
"Apa!" Teriak Kaili langsung menoleh ke arah Presdir Lee yang kini semakin kasar membuka kancing piyamanya. Ketika Presdir Lee bangkit, Kaili kocar-kacir menuju pintu untuk pergi menjauhi Suaminya sendiri.
"Nona, Nona mau kemana!?" Teriak Sekretaris Fade menahan Kaili yang ingin melarikan diri.
"Lepaskan saya! Saya tidak mau, tolong lepaskan!" Teriak Kaili terus berontak.
"Nona, Nona adalah Istri sah Tuan. Bagaimana pun Nona yang harus menyelamatkan Tuan." Tutur Sekretatis Fade terus berusaha menahan Kaili.
"Tidak! Saya takut, saya mohon lepaskan saya!" Kembali Kaili berteriak. Terjadi adegan tarik menarik antara keduannya.
Sekretaris Fade begitu terkejut dengan Tuannya yang kini telah berdiri dibelakangnya dan bersiap akan memeluknya.
"Tuan jangan! Kita sama-sama pisang!" Teriak Sekretatis Fade. "Nona saya mohon, kalau Nona tidak mau maka Nona yang harus menanggung dosa saya dan dosa Tuan." Mohon Sekretatis Fade yang kini telah dipeluk dari belakang oleh Tuan Lee.
"Tidak, saya takut!" Jawab Kaili berusaha melepaskan tangan Sekretaris Fade yang semakin erat menggenggamnya.
"Tuan jangan saya Tuan. Nona saja Tuan, saya belum pernah pacaran sama sekali. Apa Tuan tega melakuakan itu kepada saya. Nona saja Tuan, saya mohon." Pinta Sekretatis Fade berusaha menghindar ketika prsdir Lee ingin menciumnya.
"Tidak jangan saya! Saya juga masih sakit!" Jawab Kaili berteriak.
"Aaaakkhh! Teriak Kaili ketika tangannya ditarik begitu kuat oleh Sekretaris Fade. Beruntung Sekretatis Fade dapat lepas dari pelukan Tuannya. Dan saat itu terjadi, sekuat tenaga dia menarik lengan Kaili, lalu melempar paksa Kaili kepelukan Tuannya.
"Tidaaaaak!" Teriak Kaili yang kini telah berada didalam pelukan Suaminya sendiri.
"Maaf Nona. Daripada saya dengan Tuan. Bukankah lebih baik Nona dengan Tuan. Tapi Nona tenang saja, saya akan menunggu di luar. Bila terjadi sesuatu, Nona berteriak saja. Nanti saya akan masuk dan membantu Nona." Jawab Sekretaris Fade berlari keluar kamar dan segera mengunci kamar dari luar.
Diluar kamar
"Fade, bagaimana dengan Lee? Apa kau sudah memberikannya kepada Kaili?" Tanya Nyonya Aeri yang baru datang.
"Sudah Nyonya, sebaiknya kita segera pergi dari sini," ajak Sekretaris Fade.
"Pergi? Aku tidak akan pergi. Bagaimana bila terjadi sesuatu pada Kaili. Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Dan apa kau tau aku sampai harus dibawa ke rumah sakit." Tolak Nyonya Aeri.
__ADS_1
"Ta-tapi Nyonya—"
"Sudah diam saja, kita tunggu saja disini. Kalau terjadi sesuatu kepada Kaili, kau yang dobrak pintunya." Potong Nyonya Aeri keukeuh. Sekretaris Fade patuh dan mengikuti keinginan Nyonya-Nya untuk tetap menunggu di depan kamar Kaili.
15 menit kemudian
"Kau mau kemana?" Tanya Nyonya Aeri ketika melihat Sekretatis Fade yang siap mengambil ancang-ancang akan mendobrak pintu kamar.
"Nona sudah berteriak, Nyonya." Jawabnya polos.
"Bukan teriakkan yang seperti itu." Jawab Nyonya Aeri menghentikan Sekretaris Fade.
"Lalu yang seperti apa lagi Nyonya. Tuh, Nyonya dengar saja kalau tidak percaya. Kan, Nona Kaili berteriak semakin kencang Nyonya. Kita harus menolongnya." Saut Sekretaris Fade.
"Astaga! Kenapa kau begitu bodoh. Makanya pacaran jangan jomlo terus." Kesal Nyonya Aeri.
"Memang apa hubungannya Teriakkan dengan saya yang jomlo," jawab Sekretaris Fade yang selama ini memang belum pernah berpacaran sama sekali. Kesibukannya sebagai Sekretaris seorang presdir. Menyita banyak waktu, hingga dia tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang.
"Agar kau bisa membedakan yang mana jeritan kesakitan dan yang mana jeritan kenikmatan." Jawab Nyonya Aeri.
"Sudahlah, kau tidak akan paham. sepertinya kau pria belok." Gumam Nyonya Aeri.
"Belok? Saya masih pria normal Nyonya. Hanya saja memang saya tidak punya waktu untuk berurusan dengan wanita." Jawab Sekretaris Fade pelan.
30 menit kemudian
"Tutup saja telingamu," titah Nyonya Aeri kepada Sekretaris Fade.
45 menit kemudian
"Nyonya berapa lama lagi kita harus menunggu. Besok saya harus menggantikan Tuan untuk menghadari meeting." Ujar Sekretaris Fade.
"Tunggulah beberapa menit lagi."
__ADS_1
1 jam kemudian
Kriet!
Pintu kamar Kaili terbuka dengan sendirinya.
"Lee!"
"Mommy! Sekretaris Fade!
Teriak keduannya bersamaan.
"Akhirnya selesai juga," ucap Sekretaris Fade lega.
"Lee, bagaimana keadaan Kaili?" Tanya Nyonya Aeri heboh serta khawatir.
"Em ... Kaili baik-baik saja, Mommy." Jawab presdir lee dengan pipi merona.
"Benarkah, Mommy ingin cek keadaannya," saut Nyonya Aeri akan masuk kedalam kamar.
"Ja-jangan Mommy. Dia sedang tidur." Cegat Lee.
"Tidur atau pingsan?" Tanya Nyonya Aeri tak percaya.
"Istirahat Mommy, aku tidak mungkin melakukan kesalahan kedua kalinya." Jawab Lee.
"Benarkah?"
"Iya, Mommy. Aku bersumpah." Jawab Lee jujur.
"Baiklah, kali ini Mommy percaya kepadamu. Tapi awas saja kalau sampai terjadi apa-apa kepada Kaili." Ancamnya.
"Mommy tenang saja, aku tidak mungkin melakukan itu lagi," tegas Lee.
__ADS_1
"Baiklah, Ayo Fade." Ajak Nyonya Aeri sambil terus menatap mata Putrannya.