Istri Buta Presdir Dingin

Istri Buta Presdir Dingin
IBPD BAB 41


__ADS_3

Kini, Kaili duduk disamping Dewa. Anak kecil itu terlihat bahagia duduk ditengah-tengah, mungkin dia merasa punya keluarga yang lengkap saat ini. Tak lama kemudian, beberapa pegawai restoran mnghidangkan makanan yang seketika memecah Saliva kaili.


"Ibu, bolehtah Dewa minta disuaptan oleh Ibu?" Tanya Dewa kembali memarkan matanya yang berbinar. Siapa yang dapat menolak keinginan anak lelaki tampan yang kini begitu ingin dimanja.


"Sayang, biar Daddy saja yang menyuapimu." Bantah Gerod.


"Tidat, Daddy. Dewa hanya merindutan matan disuapi Ibu. Butan Daddy!" Tolak Dewa tegas.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya tidak keberatan sama sekali menyuapi Dewa yang ganteng ini." Saut Kaili sambil mencubit pipi gembul Dewa.


"Tuh, Ibu saja tidat teberatan. Bilang saja Daddy iri." Sambung Dewa membuat Gerod tersenyum mendengar celotehan sang Putra.


Kaili pun segera menyuapi Dewa, tak lupa diselingi dengan menyuapi dirinya juga. Begitulah seterusnya hingga makanan diatas meja ludes tak bersisa.


"Apa kamu masih lapar, Sayang?" Tanya Kaili lembut.


"Tidat, Ibu. Atu sudah sangat tenyang." Jawab dewa sambil mengelus perutnya yang kini telah membuncit.


"Anak yang manis," puji Kaili.

__ADS_1


"Kamu apa masih lapar?" Tanya Gerod perhatian.


"Saya sudah cukup, Tuan. Terima kasih atas makanannya." Ucap Kaili tulus.


"Sama-sama," jawab Gerod ramah. "Sayang, kamu ajak Tante Kaili menunggu di mobil ya, Daddy akan membayar tagihannya dulu." Bisik Gerod pada Putranya dan Dewa pun segera mengajak Kaili keluar dari restoran menuju mobil yang terparkir.


"Ibu duduk didepan lagi saja bersama Daddy." Titah Dewa.


Kaili mengangguk sambil membukakan pintu bagian belakang, lalu mempersilahkan Dewa untuk masuk. "Baiklah, Ibu mengerti. Sekarang kamu masuk dulu ya,"


"Iya, Ibu. Terima kasih. Saat aku sudah besar nanti, aku berjanji akan membukakan pintu untuk Ibu." Tegas Dewa yakin.


"Biar aku saja yang buka," ujar Gerod dengan napasnya yang terengah-engah. Sepertinya dia berlari dengan terburu-buru hanya demi membuka pintu mobil untuk Kaili.


"Silahkan masuk, Nona Kaili." Tuturnya sopan.


"Harusnya tidak perlu repot-repot, Tuan. Tapi terima kasih banyak." Jawab Kaili tulus.


"Sama-sama," setelah memastikan Kaili telah masuk dengan aman, Gerod pun memutari mobilnya dan masuk kedalam, duduk di kuris kemudi disamping Kaili.

__ADS_1


"Alamat rumah Nona Kaili dimana? saya akan antarkan Nona pulang." Ucap Gerod membuka pembicaraan ketika mobil telah berada di jalan raya.


"Saya belum ingin pulang, Tuan. Saya masih ada pekerjaan, bisakah Tuan antarkan saya ke perusahaan Mou Group saja?" Tanya Kaili berharap.


Ckittt!


"Aw!" Teriak Kaili ketika keningnya terbentur kaca mobil didepannya.


"Daddy! Daddy tenapa Daddy melutai Ibu dan hampir saja melutaitu!" kesal Dewa yang juga hampir terbentur.


"Maaf, sayang. Daddy tidak sengaja. Kamu baik-baik saja bukan?" Tanya Gerod membalikkan badanya lalu memeriksa keadaan Putra kesayangannya.


"Iya, atu bait-bait saja. Tapi bagaimana dengan Ibu?" Tanya Dewa.


"Tenang saja, Saya baik-baik saja." Jawab kaili sambil meringis.


"Nona Kaili saya benar-benar minta maaf. Saya sungguh tidak sengaja." Mohon Gerod sambil memeriksa kening Kaili yang kini membengkak.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya baik-baik saja. Hanya sedikit terbentur." Jawab Kaili berbohong, jelas dia menahan nyeri dari benturan itu.

__ADS_1


__ADS_2