
Kini, Presdir Lee berada didalam sebuah ruangan persegi empat bernuansa putih. Berdiri disamping seorang Dokter lengkap dengan wajah kusutnya. Dokter begitu serius memeriksa keadaan Yuki dengan peralatan medis yang super canggih. Cukup sekali pemeriksaan, dokter itu sudah menggelengkan kepalanya dengan raut wajah kecewa.
Melihat raut wajah sang Dokter, membuat Lee takut hingga akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Dokter, bagaimana keadaan Istri saya?" Tanya Lee pelan karena dia tidak mungkin siap dengan kenyataan yang ada di pikirannya.
"Maaf, Tuan. Istri Tuan telah meninggal dunia." Jawab sang Dokter membuat Lee mengepalkan tangannya erat. Memang tak ada air mata yang menetes. Tapi, wajahnya memerah dengan urat-urat leher yang kejang, dapat mengartikan segelanya.
"Kaili, beraninya kau melakukan ini!" Batin Lee murka.
***
"Tuan, saya mohon lepaskan saya! Saya tidak bersalah!" Teriak Kaili percuma, karena hanya dia sendiri yang berada di dalam penjara besi di sebuah ruangan bawah tanah.
__ADS_1
"Kenapa semuanya jadi begini? Aku tidak melakukan apa pun, aku bukanlah seorang pembunuh. Kenapa tidak ada satupun orang yang percaya kepadaku. Apa yang harus aku lakukan Ya Tuhan. Tidakkah ujian ini terlalu berat untukku." Ucap Kaili meringkuk memeluk tubuhnya erat. Darah segar yang mengalir dari jari-jari tangannya tidak sama sekali Kaili pedulikan. Bahkan rasa perihnya tidak Kaili rasakan sedikit pun. Mungkin kalah saing dengan rasa perih di hatinya. Hujan air mata masih terus berlangsung, hingga membuat hidung lancipnya memerah merona. Matanya membengkak menjadi sipit. Kaili benar-benar berantakan.
Hingga hari berganti, Kaili masih berada di penjara sempit dan kotor itu. Tidak ada siapa pun yang datang untuk menjenguk apalagi memberikan Kaili makanan maupun minuman.
Kaili mengerjabkan matanya perlahan. Kaget! Ya, Kaili begitu kaget ketika membuka mata, tidak lagi ada warna putih pucat yang biasanya Kaili lihat selama dia tahun ini. Kini, hanya warna gelap yang dapat Kaili lihat.
"Apakah mataku semakin memburuk? Ya, itu pasti. Aku sudah tidak mengkonsumsi susu vitamin pemberian Ibu. Sudah pasti kondisi mataku semakin memburuk." Batik Kaili sambil mengusap matanya pelan.
"Aku sangat haus. Apa aku akan mati Kehausan dan kelaparan disini? Hiks, hiks ... Tolong aku ya Tuhan, apa aku tidak akan pernah merasakan yang namanya kebahagian." Tangis Kaili menekan perutnya erat, berharap dapat mengurai rasa laparnya.
"Bagaimana keadaan Yuki? Aku harap dia baik-baik saja. Tapi, luka seperti itu—" Kaili menggeleng kepalanya guna mengusir pikiran buruknya tentang keadaan Yuki.
__ADS_1
Kaili memaksa matanya untuk kembali terpejam agar tidak terus memikirkan hal yang tidak benar. Hanya dengan tidur, Kaili tidak akan merasakan lapar, haus, apalagi sakit.
Cukup lama Kaili tertidur, hingga akhirnya dia kembali terjaga di siang hari—karena saat ini dia sangat ingin ke toilet. Bila perih, lapar, haus, dapat Kaili tahan. Tapi tidak dengan buang air kecil.
Kaili beruntung, karena saat itu ada seorang Nupu yang datang dengan membawakan makanan juga minuman untuknya.
Kaili meraba dinding mencoba untuk beridiri, ketika mendengar seseorang yang tengah membuka gembok penjara.
"Ini makananmu! Cepatlah dimakan!" Titah Nupu dengan wajah sangar.
"Saya ingin buang air kecil. Saya mohon izinkan saya keluar dari sini." Ucap Kaili memohon dihadapan Nupu yang kini melipat kedua tangannya di dada
__ADS_1