
Seiring perjalanan menuju kamar Kaili. Lee tampak berpikir keras, dia heran akan perubahan sikap Yuki semenjak pulang dari Paris.
Ceklek!
Perlahan Lee membuka pintu kamar Kaili, Kaili yang tengah mengganti pakaian—begitu terkejut akan kehadiran Lee. Tergesa-gesa Kaili memasang gaun tidurnya cepat. Namun, Kaili terlihat kesulitan saat akan menarik resleting yang berada di belakang punggungnya.
"Aku bisa membantumu bila kamu mengizinkan," tawar Lee.
"Em, baiklah." Jawab Kaili langsung membalikkan tubuhnya.
"Mulus," gumam Lee hampir tak terdengar.
"Apa?" Tanya Kaili.
"Bukan apa-apa." Jawab Lee. Lalu perlahan menarik resleting baju Kaili keatas.
"Aku menginginkannya, aku benar-benar tidak bisa mengontrol hasratku saat bersamanya. Rasa penasaran ini akan semakin besar bila aku tidak melepasnya. Hanya sekali saja, aku yakin tidak akan membuatnya hamil. Lagipula statusnya adalah Istriku. Tidak salah bila aku menyicipnya sekali saja agar aku tidak lagi membayangkan bahkan memikirkan tubuhnya setiap saat." Batin Lee.
"Apa sudah selesai?" Tanya Kaili.
__ADS_1
"Iya, sudah selesai." Jawab Lee kecewa.
"Terima kasih," jawab Kaili tulus. "Aku akan istirahat sekarang." Sambung Kaili berbalik menuju ranjang.
"Kaili, tunggu," cegat Lee.
"Ada apa?"
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Lee cepat.
"Be-belum," bohong Kaili menepis lengan Lee bergerak cepat menuju ranjang.
"A-aku ti-tidak berbohong," jawab Kaili terbata.
"Aku ini Suami sah-mu, dan aku berhak mendapatkannya!" Volume suara Lee semakin meninggi.
"Tapi kamu tidak mencintaiku," jawab Kaili pelan.
"Aku adalah Suamimu dan kau adalah Istriku. Itu lebih penting dari pada kehadiran cinta!" Seru Lee. Langsung mengukung tubuh Kaili.
__ADS_1
Kaili hampir tidak percaya ucapan seperti itu bisa lolos dari mulut Suaminya. Apa semua lelaki di dunia ini seegois itu? Mereka tidak perlu kehadiran cinta untuk melakukannya. Apakah mereka hanya selalu menggunakan napsu bukannya cinta. Kaili tak habis pikir, karena bagaimana pun, Kaili ingin merelakan mahkotanya untuk pria yang tulus mencintainya. Bukan pria yang hanya tergoda dengan keelokan paras dan tubuhnya.
"Apa memang seperti ini takdir yang harus aku lalu. Tidak bisakah aku merubahnya sendiri. Ya, aku harus melaluinya. Bukankah jodoh adalah takdir kubro yang tidak bisa diubah oleh diriku. Baiklah, aku menerima takdirmu ini Ya Tuhan, walau sulit untukku ikhlaskan." Batin Kaili dengan setetes air mata dari kedua sudut matanya.
"Ambillah, ambil apa pun yang kau inginkan." Jawab Kaili pasrah, buliran bening mengalir deras tanpa bisa dia tahan.
"Kenapa tidak dari tadi, buang-buang waktuku saja." Ujar Lee langsung mencium kasar bibir ranum Kaili.
"Bisakah pelan-pelan," pinta Kaili memohon.
"Tidak bisa karena kau terlalu bertele-tele. Kau seharusnya bersyukur karena aku mau menafkahi batinmu, selain aku, siapa yang mau menyentuh gadis buta sepertimu." Jawab Lee dengan napas tersengal-sengal seperti dikejar hantu.
Mendengar ucapan Lee, hati Kaili terasa perih bagaikan di sayat-sayat sembilu. Perlakuan kasar Lee padanya membuat rasa benci timbul di hatinya.
"Aku mohon, berhenti mengataiku gadis buta. Itu menyakiti hatiku." Ujar Kaili yang tak lagi dapat menahan luka didalam hatinya.
Bersambung ....
Jangan lupa Like, komen, vote, dan hadiah. Terima. kasih 🙏😍😘😘
__ADS_1