
"Bagaimana Clara? Kaili beneran hamil bukan?" Tanya Nyonya Aeri tak sabaran.
"Benar, Nyonya. Nona Kaili hamil. Selamat Nyonya, dan selamat juga Nona Kaili, sebentar lagi Nona akan menjadi seorang Ibu." Jawab Dokter Clara sambil mennggerakan alat yang berada di perut Kaili.
"Itu dia, apa Nyonya dan Nona bisa melihatnya?" Tanya Dokter Clara.
Kaili tak dapat membendung air mata haru kala melihat janinya yang berada di layar monitor. Tak hanya Kaili yang terharu, Nyonya Aeri pun juga tak kalah terharunya.
Braakk!
"Lee!" Teriak Nyonya Aeri kaget dengan kedatangan Putranya.
"Bagaiamana? Bagaimana keadaan Kaili dan Bayiku?" Tanyanya tak sabar, raut wajahnya terlihat begitu khawatir. Melangkah lebar, dia segara berdiri disamping Kaili yang kini terbaring di ranjang rumah sakit.
"A-aku baik-baik saja." Jawab Kaili "Darimana dia tau aku disini? Bayi, dia juga mengkhawatirkan bayiku." Batin Kaili.
"Syukurlah, kenapa tidak memberitahuku bila ingin ke rumah sakit? Aku juga ingin berada di sisimu saat melihat bayi kita." Tuturnya lembut. Kaili kembali menumpahkan air mata kala mendengar perkataan suaminya.
"Kenapa menangis Sayang?" Tanya Lee lembut lalu menyeka air mata dikedua pipi Kaili.
__ADS_1
"Apa kamu tidak marah bila aku hamil? Apa kamu—"
"Ssssttt, kenapa aku harus marah? Dia bayiku, bagaimana mungkin aku membenci darah dagingku sendiri." Potong Lee menempelkan jarinya di bibir ranum Kaili, dan hal itu membuat Kaili semakin terharu.
"Terima kasih," ucap Kaili menatap sang Suami dengan segala rasa syukurnya.
"Sudah-sudah, mesra-mesraannya dilanjutkan nanti di rumah. Sekarang, Kaili harus diperiksa dulu." Cela Nyonya Aeri.
"Heem," Lee berdehem, setelahnya dia menatap layar monitor, senyuman bahagia tak dapat dia tahan kala melihat bagaimana perkembangan calon bayinya.
"Apakah Istri dan Bayiku baik-baik saja, Clara?" Tanya Lee.
"Baik, Tuan Lee, Janin dan Ibunya Sekarang dalam keadaan baik dan sehat. Namun, gejala-gejala awal kehamilan seperti mual, muntah-muntah, perubahan mood yang mendadak, ***** makan yang berubah, dan ngidam pastinya, tentu akan Nona Kaili alami di awal kehamilan. Saya harap Nona Kaili dan juga Tuan Lee dapat menjaga bayi kalian dengan baik. Dan ingat Nona Kaili tidak boleh terlalu lelah, dan harus banyak mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi." Jelas Dokter Clara, kemudian menyudahi pemeriksaannya.
"Tentu saja, tentu saja aku akan menjaga Istri dan calon Bayiku." Jawab Lee melirik Kaili sambil tersenyum.
"Terima kasih Tuhan. Terima kasih karena telah membuatnya tidak membenciku dan bayiku. Terima kasih banyak." Batin Kaili terharu.
***
__ADS_1
"Aku belum mengantuk, aku belum ingin tidur." Imbuh Kaili.
"Baiklah, aku akan menemanimu di kamar." Jawab Lee.
"Ta-tapi—"
"Apa kamu lapar?" Tanya Lee memotong ucapan Kaili.
"Kita baru selesai makan siang." Jawab Kaili, bagaimana mungkin suaminya lupa. Jelas-jelas Lee-lah yang memaksanya untuk makan dua porsi lebih banyak.
"Apa tidak mual? Apa tidak ingin muntah? Kalau kamu ingin muntah akan aku temani ke kamar mandi."
"Hanya sedikit mual karena kebanyakan makan. Tapi tidak ingin muntah." Jawab Kaili jujur.
"Benarkah, apa ada sesuatu yang kamu inginkan? Atau makanan yang kamu idamkan? Atau barang, baju dalan lainnya?" Tanya Lee benar-benar membuat Kaili pusing. Bagaimana mungkin dia kembali menyebutkan makanan, Lihatlah bagaimana Kaili bergidik ngeri ketika memikirkan makanan. Kaili berbeda dengan kebanyakan Ibu hamil lainnya, dia tetap tidak berselera makan seperti biasanya.
"Apa kamu benar tidak ingin apa pun?" Tanya Lee memastikan.
"A-aku hanya i-ingin—"
__ADS_1