, minumlah dulu air hangat ini. Agar kakak sedikit tenang." Ucap Yeji mengulurkan air putih hangat kepada Lee. Minum air hangat sebelum tidur sudah menjadi kebiasaan bagi Lee. Dan Yeji sering melakukan hal seperti ini ketika dia masih remaja dulu.
"Terima kasih," jawab Lee langsung meneguk air putih hangat itu hingga habis tak bersisa. Yeji tersenyum haru karena sebentar lagi rencananya akan segera berhasil. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya Lee mulai memicingkan matanya.
"Aku ingin mengatakan kalau aku mencintai Kakak. Dan aku menginginkan hati dan diri Kakak." Jawab Yeji berdiri lalu melepaskan jubah mandinya, hingga menyisakan lingerie seksi berwarna pink yang kini melekat di tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan, Yeji!?" Bentak Lee.
"Sudah aku katakan aku mencintai Kakak. Aku tau aku tidak pantas untuk Kakak. Tapi aku mohon terimalah aku, kak. Aku sangat mencintai Kakak bahkan saat kita bertemu pertama kali. Aku sangat senang saat Kakak datang ke panti lalu mengajakku bermain bersama. Aku sudah lebih dulu mencintai Kakak, kenapa Kakak tidak pernah menganggapku lebih dari sekedar Adik." Jelas Yeji lalu duduk di pangkuan Lee.
"Minggir! Aku menganggapmu sebagai Adik kandungku sendiri. Dan kau hanya akan menjadi Adikku dan tidak lebih dari itu!" Bentak Lee mendorong Yeji hingga terjerambab ke lantai. Saat ini Lee masih dapat menahan diri. Namun beberapa detik kemudian, rasa panas mulai dirasakannya. "****!" Umpat Lee.
"Aku tidak peduli, Kak. Yang aku tau bahwa aku hanya menginginkanmu. Aku bahkan rela mati demi kamu." Jawab Yeji berdiri lalu memeluk Lee yang kini mulai dikuasai oleh obat.
"Yeji!" Teriak Nyonya Aeri.
__ADS_1