
"Sekarang tidak, tapi nan—Aaaakkhh!" Teriak Kaili ketika rasa sakit kembali datang menghampirinya.
"Sayang ... Mommy," panggil Lee dengan wajah yang begitu ketakutan.
"Tidak apa-apa, cukup beri kekuatan pada Kaili. Melahirkan memang sakit," jelas Nyonya Aeri ikut mengelus pucuk kepala Kaili.
"Dokter Clara, kenapa diam saja. Istriku kesakitan, lakukan sesuatu!" Bentaknya.
"Sa-sayang, sabarlah," jawab Kaili ditengah-tengah rasa sakitnya.
"Tuan, memang seperti ini melahirkan. Semua calon Ibu di dunia ini juga mengalaminya. Sebentar lagi ya, tahan sebentar lagi, Saya yakin Nona Aeri pasti bisa." Jelas Dokter Clara.
"Tapi—"
__ADS_1
"Lee, kamu harus menenangkan Kaili. Bukan Kaili yang menenangkan Kamu." Tegas Nyonya Aeri.
"Eemhm, sakit sekali," keluh Kaili dengan keringat yang membanjir wajahnya. Lee segera mengeluarkan sapu tangannya dan Langung mengelapi keringat sang Istri. Sekarang Lee mulai tenang, dia sudah bisa fokus pada Kaili. Memberi tangannya untuk Kaili genggam dan tak lupa mengabsen wajah Kaili dengan kecupan. Ucapan cinta, tak berhenti dia tuturkan sepanjang rasa sakit yang Kaili rasakan. Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya Kaili telah siap untuk melahirkan.
Air mata Kaili terus berderai disetiap jeritannya ketika mengejan. Lee benar-benar terharu dengan perjuangan sang Istri. Hatinya begitu perih saat melihat bagaimana perjuangan Kaili untuk melahirkan buah hatinya. Adegan itu dia rekam diingatannya, Lee juga berjanji dalam hatinya untuk tidak akan menyakiti Kaili lagi, hanya kebahagiaan yang akan dia berikan kepada Kaili, wanita yang paling dicintainya saat ini, nanti, dan selamanya.
"Aku berjanji, Kaili. Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti hatimu lagi. Apa pun akan aku berikan untukmu asalkan kamu bahagia. Sungguh, aku sangat mencintaimu—melebihi diriku sendiri." Janji Presdir Lee dalam hatinya.
"Ayo sekali lagi Nona. Tarik napas dari hidung keluarkan dari mulut. Ayo Nona dorong lagi."
"Sayang, kamu pasti bisa Sayang. Demi Putra kita." Ucap Lee memberi semangat. Mendengar kata Putra barulah Kaili kembali bersemangat.
"Dokter sakit," ringis Kaili ketika dokter Clara memperbesar jalan keluar.
__ADS_1
Lee sampai bergidik ngilu ketika mendengar suara sesuatu yang dokter Clara gunting. Lee tampak ingin protes, tapi dia urungkan karena memberi semangat pada Kaili adalah prioritas utamanya. Mengenai apa yang Dokter Clara gunting, dia pasrah—karena sadar siapa Dokter Clara. Apa pun yang dokter Clara lakukan, Lee yakin itu adalah yang terbaik.
Sekali lagi, Kaili mengambil napas dalam, lalu mengejan dengan seluruh kekuatan terakhirnya. Hingga akhirnya suara tangisan bayi memenuhi ruangan persalinan, membuat Lee kembali memberikan kecupan kebahagiaan di sekujur wajah Kaili.
Dokter Clara langsung memberikan Lee junior kepada Kaili. Kaili menyambut baby-nya dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, rasa sakit seakan tak lagi dia rasakan. Sementara Nyonya Aeri yang berada diluar langsung memeluk erat Suaminya ketika mendengar suara tangisan cucu pertamanya. Rasa syukur yang tak terhingga mereka haturkan bersamaan.
Beberapa menit pasca melahirkan
"Ayo, sekarang Nona Kaili susui baby-nya."
"Baik, Dokter Clara," jawab Kaili. Walau agak sulit baginya. Namun akhirnya Kaili dapat menyusui Putranya dengan senyuman bangga tak lepas dari bibirnya. Selain melahirkan, menyusui juga hal yang membuat seluruh Ibu di dunia merasakan bangga yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, hal itu juga terjadi kepada Kaili.
Sementara Lee, masih asik menyeka keringat Kaili, merapikan rambut sang Istri dengan segala kelembutannya.
__ADS_1
"Sayang, kita namai siapa Putra pertama kita?"
"Kennar Mou. Bagaiaman, Sayang?"