
Cinta mungkin tak bisa kembali, jika Hati telah tersakiti. Tetapi Hati bisa kembali sembuh bila sudah terobati, dan cinta akan kembali tumbuh bersemi di hati.
Siapa bilang 'maaf' berbatas.
Pintu maaf selalu terbuka.
Termasuk untuknya, karena seseorang yang memaafkan adalah orang yang paling kuat. Bagi orang yang kuat, tidak ada kesalahan sebesar apa pun yang tidak bisa dimaafkan. Tuhan saja memaafkankan sebesar apa pun kesalahan umatnya. Dia selalu baik meski kita terkadang melupakannya.
Kaili dapat merasakan kebahagiaan yang amat sangat besar ketika dia telah memaafkan semua kesalahan yang pernah dilakukan sang Suami.
Kebaikan, ketulusan serta perhatian yang Lee berikan, mampu membuat Kaili merasa begitu disayangi.
"Sayang bangun, sayang bangunlah sayang." Ujar Kaili sambil menguncang pelan bahu sang Suami yang kini tengah terlelap sambil memeluknya erat.
"Ada apa Sayang?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku lapar," jawab Kaili cepat.
"Lapar, kamu lapar Sayang," goda Lee sambil mencubit hidung mancung Kaili membuat sang pemilik merona.
"Baiklah, kamu tetap tunggu di tenpat tidur dan jangan kemana-mana. Aku akan ambilkan makanan lalu membawanya kesini." Sambung Lee, Kaili mengagguk mengerti.
__ADS_1
Setelah kepergian Lee. Kaili bangkit dari tempat tidur, menuju jendela untuk melihat hujan lebat yang sedari tadi tak kunjung reda.
Pyaaaarrr!
Sreekkk!
Dengan cepat Kaili menutup tirai jendela ketika kaget dengan suara petir yang menggelegar.
"Petirnya sangat mengerikan," gumamnya langsung kembali ke tempat tidur.
"Sayang," panggil Lee yang telah tiba dengan membawa begitu banyak makanan. Dia bahkan meminta bantuan Nupu karena bawaanya terlalu banyak.
"Kenapa banyak sekali," protes Kaili.
"Aku tidak mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak itu." Kata Kaili.
"Harus bisa, Sayang. Ayo aku temani." Saut Lee langsung mengangkat tubuh Kaili hingga melayang di udara. Tiba di sofa, perlahan Lee menurunkan Kaili.
"Emm!" Desis Kaili menutup rapat mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Lee khawatir.
__ADS_1
"Aku ingin—" Kaili berlari menuju kamar mandi. Lee mengekor dibelakangnya.
Hoek!
Kosong, tidak ada sisa makanan yang Kaili muntahkan karena perutnya belum sempat terisi makanan. Lee berdiri disamping sang Istri, membantu menyingkirkan rambut Kaili dengan sesekali memijit pelan pundaknya.
"Argh, sudah." Ucapnya pelan, Lee langsung menyambut tubuh lemas Kaili, lalu menggendongnya kembali ke tempat tidur.
"Apa sudah lebih baik?" Tanya Lee perhatian sambil mengelus pelan pucuk kepala Kaili. Kaili hanya menjawab dengan anggukan kepala. Muntah menghabiskan banyak energinya hingga untuk berbicara saja dia kesulitan.
"Makan ya, aku siapin, biar ada tenaga." Kaili menggeleng lalu menangis tertahan. Sebenarnya dia juga sangat ingin makan, apalagi perutnya yang kosong juga terasa sangat lapar. Namun apa daya, setiap kali melihat makanan dia merasa sangat mual. Bukan karena wanginya yang tak enak di Indra penciumannya, tapi di a hanya tidak suka melihat makanan itu. Entah kenapa, Kaili sendiri pun bingung.
"Jangan menangis, Sayang," ujar Lee lembut sambil menyeka pelan buliran bening yang merembes dari kedua pelupuk mata Kaili. "Apa makanan-makanan itu tidak sesuai seleramu? Kamu ingin makan apa? Apa pun akan aku berikan." Sambugnya lagi.
"Aku lapar," ringis Kaili pelan.
"Mau makan apa, Sayang?"
"Apa saja, tapi aku tidak suka melihatnya." Jawab Kaili.
"Jadi kamu muntah karena melihat makanan itu, bukan karena wanginya yang mengganggu?"
__ADS_1
"Iya," jawab Kaili cemberut.