
"Kemana bajingan itu? Dia menyuruhku untuk ikut dengannya ke perusahaan. Tapi, dia malah menghilang entah kemana." Oceh Kaili.
"Selamat pagi, Nona." Sapa seorang pria muda berseragam seperti Sopir. "Nona diminta Tuan Lee untuk pergi ke perusahaannya sekarang juga." Sambungnya lagi.
"Baiklah, apa bapak akan mengantarkan saya?" Tanya Kaili berharap.
"Maaf, Nona. Tuan muda meminta Nona ke perusahaannya seorang diri. Dan satu lagi, Tuan juga meminta Nona untuk berjalan kaki. Ini alamat perusahaannya." Jelas sang Sopir memberikan selembar kertas kepada Kaili. Kaili menyambut kertas berisi alamat itu sambil menghela napas panjang.
"Semangat Kaili. Tuhan belum menginkanmu untuk mati. Jadi, kamu harus berusaha untuk tetap hidup. Setidaknya selagi kau mampu bertahan." Batin Kaili menyemangati dirinya sendiri.
Dengan penuh semangat Kaili berjalan keluar dari pagar beton Mansion Mou.
Tiba di jalan raya, Kaili tampak kebingungan harus pergi kearah mana.
Tidak bisa melihat selama dua tahun, membuat Kaili melupakan setiap daerah. Apalagi banyak gedung-gedung baru yang menjulang tinggi, semuanya tampak berbeda.
Matahari sudah tepat diatas kepala. Kaili menepis keringatnya yang terus bercucuran. Perutnya terus dia peluk erat, bukan untuk melindungi kehidupan didalam sana. Melainkan berusaha untuk menenangkan teriakan yang semakin lama semakin kencang.
__ADS_1
Menyadari bahwa dirinya tersesat. Kaili memilih beristirahat di sebuah taman kecil pinggir jalan. Tenaganya benar-benar telah habis, apalagi dirinya belum makan dari tadi pagi. Perutnya terus berteriak minta diisi, ditambah lagi dengan tenggorakan yang terasa begitu kering.
Meraba lehernya, lalu meneguk salivanya—berharap rasa haus itu teredakan. Namun zonk, Karena tenggorokannya masih tetap saja terasa kering.
"Aku tidak tahan lagi. Aku sangat haus dan lapar." Ujar Kaili dengan wajah pucatnya.
"Ibu!" Teriak seorang anak lelaki yang kaili kenali suaranya.
"De-dewa," saut Kaili yang begitu hafal dengan suara anak kecil itu.
"Ibu, tenapa Ibu dudut disini. Ayo tita masut te ruangan Daddy-tu saja." Ajaknya sambil menarik-narik lengan Kaili.
"Dewa!" Teriak Sorang pria bule yang berlari menuju ke tempat Kaili dan Putranya Dewa.
"Tidat, Daddy. Dia memang Ibutu." Dewa langsung memeluk erat Kaili ketika melihat Daddy-nya.
"Tu-tuan," ucap Kaili begitu terpesona dengan ketampanan pria bule dihadapnnya.
__ADS_1
Kaili begitu terkejut dengan Gerod yang ternyata begitu muda dan tampan. Selama ini dia mengira kalau Gored adalah bapak-bapak yang sudah berumur. Namun, siapa sangka, Gerod adalah seorang pria bule bermata biru, berewok tipis di dagu hingga ke tangan dan kakinya, jangan tanya bagaimana dada dan tempat lainnya. hidungnya mancung lancip di ujung, bibirnya tipis berwarna merah seperti tomat, rambutnya pirang tertata rapi. Ditambah lagi tubuh atletisnya, Kaili menggelengkan kepalanya kala melihat pria bule itu sudah ada tepat dihadapannya.
"Tuan Masimo," sapa Kaili reflek.
"Masimo? Nama Saya Gerod, Nona. Sepertinya Nona sudah bisa melihat sekarang?" Saut Gerod tersenyum begitu menggoda.
"Ah maaf, saya hanya reflek tadi." Jawab Kaili tersenyum malu.
"Wajah Nona sangat pucat. Apa Nona baik-baik saja?" Tanya Gored terlihat begitu perhatian.
"Emm, saya baik-baik saja, Tuan."
"Bohong! Dewa mendengar suara di perut Ibu." Kaili langsung menutup mulut Dewa. Namun sayang, karena Gerod telah mendengarnya.
"Kebetulan sekali saya dan Putra saya akan pergi mencari makan siang diluar. Kalau Nona tidak keberatan, bisakah Nona ikut dengan kami. Karena saya yakin Dewa tidak akan mau makan bila Nona tidak ikut bersama." Tawar Gerod.
"Ayo Ibu. Ayo tita matan bersama. Atu tangen Ibu. Apa Ibu tidat tangen atu? Tanya Dewa dengan mata berbinar membuat Kaili tidak tega untuk menolak. Apalagi dia memang sangat lapar saat ini. Kedua hal itu, akhirnya membawa Kaili ikut pergi ke sebuah restoran ternama di kota itu.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan Lee. Saya tau Tuan pasti akan menghukum saya karena terlambat. Tapi, biarkan saya makan lebih dulu—agar punya tenaga untuk menjalani hukuman darimu nantinya Tuan." Batin Kaili ketika ditarik oleh Dewa untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.