
"Mau apa kamu!?" Tanya Presdir Lee membentak.
"Tidur, Tuan." Jawab Kaili.
"Di lantai," sautnya masih fokus pada diagram-diagram pada layar monitor.
"La-lantai?" Sambung Kaili tak percaya.
"Iya, kau tidur di lantai. Jangan kira setelah aku mengizinkanmu makan, dan kau bisa enak-enakkan hidup tanpa beban dan melupakan semua kesalahanmu. Dipenjara juga tidur di lantai bukan? Jadi, tempat yang cocok untukmu adalah di lantai." Lee menutup laptopnya, lalu berdiri menghampiri Kaili.
"Baik, Tuan. Saya akan tidur di lantai malam ini." Jawab Kaili menjauh dari tubuh Presdir Lee, yang kini ada di hadapannya.
Tanpa bantal ataupun selimut, Kaili segera berbaring di lantai dingin kamar. Dingin memang, apalagi hembusan AC yang terus menghampirinya tanpa henti. Namun, karena lelahnya, akhirnya mampu membuatnya terlelap.
__ADS_1
"Aku akan menerima apa pun hukuman darinya. Tidak lagi ada cara lain selain patuh." Batin Kaili. Semenjak pulang dari pulau pribadi keluarga Mou, Kaili sadar sebesar apa kekuasaan keluarga Mou. Kematian Yuki yang notabe-nya adalah seorang publik figur dapat mereka atasi. Apalagi kematiannya, siapa yang akan bertanya bila saja suatu saat dia menghilang. Sudah dipastikan kasusya akan hilang bak ditelan bumi.
Sedikit rasa kasihan, Lee tutupi dengan segudang rasa benci. Hingga tidak tersisa sedikit pun rasa empati untuk Kaili. Tidak peduli, dia segera naik keatas ranjangnya. Menarik selimut hingga terlelap sangat nyenyak.
Keesokan paginya
"Hei, Bangun." Ucap Lee sambil menyenggol bahu Kaili dengan kakinya.
"Ada apa ada apa. Apa tugasmu di rumah ini hanya makan lalu tidur seharian. Cepat bangun, ikut aku ke perusahaan." Titah Lee. "Mau kemana?" Langkah Kaili terhenti ketika kerah bajunya ditarik oleh Presdir Lee.
"Bukankah Tuan menyuruh saya untuk mandi." Jawab Kaili cepat.
"Kau memang tidak pantas menjadi Istriku. Ambillkan pakaianku dulu, setelah itu baru kau boleh mandi." Saut Lee.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan." Jawab Kaili patuh.
Secepat mungkin Kaili mengambilkan Pakaian kerja untuk Lee. Awalnya Kaili tampak bingung memilih warna dan corak. Hingga akhirnya, pilihannya jatuh kepada kemeja putih dengan jas abu-abu dan celana senada. Tak lupa sebuah dasi putih bercorak hitam. Tidak punya banyak waktu, Kaili langsung mengambil dalaman yang juga berwarna senada. Begitu mendapatkannya semuanya, segera dia berikan kepada Presdir Lee.
"Seleranya lumayan juga." Batin Lee ketika menerima pakaiannya.
Selesai membersihkan diri, Kaili segera keluar dari kamar mandi. Dia merasa sangat lega kala tidak lagi melihat presdir Lee disana. Tidak ingin lama berpikir, Kaili meraih sebuah dress selutut yang mengembang dibagian bawah. Gaun cantik berwarna hitam, membuat Kaili tampil dewasa dengan wajah yang imut. Rambut yang masih lembab terpaksa digerai. Wajah polos tanpa polesan make up. Meski no make up, tapi kecantikannya masih tetap terpancar alami.
Beres dengan segala urusannya, Kaili segera keluar tanpa membawa tas, karena memang tidak ada alat apa pun yang harus dia bawa.
Kaili menundukkan wajahnya ketika melewati Nyonya Aeri, Tuan Shilin, dan Jia yang kini tengah menikmati sarapan mereka di ruang makan.
"Aku harus mencari uang sendiri,setidaknya agar aku bisa makan. Mereka semua pasti sangat membenciku. Mereka membiarkan aku tinggal dirumahnya, hanya untuk disiksa. Jadi, mana mungkin mereka akan peduli bila aku kelaparan." Batin Kaili terus berjalan hingga tiba di pintu utama.
__ADS_1